Hijrah dan Janji Kebaikan: Mengapa Melangkah Pergi Justru Menguatkan Kita

Berikut penjelasan mengenai hijrah merupakan perjalanan hati meninggalkan kegelapan menuju Ilustrasi seorang musafir yang sedang berjalan meninggalkan sebuah kota yang melambangkan hijrah dengan iman yang matang. (Dokumen Pribadi - almuhtada.org)

almuhtada.org – Berikut penjelasan mengenai hijrah, yang merupakan perjalanan hati meninggalkan kegelapan menuju cahaya. Allah Swt. menjanjikan kebaikan bagi siapa pun yang berani untuk melangkah, yuk simak penjelasannya!

Hijrah sebagai Langkah Kecil yang Mengubah Takdir Kita

Hijrah merupakan sebuah perpindahan, bukan hanya dari segi tempat saja, melainkan keadaan hati kita.

Kadang diri kita sering mengira bahwasanya hijrah itu terasa berat. Padahal justru di situlah sebagai pintu kebaikan Allah Swt. dibukakan.

Hukum ketetapan Allah Swt. ini telah berlaku sejak zaman sahabat. Dan begitu pun berlaku pula untuk diri kita hari ini, yaitu siapa yang berhijrah, pasti akan Allah Swt. bukakan kebaikan yang banyak.

Pertama, Membaca Jejak Para Muhajirin sebagai Cermin Langkah Hidup Kita Hari Ini

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hasyr ayat ke-8 yang artinya:

(Harta rampasan itu pula) untuk orang-orang fakir yang berhijrah, yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya dan (meninggalkan) harta bendanya demi mencari karunia dari Allah, keridaan(-Nya), serta (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang benar.

Dari ayat tersebut, ketika kita melihat perjalanan para Muhajirin, bukan hanya sekadar perpindahan secara lahiriyah letak geografis saja, akan tetapi juga perpindahan batin.

Mereka meninggalkan Kota Mekkah dan juga harta bukan karena sebab tidak betah, ataupun bukan karena lelah, akan tetapi karena iman mereka memanggil di dalam hati.

Baca Juga:  Sukses atau Gagal Adalah Pilihan

Oke, mari sekarang kita renungkan dan jawab dalam hati kita masing-masing. Bayangkan apa jadinya jika mereka takut untuk melangkah pergi? kemudian bila mereka lebih memilih kenyamanan di kampung halaman? dan juga bila mereka lebih mencintai rumah daripada surga?

Secara lahiriah, mereka kehilangan kota tercinta, akan tetapi menemukan hidup hatinya yang baru. Kemudian mereka kehilangan harta, akan tetapi mereka menemukan kekayaan iman. Dan juga mereka kehilangan tanah kelahiran, akan tetapi mereka mendapatkan tempat di sisi Allah Swt. sebagai orang-orang yang benar.

Maka dari itu, sejatinya hijrah selalu menuntut diri dan hati kita dengan keberanian untuk meninggalkan apa yang mengikat kita selama ini. Bahkan sebenarnya, ketika kita tahu bahwa langkah pertama hijrah itu akan terasa berat dan susah.

Tetapi berat itulah yang membersihkan hati kita dari berbagai ikatan urusan dunia. Dan sebagaimana seperti mereka, begitupun dengan diri kita akan melihat bagaimana Allah Swt. menyiapkan kebaikan-Nya yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini:

Kedua, Pertolongan Allah Swt. dalam bentuk Kebaikan yang Tidak Kita Minta tetapi Allah Swt. Berikan

Di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Hasyr ayat ke-9 yang artinya:

Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat di atas, Allah Swt. menunjukkan kebaikan pertama yang diberikan kepada para Muhajirin, yaitu hati para Anshar yang dilembutkan untuk mencintai dan juga menolong mereka.

Baca Juga:  Inilah Kebenaran Fir’aun dalam Al-Qur'an yang Harus Kamu Tahu! | Simak Penjelasan Berikut Ini

Bukankah sering diri kita merasakannya sendiri. Ketika kita memulai untuk memperbaiki diri sendiri, entah dari mana datangnya, kadang tiba-tiba muncul orang-orang baik yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Tiba-tiba saja muncul rezeki, berbagai macam kemudahan, kemudian peluang datang silih berganti, bahkan kekuatan iman yang bertambah di hati yang dulu tidak kita miliki.

Itulah bentuk kebaikan-kebaikan kecil yang Allah Swt. berikan kepada kita sebagai hadiah kepada hamba-hamba-Nya yang hatinya bergerak kepada-Nya.

Ketiga, Kebaikan dengan Doa yang Tidak Pernah Putus

Allah Swt. menegaskan di dalam Kitab Al-Quran Surat Al-Hasyr ayat ke-10 yang artinya:

Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut menjelaskan kepada kita semua bahwasanya orang-orang yang berhijrah dan juga berjuang akan terus didoakan oleh generasi setelah mereka.

Hijrah bukan hanya mengubah diri kita hari ini saja, akan tetapi juga mengubah sejarah hidup kita.

Karena ketika kita berhijrah, kita meninggalkan jejak. Dan dari jejak itulah kebaikan selalu melahirkan sebuah doa, bahkan setelah kita tiada dari dunia ini.

Keempat, Bentuk Hijrah Kita Hari Ini

Baca Juga:  Memaafkan: Demi Kebaikan Orang lain dan Kebaikan Diri Sendiri

Hijrah pada masa sekarang ini tidak selalu berarti berpindah kota. Ia bisa berarti kita meninggalkan maksiat untuk kembali kepada ketaatan, kemudian meninggalkan kelalaian menuju kesadaran iman dan juga amal saleh, dan lain sebagainya.

Maka setiap kali hati dan diri kita bergerak menjauhi dosa, kemudian meninggalkan zona nyaman dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt., memilih sesuatu yang benar walaupun itu berat dan sulit, itulah hijrah.

Ketika kita berhijrah, kita harus yakin dan juga percaya bahwa kebaikan Allah Swt. jauh lebih besar daripada ketakutan kita. Kehidupan surga lebih penting daripada dunia, serta iman dan amal saleh lebih utama daripada kenyamanan hidup semata.

Pada akhirnya, hijrah mengajarkan kita arti menjadi seorang hamba Allah Swt. yang tunduk, taat, dan juga percaya kepada-Nya. Semoga Bermanfaat.

Penulis: Alfian Hidayat Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5

Related Posts

Latest Post