Khalifah Dinasti Umayyah: Khalifah Pertama Setelah Khulafa’ Rasyidin

Sejarah Dinasti Umayyah, Khalifah Setelah Khulafa' Rasyidin
Sejarah Dinasti Umayyah, Khalifah Setelah Khulafa' Rasyidin (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Setelah pada artikel sebelumnya dibahas mengenai Khulafa’ Rasyidin, yakni para pemimpin pengganti Rasulullah saw. Maka kemudian Islam berpidah kepemmpinan ke generasi selanjutnya, itu adalah Bani Umayyah atau yang bisa dikenal sebagai Dinasti Umayyah.

Sejarah Bani Umayyah

Pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang merupakan Khulafa’ Rasyidin terakhir, mengalami berbagai gejolak permasalahan. Umat Islam mengalami kemunduran dikarenakan permasalahan itu, akibatnya umat islam terpecah menjadi tiga golongan, yakni Syiah, Muawiyyah, serta Khawarij. pada tahun 40 H, Ali terbunuh oleh salah satu anggota golongan Khawarij.

Sepeninggalan Ali, umat islam tidak langsung dipimpin oleh Muawiyyah, melainkan digantikan oleh anaknya Ali yakni Hasan. Hasan yang saat itu tidak didukung oleh penduduk Kufah memutuskan untuk menyerahkan jabatan khilafah untuk Muawiyyah pada 41 H (661 M), agar tidak terjadi pertumpahan darah yang sia-sia. perjanjian itu mampu untuk mempersatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan politik, yakni dibawah kepemimpinan Muawiyyah bin Abi Sufyan.

Bani Umayyah

Dinasti Umayyah berdiri pada tahun 41 H/661 M. Kekhalifahan ini berlangsung selama hampir satu abad, yaitu dari tahun 661 hingga 750 Masehi. Pendirinya bernama Mu’awiyyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Abu Manaf. Mu’awiyyah merupakan seorang gubernur wilayah Syam pada masa Khulafa’ Rasyidin, yaitu pada masa kepemimpinan Umar bin Khatthab serta Utsman bin Affan.

Mu’awiyah I memiliki pengalaman yang signifikan dalam politik. Ia pernah memimpin pasukan dalam penaklukan Suriah, Palestina, Romawi, dan Mesir. Saat menjadi gubernur Syam, Mu’awiyah bin Abu Sufyan juga memimpin pasukan di Mesir dan Palestina.

Baca Juga:  Khulafa’ Rasyidin: Kisah 4 Khalifah Umat Islam yang Merupakan Sahabat Nabi

Sistem pemerintahan berubah dari demokratis menjadi kepemimpinan turun temurun selama pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Pejabat dinasti ini juga berasal dari Arab, dan seluruh penduduk Damaskus diwajibkan untuk setia pada anaknya, Yazid.

Pemerintahan Mu’awiyah I mencakup India saat dia menjabat. Total, tiga belas orang adalah khalifah Dinasti Umayyah di Damaskus. Pasukan pengepung Konstatinopel berhasil ditarik ketika Mu’awiyah bin Abu Sufyan memerintah.

Mengangkat pejabat khusus yang disebut sahib al-kharaj memisahkan urusan keuangan dari urusan pemerintahan. Daerah kekuasaan Bani Umayyah kemudian berkembang selama pemerintahan Al-Walid bin ‘Abd al-Malik. Dia berusaha memperluas wilayahnya hingga ke Al-Aqsa dan Andalusia (Spanyol).

Panglima perang Musa bin Nusair mengirim Tariq bin Ziyat untuk memimpin pertikaian Andalusia. Pada tahun 711 Masehi, Tariq bin Ziyat berhasil mengambil selat Afrika dan Spayol, yang juga dikenal sebagai Selat Gibraltar.

