Almuhtada.org – Bayangkan kondisi umat Islam pasca hijrah ke Habasyah. Jumlah mereka menyusut tajam, hanya tersisa sekitar tiga lusin laki-laki di Mekkah.
Secara hitung-hitungan politik Arab saat itu, jumlah ini “nggak ada obatnya”, lemah dan mudah dihancurkan. Namun, Allah punya skenario tak terduga yang mengubah total peta psikologis Makkah: masuknya dua raksasa, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab.
Biasanya, tokoh spiritual lahir dari perenungan sunyi. Tapi Hamzah beda, ia masuk Islam lewat pintu amarah.
Pemicunya adalah Abu Jahal yang menghina Nabi habis-habisan di ruang publik. Nabi diam, tetapi wanita Bani Hasyim mendidih. Laporan ini sampai ke telinga Hamzah sepulang berburu. Darah bangsawannya naik. Dalam sistem kabilah Arab, menghina anggota keluarga sama dengan menginjak kepala suku.
Tanpa banyak bicara, Hamzah melabrak Abu Jahal di dekat Ka’bah dan menghantamkan busur panahnya sampai kepala tokoh Quraisy itu berdarah.
Di puncak emosinya, terucaplah kalimat spontan: “Berani-beraninya kau menghina keponakanku, padahal aku pun pengikut agamanya!”
Ucapan itu keluar begitu saja demi membela marwah keluarga.
Malamnya, Hamzah gelisah luar biasa: antara gengsi menarik ucapan atau benar-benar masuk Islam. Ia berdoa minta petunjuk.
Besoknya, setelah mendengar penjelasan Nabi, hatinya mantap. Hamzah, sang senior Quraisy, resmi menjadi Muslim. Ini mengajarkan kita bahwa amarah pada ketidakadilan (seperti muaknya kita melihat genosida hari ini) bisa menjadi cara Allah memberikan hidayah.
Jika Hamzah adalah kejutan, Umar adalah kemustahilan. Ada anekdot di Makkah: “Keledai akan masuk Islam lebih dulu sebelum Umar.” Logika politik zaman itu tak bisa membayangkan Umar yang keras dan benci Islam bisa berubah.
Tapi doa Nabi bekerja di bawah radar. Hati Umar mulai retak saat diam-diam mendengar Nabi membaca Surah Al-Haqqah. Ia sempat takjub, mengira Nabi penyair atau dukun, tapi ayat-ayat itu membantahnya langsung.
Puncaknya dramatis. Umar berjalan dengan pedang terhunus hendak membunuh Nabi demi imbalan Abu Jahal.
Namun, di tengah jalan ia berbelok ke rumah adiknya, Fatimah. Di sana ia mengamuk hingga adiknya berdarah. Tapi melihat keteguhan sang adik dan membaca lembaran Surah Thaha, benteng keras hatinya runtuh seketika.
Umar lantas menuju Darul Arqam. Sahabat lain panik melihat pedangnya, tapi Hamzah siap pasang badan. Pintu dibuka, dan Umar masuk bukan untuk menebas, melainkan untuk menunduk bersyahadat. [] Raffi Wizdaan Albari











