Menjaga Kemuliaan Diri di Hadapan Makhluk: Kajian Akhlak dari Kitab Nashaibul ‘ibad

almuhtada.org – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering diuji dengan kebutuhan, tekanan hidup dan keinginan dunia. Tidak sedikit orang akhirnya rela merendahkan dirinya demi mendapatkan pujian, bantuan, jabatan, atau harta dari sesama. Padahal, kita diajarkan bahwa seorang mukmin memiliki kemuliaan yang harus dijaga.

Di dalam Nashaibul ‘ibad, banyak nasihat yang mengarah pada pentingnya menjaga kehormatan diri (‘izzah), bersikap qana’ah, dan tidak menggantungkan hati kita kepada orang lain. Kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani ini menanamkan akhlak agar seorang muslim tetap rendah hati tanpa kehilangan martabatnya.

Perbedaan Tawadhu’ dan Menghinakan Diri

Kita dianjurkan untuk selalu tawadhu’ atau rendah hati. Tawadhu sendiri berarti tidak sombong, menghormati orang lain, dan menyadari semua yang kita miliki adalah berasal dari Allah Swt. Namun tawadhu’ berbeda dengan menghinakan diri di hadapan manusia demi kepentingan dunia.

Seorang yang tawadhu bukan berarti dia memuji orang lain dengan berlebihan, apalagi sampai menjilat untuk mendapat jabatan. Kita boleh meminta bantuan, tetapi tidak boleh hingga menjadikan manusia sebagai tempat bergantung yang melebihi Allah Swt.

Dalam banyak nasihat ulama disebutkan bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada bagaimana dia bergantung kepada manusia. Semakin seseorang tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain, semakin mudah dia kehilangan kehormatannya. Karena itu, para ulama salaf sangat menjaga diri dari meminta-minta.

Baca Juga:  Mari Menjaga Lisan, Demi Meraih Ridho Allah Swt

Mereka lebih memilih hidup sederhana daripada harus menggadaikan martabat demi dunia. Sikap ini bukan berarti sombong hingga menolak bantuan orang lain, tapi yang perlu di waspadai adalah ketika hati kita menjadi hina karena terlalu berharap kepada manusia.

Penyebab Manusia Merendahkan Diri dan cara mengatasinya

Ada beberapa sebab seseorang kehilangan kemuliaannya di hadapan orang lain yang lebih tinggi darinya, di antaranya adalah: Cinta dunia Berlebihan, kurangnya tawakal (berserah diri pada Allah Swt.), haus pujian, dan tidak Qana’ah (merasa cukup atas pemberian Allah.

Untuk menghindari hal tersebut kita harus senantiasa dekat pada Allah Swt., melatih Qana’ah, tidak berlebihan dalam berharap pada manusia, lalu menjaga prinsip dan kehormatan kita sebagai seorang muslim.

Penutup

Kitab ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang hamba terletak pada kedekatannya pada Allah, bukan pada pujian manusia. Seorang mukmin dianjurkan untuk tawadhu’, tetapi tidak boleh menghinakan dirinya demi dunia.

Orang yang hatinya bergantung kepada Allah akan lebih tenang, lebih terhormat, dan tidak mudah diperbudak oleh penilaian manusia. Karena itu, menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.[]Dani Hasan Ahmad

Related Posts

Latest Post