Emak Pemecah Mimpi Indah

Oleh:

Nurjaya

Terpejam kedua bola mata perlahan menutup sayu. Ruang gelap berubah terang saat cahaya itu datang. Mendekat  terus  seakan-akan aku hendak  masuk di dalamnya. Cahayanya yang begitu terang membuat ku tak bisa melihat apa-apa selain putih.

Dalam putihnya cahaya itu aku lihat ada seorang wanita tengah asik bermain bersama anak-anak kecil. Aku terus memperhatikan wanita itu sampai akhirnya permainan yang mereka mainkan selesai. Anak-anak kecil itu pun pulang terlebih dahulu dan seorang wanita pun bergegas menyusulnya. Entah apa yang aku pikirkan tentangnya saat itu hingga membuat pandanganku tak mau lepas darinya. Dan saat wanita itu hendak pergi melanjutkan perjalanan, aku bergegas lari menghampinya, ”Hai! Tunggu. Bolehkan aku tau siapa dirimu dan apakah kamu tau sesuatu tentang tempat ini?” Wanita itu pun berdiam diri dan menengok ke arah ku. Aku membungkuk berusaha mengatur nafas  kemudian kembali tegap ingin mendengar penjelasan darinya. “Namaku adalah Aisyah panggil saja aku Aisy. Aku merupakan penghuni di sini. Ini adalah tempat dimana hal-hal yang orang-orang temukan sebelum masa  depan terjadi”. Aku pun bertanya lagi padanya “Apa maksud dari sebelum masa depan terjadi, Aisy?”. “Maksudnya adalah di tempat ini orang akan menemukan hal yang terjadi padanya di masa yang akan datang”. Aku pun terdiam setelah mendengar penjelasan darinya yang menandakan aku mengerti apa yang dijelaskannya .

Baca Juga:  Pencegahan Bullying dan Implementasi Etika dalam Lingkungan Pesantren

Lalu ia mengajakku untuk berkeliling di tempat ini “Apakah kamu ingin melihat-liat tempat ini bersamaku?” Aku ku berkata “Hmm, boleh,apakah kamu tidak keberatan mengajakku berkeliling berasamamu?”. Aisy menjawab “Tentu tidak, kalau begitu ayo ikut bersamaku.” Aku pun mengikutinya, kami pun berjalan bersama dan Aisy banyak menjelaskan tentang tempat ini. Langkah demi langkah kami lewati. Memandangi bunga-bunga dan hewan-hewan yang berkumpul bersama keluarganya. Sesekali juga aku berusaha menyapa mereka dengan menirukan suara mereka.Mereka juga terlihat seperti menyambut perjalan kami.

Tak lama kemudian perjalanan kami berhenti dan Aisy mengajakku berteduh di bawah pohon besar dan rindang disana tersedia buah-buahan dan air dari sebuah kolam dan disamping kolam terdapat sebuah gubuk kecil “Kita istirahat dulu disini”. aku jawab” “oh yah sudah baiklah.” Lalu Aisymasuk kedalam gubuk tua itu sedagkan aku memanjat pohon untuk memetik buah-buahan. Ternyata Aisy mengambilkan pisau dari sebuah gubuk itu dan glas-gelas yang kemudian digunakan untuk memotong buah-buahan yang telah aku petik dari pohonya. Lalu ia menawarkan potongan buah itu kepadaku juga memberi ku air yang ia telah siapkan dalam gelas cantiknya itu.

“Cobalah makan buah ini , dijamin manis dan segar.”Aku menjawab “Hihi, terima kasih Aisy”. Tau saja kalau perut ini sedang lapar. Aisy tersenyum ke arahku. Setelah beristirahat kami pun melanjtkan perjalanan.

Saat di tengah-tengah perjalanan kami melihat ada sebuah danau yang cukup besar. Di sana tersedia satu buah perahu. Aku mengajak Aisy kesana dan menunggangi perahu itu “Mari kita naiki perahu itu”. Aisy pun rag-ragu untuk mengiyakan ajakanku tapi akhirnya dia pun mau untuk menaiki perahu tersebut. Lalu kami pun pergi menaiki perahu itu bersama. Ada satu pasang dayung di perhau itu. Kami mendayungnya secara bersama agar perahu dapat melaju ke depan. Di tengah-tengah perjalan kami menemukan bunga-bunga yang indah sekali. Aisy memintaku untuk mengambil bunga-bunga itu dan aku pun mengambilkan bunga-bunga itu. Entah apa yang aku rasakan pada saat itu hatiku bercampur aduk, aku bingung kenapa orang yang baru kukenal langsung dekat denganku. Selain itu, ia juga telah mencuri perhatianku. Apakah dia yang akan ada di masa depan ku nanti? Kalau memang iya aku akan terus menunggu sampai itu tiba .

Baca Juga:  Yang Terdalam

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dan tiba pada suatu bukit. Disana kami melihat senja yang mulai berganti dengan rasi bintang di langit. Kami terus memandanginya hingga sampai kami terlentang di atas rerumputan bukit. Kami terus memuji-Nya betapa menakjubkan alam yang telah Allah ciptakan.

Aisyah berkata “Lihatlah bintang itu dia jauh di atas sana.Tapi dia tak pernah menyatakan bahwa dia sangatlah tinggi”. Aku pun terkagum dengan kata-katanya tersebut. Lalu terlihat ada sebuah bintang jatuh dari arah selatan terlintas perlahan menuju arah tumur. “Kau lihat ada bintang jatuh di sebelah sana, cobalah pejamkan matamu dan buatlah sebuah permohonan”. Aisy berkayta lagi.Aku pun mulai memejamkan mata dan berkata pada hatiku sendiri”. Jika ini memang adalah mimpi aku harap dia ada di dunia nyata tempat aku berada. Dan aku ingin dia merupakan bagian dari masa depanku.

Setelah itu,aku mendengar suara ibuku memanggilku “Nak bangun, ayo turun di bawah ibu sudah menyiapkan sarapan bersama”. Aku pun membuka mata dan melihat tangan ibu yang menepu-nepuk pundakku. Aku bergegas bangun dari tempatku menuju kamar mandi untuk cuci muka. Lalu aku turun ke bawah untuk sarapan bersama ibu. Di tengah-tengah sarapan ibu menyuruhku ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan yang ada di warung. Setelah sarapan, aku pun bergegas ke pasar, disana aku mebeli beberapa kebutuhan untuk warung yang diperlukan ibu. Namun, saat hendak pulang ke rumah langit tiba-tiba murung dan  hujan pun tak dapat dibendung. Aku berteduh di suatu kedai dan duduk di kursi kedai itu. Ketika aku tengah memerhatikan hujan, tiba-tiba dari dalam kedai keluar seorang wanita menawarkan secangkir kopi. Pandanganku teralihkan merambat terus ke wajahnya. Dan betapa terkejutnya aku, bahawa wanita yang aku lihat itu adalah Aisy.

Baca Juga:  Hujan

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post