Adab Saling Memafkan Dalam Islam

Oleh:

Muhammad Nurul Huda

Memaafkan merupakan salah satu bentuk cara menyelesaikan masalah yang kita alami baik untuk orang lain maupun kita sendiri. Didalam islam pentingnya saling memafkan telah banyak dijelaskan dalam hadis maupun ayat Al Quran salah satunya yaitu “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orsang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang bearbuat kebajikan.” (QS Al Imron : 133-134).

Tak tangung-tangung bahwa Allah akan membalas kebaikan seseorang muslim dengan surga yang sangat luas salah satunya yaitu dengan memafkan orang lain. Memang terkadang memaafkan seseorang sangatlah sulit dari apa yang kita bicarakan. Tak semudah membalikan telapak tanggan memang dalam hal memafkan orang lain terlebih lagi jika terdepat ego yang masih ada pada hati kita. Ego yang lama tertanam dalam hati lama kelaman akan menjadi dendam atau kerap kali disebut sakit hati. Dalam hal memaafkan juga ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan.

Pertama, hal perlu diperhatiakan adalah untuk tidak menjadi benar dan tidak menganggap orang menyakiti kita adalah salah. Seseorang akan merasa sulit memaafkan  ketika merasa menjadi korban, dan dia akan melupakan kalau dia juga termasuk pelaku atas terjadinya pristiwa. Jadi memafkan adalah menerima keadaan yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.

Baca Juga:  Piknik Islami

Kedua, “ Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari niat ”, tulus dengan hati dalam artian tidak memberikan syarat kepada orang berbuat salah kepada kita seperti menyuruh duluan, menyuruh untuk merubah sikap, menyuruh membayar kerugian dan lain-lain. Memaafkan bukan berasal dari orang lain tetapi dari diri kita sendiri sehingga dari pikiran kita akan menjadi positif sehingga kita dapan menjalami aktifitas menjadi fokus tanpa terbebani pengaruh negatif permasalahan tersebut.

Ketiga, Melupakan bukan berarti memaafkan. Melupakan sama saja tidak mengakui akan kejadian yang telah kita terima dan mungkin masih mengandung muatan negatif yang tidak kita sadari, selanjutnya akan berkembang menjadi mimpi, lamunan, perbuatan, dan sikap. Memaafkan adalah kondisi dimana kita dapat menghilangkan persaan negatif dari peristiwa tetapi tetap mengingat pristiwa tersebut tanpa sakit hati. “ Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun ” (An Nisa : 99), dengan memaafkan juga kita dapat mengamalkan sifat Allah yaitu Al Afuw yang berarti Maha Pemaaf.

Keempat, Tidak merugi jika memaafkan, seseorang terkadang akan merasa merugi jika memaafkan tanpa syarat atau masih terselip hal yang mengganjal dalam hati. Jika hal seperti ini terjadi maka orang yang rugi adalah diri sendiri dikarenakan mungkin orang yang menyakiti kita sudah melupakan masalahnya ,tetapi  kita masih terbawa susasana yang dapat menguras pikiran dan emosi.

Baca Juga:  Eksistensi Kurikulum Pesantren di Era Modern

Barang siapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan di Surga, hendaknya dia memaafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyabung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya. ”  (HR. Thabrani). Seperti yang telah dijelaskan di atas tadi dalam hal memaafkan yang menjadi faktor terpenting adalah diri kita sendiri bukan dari orang lain maupun orang yang meminta maaf kapada kita.

Janji Allah tentang jaminan surga dapat membuat kita tergerak dalam memaafkan setiap masalah yang kita alami. Disamping itu juga dapat menghilangkan susasana negatif yang tertananm pada diri kita dan membuat kita menjadi tenang dalam pikiran maupun hati. Didalam pikiran yang tenang tentu akan membuat jiwa yang bugar dalam melakukan berbagai aktivitas sehingga dapat membuat jasmani dan rohani kita menjadi baik atau posistif.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post