Bijak Bersosial Media di Masa Kampanye Pemilu, Hindari Hoax dan Fitnah

Bijak Bersosial Media untuk Menghindari Hoax
Gambar Ilustrasi Bijak Bersosial Media untuk Menghindari Hoax (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Masa kampanye pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah dimulai sejak Selasa pekan lalu (28/11/2023). Para calon anggota legislatif serta calon presiden dan wakil presiden mulai ramai-ramai mengkampanyekan visi misi dan program kerja unggulannya.

Di era digital sekarang ini, media sosial menjadi salah satu sarana kampanye praktis yang mampu menjangkau semua pemilih, terlebih lagi generasi milenial dan generasi Z. Beragam pamflet yang memuat foto dan gagasan para pasangan calon presiden dan wakil presiden terpampang di berbagai media sosial, misalnya saja Instagram.

Baik akun Instagram tiap capres dan cawapres maupun partai pengusung penuh dengan konten berisikan kampanye untuk mendukung dan memilih mereka pada 14 Februari nanti. Kolom komentar tak lepas dari ribuan cuitan para pendukung mereka yang menyuarakan pilihannya masing-masing.

Ironisnya, ada narasi atau komentar yang bermuatan hoax dan ujaran kebencian yang mengarah ke fitnah yang ditujukan kepada salah satu paslon. Tidak hanya satu atau dua cuitan saja, melainkan lebih dari ratusan hingga ribuan hoax dan ujaran kebencian beredar di media sosial.

Sebagian besar diantaranya mengarah ke rekam jejak dan kepribadian tiap capres dan cawapres, baik ketika menjadi menteri, kepala daerah, maupun pimpinan pasukan militer.

Apalagi setelah mencuatnya isu dinasti politik pemerintah saat ini melalui berbagai macam cara yang semakin memperkeruh kondisi perpolitikan tanah air.

Baca Juga:  Pergi

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam bersosial media, apalagi di tahun Pemilu seperti saat ini?

Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk bijak dalam bertutur kata dan berperilaku, baik dalam hidup bermasyarakat maupun di dunia maya. Daripada berkomentar negatif yang berujung pada fitnah dan hoax, lebih baik untuk diam.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.”

Menyebarkan hoax dan ujaran kebencian apalagi fitnah merupakan perilaku tercela yang harus dihindari. Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat ke 191 yang berbunyi,

… وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ …

Artinya: “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”

Fitnah yang semakin menyebar akan membangkitkan rasa benci, hasut, dan dendam yang begitu dalam sehingga menyebabkan permusuhan bahkan sampai pertikaian. Kondisi ini tidak hanya melibatkan antar individu saja, tetapi juga antar sekelompok masyarakat dalam jumlah yang cukup besar.

Tentu saja, chaos akan terjadi yang berujung pada perpecahan sehingga menyebabkan jatuhnya korban, baik jiwa maupun harta.

Oleh karena itu, kita harus bijak dalam bersosial media dengan menerapkan prinsip “saring dulu, baru sharing”. Sebelum kita mengunggah foto, video, atau berkomentar, alangkah baiknya menyaringnya terlebih dahulu.

Baca Juga:  Upaya Memerangi Disinformasi

Apakah postingan dan komentar tersebut sudah pantas dilihat dan dibaca, baik gambar, diksi dan makna yang terkandung di dalamnya. Jika sudah disaring dengan matang-matang, baru boleh diposting di media sosial.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan lagi adalah posting sesuatu yang sekiranya penting saja, bukan yang penting posting agar tidak menimbulkan keresahan dan kekacauan di kemudian hari. Tidak masalah jika berbeda pilihan, yang terpenting dapat saling menghormati dan menghargai pilihan masing-masing agar kerukunan dapat senantiasa terjaga dengan baik. [] Mohammad Khollaqul Alim

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post