almuhtada.org – Kejahatan siber di era digital kini semakin meluas. Bentuknya tidak lagi terbatas pada spam nomor telepon atau SMS singkat yang biasanya dikirim ke korban.
Saat ini, aksi‑aksi siber semakin masif lewat aplikasi pesan instan, termasuk panggilan WhatsApp dari nomor luar negeri. Modus ini memanfaatkan rasa penasaran korban agar mereka melakukan panggilan balik.
Menurut data resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi.go.id), modus panggilan tak terjawab ini secara internasional dikenal sebagai Wangiri Scam (kata “wangiri” berasal dari Jepang yang berarti “sekali dering, lalu putus”).
Fenomena ini telah tercatat sejak tahun 2000 di Jepang dan mulai banyak muncul di Indonesia sejak 2018. Banyak netizen melaporkan menerima missed call singkat pada dini hari dari nomor internasional yang tidak dikenal.
Kementerian Komunikasi dan Digital RI mengingatkan, bila kita tergoda untuk menelepon balik nomor premium internasional tersebut, kita dapat menanggung kerugian materi yang cukup besar karena tarif panggilan internasional yang sangat tinggi.
Selain beban pulsa atau tagihan telepon, interaksi dengan nomor asing juga meningkatkan risiko penyalahgunaan data pribadi melalui rekayasa sosial (social engineering).
Catatan Validasi Komdigi: Terkait klaim bahwa data ponsel atau daftar kontak dapat disalin otomatis dalam tiga detik hanya dengan mengangkat telepon, pihak Komdigi menegaskan bahwa itu adalah hoaks.
Pencurian data baru mungkin terjadi bila korban mengunduh aplikasi berbahaya (malware) atau memberi kode OTP saat berkomunikasi lebih lanjut dengan penipu.
Berikut cara mengantisipasi risiko tersebut menurut perspektif Islam:
1.Menerapkan Prinsip Tabayyun (Verifikasi Informasi)
Islam menekankan pentingnya memeriksa kebenaran sebelum bertindak.
Saat menerima panggilan dari nomor asing, hindari respons emosional atau rasa penasaran semata.
Lakukan tabayyun digital, misalnya dengan memeriksa kode negara atau melacak nomor lewat aplikasi identifikasi. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِين
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik dengan suatu berita, periksalah kebenarannya agar kalian tidak menjerumuskan suatu kaum karena kebodohan, yang kemudian kalian sesali.” (QS. Al‑Hujurat: 6)
- Menghindari Sikap Tadzir (Sia‑sia) dan Menjaga Harta
Menelepon balik nomor asing yang tidak dikenal semata‐mata karena ingin tahu dapat menghabiskan pulsa secara sia‑sia.
Islam melarang keras membuang‑buang harta (idha‘at al‑maal) untuk hal yang tidak jelas manfaatnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal bagi kalian: bergosip, membuang‑buang harta, dan bertanya berlebihan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Memaksimalkan Fitur Keamanan (Ikhtiar Nyata)
Rasulullah SAW pernah menegaskan pentingnya tindakan preventif demi keamanan: “Ikatlah untamu, baru kemudian bertawakal.” (HR. Tirmidzi).
Secara digital, “mengikat unta” berarti melakukan ikhtiar keamanan. Langkah praktis yang dapat diambil meliputi mengaktifkan fitur “Bisukan Penelepon Tidak Dikenal” (Silence Unknown Callers) pada pengaturan privasi WhatsApp.
Jika nomor tersebut terus mengganggu, blokir dan laporkan segera agar sistem dapat memutuskan akses penipu.
Wangiri Scam memanfaatkan kelalaian serta rasa penasaran manusia. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu waspada, berpikir kritis (tabayyun), dan melakukan ikhtiar terbaik guna melindungi diri serta harta dari kejahatan.
Dengan mengabaikan panggilan mencurigakan dan mengaktifkan pembatasan panggilan di WhatsApp, kita telah menunaikan anjuran agama untuk menutup celah bahaya (Sadd ad‑Dzari‘ah) demi terciptanya ruang digital yang aman dan penuh berkah. {Azizah Fiqriyatul Mujahidah-Angkatan 7-Pesantren Riset Al-Muhtada}











