Belajarlah

Oleh: Amanatul Khomisah

Belajarlah

Karena hidupmu akan berubah

Pandanganmu kan cerah

Masa depanmu kan terarah

Sunyi, gersang, redup

Itulah dirimu

12 tahun kujalani penuh liku dan pilu

Diriku hanya insan biasa, yang masih haus akan ilmu

Demi kemenangan sejati

Aku harus bangkit, bangkit, dan bangkit.

Bukan masalah gelar ataupun pangkat

Melainkan masalah jati diri

Bukan tentang kaya

Namun tentang perjuangan

Di negeri ini aku menuntut ilmu mencari hal baru dalam sebuah titik temu

Tinta hitam dan tumpukan lembaran kertas putih menjadi saksi perjuangan

Belajarlah

Jangan biarkan otakmu membeku

Asahlah layaknya sebuah pisau yang tajam

Yakin bahwa masa depan kan datang secerah bintang

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Pilu di Palu

oleh: Salma Hamdiah

Banyak yang bisa diagendakan

Tapi tidak dengan bencana

Dia datang begitu saja

saat sang pencipta memerintah

Bahkan tanpa ada batasannya

Aku kira hari itu kiamat

Kota ku begitu berbeda dengan sebelumnya

Tanahnya, pantai nya,

dan suasana di dalamnya

Saat itu tak ada lagi tawa

Bahagia juga lenyap seketika

Masih jelas dibenakku saat tanah menari dengan sesukanya

Pantai pun ikut meluapkan amarahnya

Semua sanak saudara

Berhamburan entah kemana

Tuhan mengambil beberapa dari kami

Aku tak tahu persis apa maksud-Nya

Besok, tepat dua tahun yang lalu

Dan pilu di Palu belum juga berlalu

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Supardi dan Kenangan

Aku ingin menjadi sebuah cinta sederhana nun dalam maknanya

Oleh:

Wihda Ikvina Anfaul Umat

Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Sastrawan kenamaan Indonesia, Sapardi Djoko Damono telah berpulang ke Rahmatullah, pagi tadi, Ahad 19 juli 2020. Sudah barang tentu hampir seluruh mahasiswa jurusan sastra, pun yang bukan, tak asing dengan sosok alm. Sapardi. Beliau adalah salah satu sastrawan kenamaan Indonesia yang telah melahirkan banyak karya sastra cantik dan menyuntuh hati para penikmatnya. Alm. Sapardi Djoko Damono yang akrab dengan singkatannya SDD, telah menjalani kehidupan sebagai sastrawan lebih dari 50 tahun. Karirnya dalam bidang sastra tidak dapat diragukan lagi. Almarhum sudah banyak malang melintang dan khatam betul perihal dunia sastra, utamanya pada bidang puisi. Selain sebagai sastrawan almarhum juga pernah menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya UI dan menjadi guru besar. Berbagai penghargaan dalam bidang sastra juga telah almarhum raih, diantaranya anugerah SEA Write Award pada 1986, penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003 dll.

Mengenang alm. Sapardi, beberapa dari para pengagum sastra akan terarah pada buah karya puisi-puisinya yang amat terkenal. Satu diantara yang juga amat saya sukai adalah puisi “Aku Ingin” berikut:

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(sumber: https://www.gramedia.com/blog/5-kumpulan-puisi-cinta-sapardi- djoko-damono-paling-romantis/)

Puisi bebas dua bait tersebut amat dalam maknanya. Sebuah kesederhanaan cinta yang dilukiskan oleh alm.Sapardi. Tentang apa yang paling sederhana yang dapat kita berikan kepada yang terkasih namum dapat menyayat palung terdalam diujung hati. Puisi bertema cinta tersebut ditulis pada 1989 saat istrinya sedang sakit. Namun dalam pembawaanya tentu kita dapat mengekspresikan rasa cinta tersebut, tidak terbatas kepada kekasih, namun kepada guru, orang tua atau bahkan kepada teman sebaya. Begitulah puisi “Aku Ingin” hendak berbagai cinta dengan pembacanya.

Saat ini setelah Alm. Sapardi pamit dari dunia pun dunia sastra, agaknya puisi ini menjadi ungkapan cinta kepada alm. Sapardi. Diksi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” menjadi satu ekspresi kecintaan terhadap jasa almarhum atas karya-karya yang telah dilahirkan. “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu” penggalan tersebut saat ini menggambarkan salam perpisahan kita terhadap sang maestro yang telah tiada, yang tak bisa lagi kita jumpai seakan seperti kayu yang telah terbakar api dan menjadi abu, tak dapat utuh seperti kayu lagi. Pun pada bait berikutnya yang saat ini juga menggambarkan cinta dalam kesedihan kepergiaannya.

Selamat jalan eyang Sapardi Djoko Damono. Terima kasih atas karya-karya manismu, selanjutnya biar kami yang menjaga engkau istirahatlah dengan tenang di pusaramu.

-Ahad, 19 Juli 2020.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.