almuhtada.org – Apakah diantara kalian menyadari bahwa di dalam Al-Quran, Allah menyebutkan berbagai macam panggilan untuk hambanya. Ada “Wahai orang-orang yang beriman”, orang-prang yang bertakwa, dan banyak lainnya. Lalu apakah diantara panggilan itu memiliki makna yang berbeda-beda atau sebenarnya hanya variasi panggilan?
Ada sebuah hadits yang di dalamnya terdapat kisah dan menceritakan tentang hal yang semacam dengan ini. Hadits yang amat sangat terkenal dan terhimpun dalam hadits arba’in, Dan terkenal dengan sebutan “Hadits Jibril”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khatab, ia menceritakan bahwa pada suatu hari, para sahabat dan Rasul yang sedang duduk santai didatangi seorang laki-laki yang tidak dikenal Penampilan laki-laki itu sangat mencolok, pakaiannya sangat putih bersih, rambutnya sangat hitam pekat, dan tidak terlihat dari wajahnya tanda-tanda kelelahan bekas perjalanan jauh pada dirinya.
Anehnya, para sahabat tak satupun yang mengenali siapa dia. Lelaki asing itu datang lalu berjalan membelah kerumunan, ia pun duduk tepat di hadapan Rasul. Ia menyandarkan lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasul. Posisi ini adalah sebuah posisi duduk yang sangat dekat dan intim, seperti seorang murid yang sangat haus ilmu di depan gurunya.
Lelaki asing itu bertanya tentang islam lalu iman dan ihsan. Dan ternyata ia adalah malaikat Jibril yang sedang mengajarkan bahwa agama ini memiliki tingkatan. Pertanyaan diawali dengan maksud islam yang mana adalah dasar tingkatan, naik satu level namanya iman dan ke level puncaknya adalah ihsan. Ibaratnya dalam dunia Pendidikan, islam adalah sekolah dasar, menengah adalah iman dan SMA sama dengan ihsan.
Muslim adalah tentang kepatuhan secara lahiriah. Seseorang dinilai sebagai Muslim ketika ia berserah diri dengan menjalankan syariat, seperti gerakan salat, menahan lapar saat puasa, atau mengeluarkan harta untuk zakat. Ini adalah level kepatuhan standar yang bisa dilihat oleh mata manusia.
Jika Muslim adalah level satu, maka level selanjutnya disebut sebagai orang-orang yang beriman, yaitu Mukmin. Mukmin adalah orang yang memiliki keyakinan dan kepercayaan dengan Allah, ia secara batin meyakini Allah dan orang yang beriman sudah pasti secara laahir juga mencerminkan hal yang baik, yang Allah ridhoi.
Level paling atas setelah Muslim dan Mukmin adalah Muhsin. Dalam bahasa arab muhsin berasal dari akar kata ‘ahsana-yuhsinu-ihsan’ yang berarti baik. Dalam hadits tadi, ihsan adalah “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau”. Ini menggambarkan kesadaran penuh seorang hamba. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhannya atau merasa selalu diawasi dalam setiap detik ibadahnya.
Maka, dimanakah level kita sekarang? apakah sebatas muslim yang secara lahiriah berserah diri atau mukmin yang yakin dalam hatinya dan ibadahnya atau mungkinkah kita sudah berada di level atas yaitu muhsin, seorang yang beriman dan beribadah dengan penuh kesadaran mencari keridhoan-Nya? Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini]










