COVID-19, PEMUDA BISA APA

Oleh:

Nurjaya

Ditengah darurat nasional yang semakin mencekam sudah seharusnya pemuda bergerak, tidak diam untuk menunggu instruksi dari atasan atau bahkan hanya memantau dan tidak mempedulikan apapun. Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia sudah seharusnya menjadi pemicu semangat para pemuda untuk menjadi agen perubahan bukan hanya menjadi penonton, walaupun memang tidak semua pemuda akan terlibat dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 setidaknya para pemuda ini tidak membebani Indonesia dalam mencapai tujuan dimana pada saat itu usia Indonesia sudah mencapai 100 tahun. Saat ini, sudah seharusnya kita sebagai pemuda bergerak bersama-sama bukan hanya berdiam semata. Berdasarkan hasil sensus pada tahun 2018 terdapat 63,82 juta jiwa pemuda dan jumlah ini diproyeksikan akan terus meningkat sampai puncaknya pada tahun 2030.Hal ini, seharusnya memberikan semangat lebih kepada para generasi baru karena akan semakin sengitnya persaingan dalam bidang apapun.

Pemuda saat ini merupakan pemimpin dimasa yang akan datang, kita mungkin terlalu banyak mendengar kata-kata yang demikian mungki beberapa tahun yang lalu atau saat ini masih banyak yang mengguakan istilah seperti itu. Tetapi, pada saat ini sudah banyak pemimpin yangmana mereka masih berada pada usia muda artinya pada era seperti saat ini tidak harus menunggu menjadi tua untuk bisa memimpin bahkan remaja awal bernama Greta Thunbreg mampu memimpin aksi peduli lingkungan terkait pemanasan global di Swedia dan berkat aksinya tersebut akhirnya isu terkait pemanasan global lebih mendapatkan perhatian dengan serius. Indonesia sendiri pada saat ini hampir memanfaatkan kinerja pemuda dengan maksimal seperti Putri Tanjung, Adams Belva Syah Devara, Ayu Kartika Dewi, Angkie Yudistia, Gracia Billie Yosapht, Aminudin Ma’ruf, dan Andi Taufan Garuda yang merupakan pemuda yang dijadikan staff khusus presiden. Bukan tanpa alasan mereka dipilih menjadi staff khusus melainkan karena pertimbangan yang mendalam. Lalu, bagaimana dengan pemuda Indonesia yang lainnya atau kita sendiri apa yang telah kita lakukan untuk membuat perubahan minimal di lingkungan sekitar kita.

Baca Juga:  Terima Kasih Guruku

Sebagai pemuda yang penuh akan semangat kita bisa berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang ada dalam masyarakat bahkan kita bisa membuat perubahan besar dalam suatu masyarakat seperti memberi sosialiasi kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga lingkungan, hidup dengan demokrasi yang tinggi, atau memberikan pelatihan terkait pemanfaatan lahan yang kosong. Namun, bagaimana jika kita tidakn mampu meaksanakan hal demikian. Jika memang hal tersebut susah untuk dilakukan minimal kita mengikuti agenda-agenda masyarakat sekitar kita yang sudah terjadwal dan mengikuti aturannya dengan baik setidaknya tidak menjadi parasit dalam suatu komunitas. Kondisi penyebaran Covid-9 yang semakin meluas hingga saat ini pertanggal 10 mei 2020 warga Indonesia yang dinyatakan positif Covid-19 telah mencapai 14 ribu.

Hal tersebut bukanlah jumlah yang sedikit padahal apabila kita melihat pada kinerja para petugas medis sepertinya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, ternyata masalahnya bukan berasal dari sana karena masalah utamanya yaitu pada proses penyebaran virus itu sendiri dimana proses penyebarannya yang sangat mudah dan karena masyarakat di Indonesia masih banyak yang belum menaati peraturan pemerintah seperti socil distancng dan physical distancing atau ada beberapa perusahaan/pabrik yang telah dilarang beroprasi karena seharusnya work from home tetapi masih saja bekerja di tempat keramaian atau para buruh harian yang setiap hari harus bekerja untuk kebutuhan sehari-harinya.

Baca Juga:  Jangan Menyerah! Namun Berprasangka Baiklah, Sebab Semua yang Sulit Jadi Mudah

Sebenarnya, pencegahan utama dari virus ini adalah dari diri kita sendiri yang berarti dari semua penduduk bumi terkhusus masyarakat Indonesia. Kita semua harus sadar akan mudahnya dan bahayanya virus ini karena tanpa kita sadari sudah ratusan ribu nyawa melayang di seluruh dunia akibat adanya pandemi covid-19. Sebagai masyarakat yang baik, kita harus sadar bahwa hal ini benar-benar berbahaya, mulai dari diri kita dan kita bisa melindungi orang banyak karena telah memutus mata rantai penyebaran. Bamgaimana caranya, minimal dengan mematuhi aturan pemerintah dengan social distancing dan physcal distancing serta work from home, studying from home, dan semuanya dilakukan dari rumah walaupun ada beberapa yang harus keluar karena urgent maka setidaknya pakailah masker, jangan menyentuh fasilitas umum ketika beriada diruang pubik, dan gunakan hand sanitizer ketika sudah selesai urusan diluar dan hendak memasuki rumah.

Menanggapi hal diatas, para usia produktif atau yang biasa disebut sebagai pemuda bisa apa. Sebenarnya pemerintah lebih tepatnya kementrian pendidkan dan pariwisata telah membuat suatu wadah relawan covid-19 yang sasarannya yaitu para mahasaiswa diseluruh Indonesia tetapi wadah ini hanya menampung 10.000 pendaftar pertama dan yang lainnya tidak memiliki kesempatan untuk bergabung. Tenang, masih banyak cara agar kita tetap berkontribusi untuk melawan pandemi ini mungkin beberapa hal tersebut seperti melakukan sosialisasi terkait pandemi ini mulai dari cara penularannya, bahaya dari covid-9, dan cara pencegahan minimal dalam lingkup satu keluarga. Namun, selain sosialisasi hal yang dapat dilakukan yaitu kita sebagai pemuda jangan pernah merasa bahwa kita kebal akan adanya virus ini karena sistem imun yang kuat karena nyatanya seseorang yang memiliki sistem imun kuat dapat menjadi pembawa/penyebar virus tanpa merasakan sedikit gejala apapun da khususnya karena saat ini sedang ramadhan banyak para remaja yang melakukan buka puasa bersama padahal sudah kita ketahui bahwa terdapat larangan pemerintah pada seluruh masyarakat agar tidak mengadakan perkumpulan. Jadi, siapapun kamu khususnya para pemuda mari kita bergerak bersama dan apabila anda sulit bergerak ke jalan yang baik maka cukup diam saja agar tidak memperparah keadaan.

Baca Juga:  Malaikat Kecil Gaza dan Kasih Sayang di Tengah Penderitaan

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post