UPAYA MASYARAKAT DALAM MENGATASI COVID-19

Oleh

Muhammad Nurul Huda

Saa tini Indonesia sedang dilanda musibah yang begitu , yaitu COVID-19, dimana penyakit serupa SARS yang menyerang area pernafasan dan beresiko dengan kematian. Penyakit ini sendiri berasal dari Wuhan salah satu kota di China dengan perjualan makanan, yang bisa di bilang semua ada disana. Virus ini sendiri kita ketahui berasal dari kelelawar liar yang di santap oleh masyarakat disana, lalu terjadilah sporadis yang berujung menjadi pademi yang saat ini terjadi sampai Indonesia.

Virus COVID-19 sendiri mulai muncul pada bulan November dan merebak luas pada bulan Januari hingga negara-negara lain terkena virus ini. Dimana pada bulan Januari-Februari virus ini sudah menyebar di Asia Tenggara kecuali Indonesia, sehingga negara ini bisa santai bahkan memberikan promo paket wisatanya agar para turis asing datang untuk berwisata di Indonesia untuk menaikkan devisa yang turut akibat pademi ini, selain itu juga banyak yang berkelakar tentang virus ini terutama di kalangan pejabat.

Pada awal Maret pun Indonesia di gegerkan adanya pasien COVID-19 dua orang asal Jabodetabek dan mereka pun mendapatkan stigma sosial terutama dari kalangan media yang turut meng-kepokan pasien tersebut. Selain itu pasien tersebut diduga menjadi patient zero dari virus ini sendiri, padahal sejatinya mereka bukan patient zero karena pada bulan sebelumya belum ada WNI yang terbukti terkena virus ini, nyatanya negara-negara tetangga sudah banyak masyarakatnya yang postif. Karena pasti ada orang Indonesia yang datang dari China terutama Wuhan yang sudah terpapar oleh virus ini dan juga masyarakat lokal yang terpapar juga oleh WNA dari negara yang terkena COVID-19 ini. Hal ini yang menyebabkan angka kematian di Indonesia tergolong tinggi dari negara tetangga, padahal Indonesia tergolong baru terkena pada bulan Maret, sebab sebelumya banyak yang sudah terkena penyakit ini atau terpapar.

Baca Juga:  Supardi dan Kenangan

Indonesia tergolong lamban dalam menangani kasus ini karena terbukti dengan tingginya angka kematian yang mencapai 8% dari penderita penyakit ini sendiri. Hal ini juga disusul dengan tingginya angka kasus pasien yang positif yang menyebabkan kenaikan kasus per harinya. Pemerintah juga belum melakukan tindakan preventif dengan melaukan lockdown atau melakukan rapid test secara besar-besaran seperti Korea Selatan yang melakuakn tes sebanyak 20 ribu perharinya sehingga mereka tidak usah melakuakan lockdown karena mereka dapat mengendalikan wabah tersebut. Selain itu juga angka rasio pada test tersebut adalah 1-2% dari tes yang mereka lakukan yang terkena penyakit tersebut. Berbeda dengan Indonesia yang rasio kasusnya mencapai 20% yang positif dari tes yang dilakukan dan juga secara tidak langsung akan menaikkan angka kematian.

Indonesia sendiri di prediksi akan terkena wabah ini sekita 60-70% dari penduduk, yang artinya 1,6 juta -7,5 juta akan akan meninggal dunia, tetapi ini adalah kemungkinan terburuk yang tidak secara pasti akan terjadi. Kejadian ini akan terjadi jika Indonesia gagal mengatasi wabah ini denggan baik dan benar. Sehingga peran Pemerintah saat ini sangat penting karena selain mengontrol wabah ini juga mengontrol ekonomi Inonesia agar stabil nanti. Ketika negara lain menggunkan GDP-nya untuk mengatasi wabah ini, sampai-sampai 10% dari total GDP. Indonesia juga belum mengumumkan dananya yang dikeluarkan untuk mengatasi wabah ini, dana ini di gunakan untuk pembelian APD bagi orang-orang terutama dokter yang turut ikut mengatasi penyakit ini, pembelian alat tes, dan penggunan BLT selain itu dana ini juga di gunakan untuk membengun perekonomian Indonesia agar tidak turun selalu.

Baca Juga:  Maafku Bahagiaku

Lambatnya peran pemerintah juga di sampingkan dengan banyak pelanggar yang tidak menaati peraturan seperti banyaknya yang masih mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti “Nikahan” dan juga yang saya ketahui banyaknya pelanggar lalu lintas karena sepinya jalanan umum dan bebas dari polisi tentunya. Dalam hal ini pemerintah di harapkan mampu dalam mengatasi persoalan-persoalan dengan baik.

Upaya pemerintah sendiri dalam menangani kasus ini kedepanya agar melakukan lockdown minimal sepulau Jawa karena daerah ini banyak yang terkena dan juga membatasi akses WNA yang keluar masuk Indonesia. Selain itu juga dengan melakukan Rapid test masal akan dapat berdampak mudahnya mengkontrol pasien yang terkena virus. Sembari menunggu arahan pemerintah para masyarakat juga ada yang sudah melakukan lockdown sendiri karena kekhawatiran terhadap virus itu sendiri.

Salah satunya yang melakuakan lockdown mandiri yaitu berasal dari salah satu desa di Purbalinga, di karenakan salah satu warganya sudah ada yang terkena positif virus ini. Selain itu juga pemerintah desanya di bantu denggan pemerintah Kabupaten turut membantu local lockdown itu dengan memberikan BLT berupa sembako senilai 50 ribu per kepala keluarga. Hal ini turut membantu masyarakatnya agar tidak keluar rumah di samping memutus ranatai penyebaran COVID-19.

Berbeda dengan pandangan penulis terhadap masyarakat di sekitar penulis tinggal, mungkin karena belum zona merah dan juga belum ada yang terkena positif penyakit ini, sehingga banyak masyarakat yang masih keluyuran. Berbeda pula dengan kota- kota yang terdamapak pada zona merah, yang menjadi sepi di jalan-jalan utama di karenakan masyarakatnya sudah mulai takut terhadap wabah ini. Pemerintah berharap agar para masyarakatnya dapat berdiam diri di rumah, melakuakan segala aktivitasnya dari rumah atau work from home unutuk memutus rantai penyebaran mata rantai pademi ini.

Baca Juga:  Kunci Kebahagiaan Atas Ketetapan Allah

Masih banyaknya aktivitas kumpul-kumpul maupun keluar rumah untuk aktivitas tidak penting, turut menyebabkan bermigrasinya virus dari orang ke orang lainya. Selain ada masyarakat yang “bandel” juga ada masyarat yang nurut terhadap intruksi pemerintah dengan tidak melakukan aktivitas yang melibatkan banyak orang atau keluyuran gak jelas. Selain itu juga anjuran pemerintah turut di lakukan seperti dalam hal keagamaanya itu tidak mengadakan “khajatan” ataupun syukuran dengan banyak orang. Dan juga saat ini masjid/mushola sudah tidak menyediakan karpet atau sajadah karena akan menjadi tempat bersemayam virus ini nantinya.

Peran kita sebagai orang yang melek informasi atau sebagai civitas akedemisi adalah ikut dan turut melakukan upaya pencegahan penyebaran virus ini seperti mengingatkan unutuk menjaga kebersihan, mengingatkan tetangga yang cenderung “bandel” dan yang terpenting adalah dengan mengingatkan diri sendiri untuk melakukan itu semua demi memutus rantai penyebaran virus ini serta ikut mendukung upaya pemerintah dalam menangani kasus ini.

Penulis adalah mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post