Konten Quotes Hijrah, Dakwah Tapi Menyimpang?

Quotes Islami
Konten Kata-Kata Romantis dari Allah (Tiktok - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Bentuk dakwah kian beragam seiring dinamika masyarakat masa kini, salah satu yang banyak menarik perhatian kalangan muda ialah konten quotes hijrah. Namun, bagaimana jika maksud dakwah ini justru menyimpangi ketentuan-ketentuan fundamental dalam islam?

Konten quotes hijrah berupa kata-kata mutiara yang indah, mendorong, bahkan menyentuh hati pembacanya. Konten ini dapat berupa kata-kata yang memotivasi pejuang hijrah dengan mengutip pendapat ulama, dalil Al-Quran, hadits, ataupun pengalaman pribadi.

Sayangnya, kata-kata kutipan tersebut seringkali tidak sesuai dengan sumber yang diklaim. Beberapa klaim mengenai penafsiran ayat Al-Quran, tapi tidak mencantumkan terjemahan yang sebenarnya, atau tanpa mengikuti sanad ilmu tafsir manapun.

Keyword yang cukup ramai berisi konten semacam ini salah satunya “Kata-Kata Romantis dari Allah”. Ayat-ayat Al-quran diberikan ‘tafsiran’ tanpa mencantumkan terjemahan asli maupun sumber tafsir yang jelas.

Justifikasi umum yang digunakan berupa “Penafsiran ini tanpa maksud untuk membelokkan ayat”, “memberikan penjelasan mudah”, “Menyentuh hati penonton” dan sebagainya.

Padahal, tafsir yang diberikan menarik jauh dari arti sebenarnya, tanpa ada satupun sumber shahih. Hal ini menunjukkan penafisran Al-Quran yang bersandar pada opini pribadi dan melalaikan nash-nash syariat. Suatu penyimpangan yang berupa taqawwul.

Taqawwul ialah tindakan mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa dilandasi ilmu. Sejak awal tidak semua orang memiliki otoritas untuk menjadi mufassir dan menafsirkan ayat Al-Quran.

Baca Juga:  Saintis dan Pendidik

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“barangsiapa yang berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” [4. HR. At Tirmidzi 2950]

Adapun syarat menjadi mufassir yang diuraikan oleh dua ulama besar seperti syekh Manna’ al-Qathan dan Imam Suyuthi. Beberapa tolak ukur umum dari dua prespektif ini yaitu:

  1. Menguasai ilmu bahasa Arab dan Cabang-cabangnya
  2. Menguasai ulumul quran serta cabang-cabangnya
  3. Menafsir terlepas dari hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan luar yang mengikatnya

Syarat yang begitu ketat memang ditujukan untuk membangun gerbang penjagaan isi Al-Quran, dimana penjagaan ini selalu konsisten sejak awal Al-Quran diturunkan. Konsistensi ketat ini jugalah yang menjaga kesamaan lafadz Al-Quran.

Mengembangkan kreatifitas dalam dakwah memang menjadi tantangan sendiri, tapi sudah sepatutnya dilakukan dengan bersandar pada sumber-sumber yang jelas hukumnya. Setidaknya tidak semerta-merta mengklaim opini pribadi sebagai tafsir Al-Quran.

Sejatinya dakwah dilakukan untuk menyebarkan ajaran agama islam dan kebenaran. Melakukan dakwah dengan membelokkan kalamullah agar menyesuaikan kepentingan audiens justru merupakan kesalahan fatal berlogika. [] Rizqie Nur Salsabila

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post