Keajaiban Husnudzon kepada Allah: Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

Husnudzon Kepada Allah
Gambar Ilustrasi Husnudzon Kepada Allah (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Halo Sobat! Kalian pasti pernah kan mendapatkan ujian dari Allah? Ketika diberikan ujian seperti kegagalan, kehilangan, rasa sakit, dan lain-lain yang tidak kita sukai, pernahkah terlintas di benak kita pertanyaan, “Kenapa sih Allah memberikan ini kepada kita?” “Mengapa Allah menguji kita?”

Nah ketika sudah muncul pertanyaan itu dari dalam diri kita, maka akan muncul juga keraguan kita terhadap ketentuan Allah SWT.

Lalu sebagai seorang muslim yang beriman, bagaimana cara kita untuk menghadapi hal tersebut? Yuk, simak terus artikel ini, yah!

Dalam Q.S Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ  اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Nah dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa sebagai umat Muslim yang beriman kepada Allah, maka kita wajib menjauhi prasangka buruk dan harus selalu berprasangka baik,  kepada Allah SWT, kepada diri sendiri serta kepada orang lain.

Baca Juga:  Menemukan Kebahagiaan Sejati Menurut Prof Quraish Shihab

Jadi, kuncinya adalah kita harus selalu berhusnudzon kepada Allah dalam situasi apapun.

Allah SWT memberikan ujian kepada hamba-Nya karena Allah tahu bahwa hamba-Nya mampu melewati ujian tersebut. Allah tidak akan membiarkan kita kesulitan seorang diri karena Allah adalah Dzat yang Maha Penolong.

Allah memberikan kita ujian, karena tiga hal yaitu: pertama, untuk meninggikan derajat kita. Kedua, untuk menguatkan iman kita. Ketiga, sebagai pengingat agar kita kembali ke jalan yang benar.

Maka dari itu, berbaik sangkalah kepada Allah SWT, karena segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah kepada kita adalah sesuatu yang pasti terbaik untuk kita.

Rasulullah SAW selalu mengajarkan kepada para sahabatnya agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah SWT. Dari Jabir ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seseorang diantara kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”. (HR. Muslim)

Ada suatu kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkisah, pada suatu hari, datanglah seorang wanita dari Anshor bersama 10 putranya untuk bertemu dengan Rasulullah saw. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, mereka ini anak-anakku. Kupersembahkan seluruhnya untukmu. Ajaklah mereka untuk berjihad dijalan Allah swt.”

Singkatnya, semua anak itu ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan 9 orang diantaranya syahid di jalan Allah Mendengar kabar tersebut kemudian Sang ibu sangat merasa bahagia karena anak-anaknya telah gugur, tetapi Ibu tersebut bersedih karena ternyata anaknya masih ada yang hidup.

Baca Juga:  Long-lasting Relationship is Istidraj, How Come?

Tersisalah satu anak yang masih hidup yaitu anak yang paling bungsu. Tetapi kemudian, anak tersebut selalu berbuat dosa dan hidupnya mulai melenceng.

Hingga suatu hari, si bungsu ini terkena penyakit yang sangat parah. Sang ibu tak kuasa melihatnya, ia begitu kasihan dan sedih melihat anak terakhirnya ini.

Kemudian sang anak bertanya, “Duhai ibuku, semua saudaraku lebih baik dariku tapi ibu tidak menangisi mereka. Tetapi mengapa ibu menangisi putramu yang pendosa ini?”

Sang ibu menjawab, “Karena itulah aku menangis.” Wanita ini  pernah mengkhawatirkan putranya yang mati syahid karena mereka pasti mendapat kenikmatan di sisi Allah, tapi ia begitu mengkhawatirkan putranya yang pendosa ini.

Pada sisa-sisa nafasnya, sang anak berkata, “Duhai ibuku, andai aku berbuat salah atau melanggar hakmu, sementara ditanganmu ada api yang menyala-nyala, apakah kau akan melemparkannya kepadaku?”

“Tidak mungkin wahai anakku.” jawab sang ibu.

“Bukankah kau tahu bahwa yang Menciptakanku lebih penyayang daripada yang melahirkanku?” tanya sang anak, lalu ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Mendengar kisah ini, Rasulullah saw berkata kepada wanita Anshor ini, “Kabar gembira untukmu, sungguh anakmu telah diampuni oleh Allah karena berbaik sangka kepada Tuhannya.”

Kisah yang begitu mengharukan ini sesuai dengan Firman Allah dalam Hadist Qudsi-Nya, “Aku seperti yang disangkakan hamba-Ku yang mukmin.”

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa berbaik sangka kepada Allah SWT akan menentukan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Baca Juga:  Sikap Ikhlas: Kunci Kebahagiaan dan Ketenangan

Namun, husnudzon kepada Allah harus tetap dibersamai dengan amal sholeh da menjaga syariatnya. Jika kita berhusnudzon kepada Allah namun masih melakukan perbuatan dosa, maka husnudzon tersebut tidak akan ada manfaatnya.

Oleh karena itu, marilah kita berhusnudzon kepada Allah dan teruslah beramal sholeh agar Allah memberikan rahmatnya kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelat. [] Siti Atikah

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post