Kemajuan Dinasti Bani Umayyah

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, banyak keberhasilan yang dicapai. Yang paling penting dari mereka dapat dikategorikan dalam dua aspek: (1) Politik dan Kekuasaan, dan (2) Kemajuan Keilmuan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Dalam hal politik, Bani Umayyah membangun sistem pemerintahan yang benar-benar baru untuk memenuhi kebutuhan akan pembangunan wilayah dan pemerintahan negara yang lebih teratur. Selain mengangkat penasihat sebagai pendamping, Khalifah Bani Umayyah juga mempekerjakan beberapa sekretaris.

Mereka adalah Katib ar-Rasail, yang bertanggung jawab atas administrasi dan korespondensi dengan para pembesar setempat; Katib al-Kharaj, yang bertanggung jawab atas penerimaan dan pengeluaran negara; Katib al-Jundi, yang bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan tentara; dan Katib asy-Syurtah, yang bertanggung jawab atas segala hal yang berkaitan dengan militer.

Baca Juga:  Pandawa Lima, Gambaran 5 Rukun Islam

Perluasan yang signifikan (ekspansi wilayah atau daerah kekuasaan). Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, dan wilayah di Asia Tengah yang sekarang dikenal sebagai Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis.

Muawiyyah juga berusaha mengorganisir militer dan menghasilkan uang. Pada masanya, posisi khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi pekerjaan yang berbeda.

Selain memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan Islam, Khalifah Abd al-Malik juga berhasil memperbaiki sistem pemerintahan. Puteranya, al-Walid ibn Abd al-Malik, yang lahir pada tahun 705-715 M, adalah penerus suksesnya. Dia adalah seorang yang berkemauan keras dan mampu melakukan pembangunan.

Dia membuat panti-panti yang ditujukan untuk orang cacat. Negara membayar pekerja yang terlibat dalam aktivitas humanis ini secara tetap. Selain itu, dia membangun jalan raya, pabrik, gedung pemerintahan, dan mesjid yang megah yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

  1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Kota Makkah dan Madinah menjadi pusat seni, lagu, dan puisi selama dinasti Umayyah. sementara di Irak (Bashrah dan Kufah) menjadi pusat aktivitas intelektual di dunia Islam. Di sisi lain, para pujangga, filsuf, ulama, dan cendikiawan lainnya berkumpul di Marbad, kota satelit Damaskus. Beberapa bidang ilmu yang tumbuh pesat seperti :
  2. a) Pengembangan Bahasa Arab. Pada Dinasti Umayyah, Bahasa arab dijadikan Bahasa resmi dalam tata usaha negara dan pemerintahan sehingga pembukuan dan surat-menyurat menggunakan Bahasa arab.
  3. b) Ilmu Qiraat. Ilmu seni membaca al-Quran yang merupakan syariat tertua yang mulai dikembangkan pada masa khulafaa Rasyidin. Pada dinasti ini lahir para ahli qiraat ternama seperti Abdullah bin Qusair.
Baca Juga:  Aliran Sunni (Aswaja), Yakin Sudah Mengenalnya?

Berakhirnya Masa Dinasti Umayyah

Setelah berkuasa selama hampir 100 tahun, Bani Umayyah akhirnya mengalami kemunduran, yang perlahan-lahan membuat masa Dinasti Umayyah benar benar terhenti.

Munculnya kelompok-kelompok yang tidak puas terhadap pemerintahan Bani Umayyah, seperti Khawarij, Syiah, dan kelompok muslim non-Arab (mawali); tidak adanya aturan yang jelas dan tegas tentang cara pergantian khalifah, yang menyebabkan persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga khalifah; dan ketidakmampuan para penguasa Bani Umayyah untuk menghentikan perselisihan yang semakin menjadi-jadi di antara mereka; dan, akhirnya, krisis yang semakin perspektif hidup mewah yang tertanam dalam lingkungan keluarga khalifah, sehingga generasi berikutnya tidak dapat menanggung tanggung jawab negara yang berat;

Akhir Dinasti Bani Umayyah terjadi ketika tentara Abbasiyah membunuh Khalifah Marwan bin Muhammad di kampung Busir di daerah Bani Suweif sebagai tanda berakhirnya masa Bani Umayyah. [] Raffi Wizdaan Albari

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post