almuhtada.org – Dalam Islam, menuntut ilmu adalah jalan menuju kemuliaan. Pendidikan seharusnya menjadi tempat lahirnya harapan, tempat anak-anak bertumbuh, belajar, dan merasa dihargai sebagai manusia.
Namun belakangan ini, dunia pendidikan kembali dipukul oleh dua kabar yang menyayat hati. Pertama, seorang siswa SD memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku sekolah. Kedua, seorang siswa SMK meninggal dunia setelah lama menggunakan sepatu yang kekecilan hingga kondisinya memburuk.
Dua berita ini memang berbeda cerita, tetapi memiliki akar yang sama, yakni kemiskinan dan kurangnya perlindungan terhadap hak anak. Hal yang membuatnya semakin memilukan, keduanya terjadi di lingkungan pendidikan. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi. Padahal dalam Islam, menjaga kehidupan, martabat, dan kesejahteraan manusia merupakan bagian dari amanah yang sangat besar.
Bukan Sekadar “Tidak Punya”
Sering kali kemiskinan dipahami hanya sebatas tidak memiliki uang. Padahal dampaknya jauh lebih dalam dari itu. Kemiskinan tidak hanya menghambat akses terhadap kebutuhan hidup, tetapi juga perlahan dapat meruntuhkan mental, rasa aman, bahkan harapan seorang anak.
Di usia ketika mereka seharusnya fokus belajar dan bermimpi, sebagian anak justru harus memikul rasa malu, takut tertinggal, hingga merasa menjadi beban bagi orang lain.
Kasus anak SD yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata tentang harga buku.
Bisa jadi ada rasa sendirian yang terlalu lama dipendam, ada tekanan yang tidak pernah benar-benar didengar, atau ketakutan karena merasa tidak mampu mengejar tuntutan di lingkungan sekitarnya. Di titik ini, masyarakat dan lingkungan pendidikan perlu bercermin.
Apakah sekolah hanya menjadi tempat mengejar nilai dan prestasi, tetapi lupa melihat luka yang disimpan murid-muridnya?
Apakah kita benar-benar cukup peka terhadap anak-anak yang tampak diam, tetapi sebenarnya sedang meminta pertolongan dengan caranya sendiri?
Namun di sisi lain, kasus siswa SMK yang meninggal karena sepatu kekecilan memperlihatkan kenyataan yang berbeda.
Lingkungan sekitar disebut sudah menunjukkan kepedulian. Bantuan telah diberikan, perhatian sudah datang, tetapi hak anak tersebut tetap tidak terpenuhi karena bantuan itu tidak benar-benar digunakan untuk kebutuhan sang anak.
Dari sini terlihat bahwa persoalan anak dan kemiskinan tidak selalu datang dari luar. Terkadang luka justru muncul dari lingkungan terdekat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.
Inilah yang membuat persoalan ini menjadi jauh lebih kompleks. Tidak cukup jika hanya menyalahkan sekolah, pemerintah, atau keluarga secara sepihak. Sebab pada akhirnya, perlindungan terhadap anak adalah tanggung jawab bersama.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang peduli, didengar, dan benar-benar memastikan bahwa hak mereka sebagai manusia tetap terpenuhi.
Islam Tidak Membiarkan Anak Tumbuh dalam Keterabaian
Sulit berbicara tentang pendidikan jika kebutuhan dasar seorang anak saja belum terpenuhi. Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, kurikulum, atau nilai rapor, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak bisa belajar dengan tenang tanpa dibebani rasa takut, malu, dan kekurangan yang terus menghantuinya.
Bagaimana seorang anak dapat fokus mengejar cita-cita jika setiap hari ia harus memikirkan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa?
Bagaimana seorang murid bisa merasa nyaman di sekolah ketika ia takut diejek karena perlengkapan sekolahnya, atau merasa berbeda karena keadaan ekonomi keluarganya?
Di sinilah pendidikan dan kesejahteraan sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar akses sekolah.
Islam sendiri sangat menekankan pentingnya memuliakan manusia tanpa memandang latar belakangnya. Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang harus dijaga, termasuk anak-anak dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan.
Kemiskinan seharusnya tidak membuat seorang anak kehilangan haknya untuk merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan layak.
Dalam Islam, anak juga bukan hanya tanggung jawab biologis orang tua semata, tetapi amanah sosial yang harus dijaga bersama. Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing.
Guru memiliki tanggung jawab terhadap muridnya, orang tua terhadap anaknya, masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya, dan pemerintah terhadap rakyatnya.
Karena itu, ketika ada anak yang kehilangan harapan hidup akibat kebutuhan dasar pendidikannya tidak terpenuhi, maka itu bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan alarm sosial yang menunjukkan bahwa masih ada amanah yang belum benar-benar dijaga bersama.
Bukan Soal Kemiskinan Semata
Islam tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan orang miskin. Justru Rasulullah saw. hidup dekat dengan kaum lemah dan mengajarkan umatnya untuk saling peduli serta membantu satu sama lain. Karena sering kali, masalah terbesar bukan hanya kemiskinan itu sendiri, melainkan ketika empati perlahan hilang dari lingkungan sekitar.
Ketika anak-anak harus memikul beban hidup sendirian, ketika bantuan tidak benar-benar sampai kepada yang membutuhkan, dan ketika rasa malu membuat seseorang memilih diam daripada meminta pertolongan.
Dua berita ini bukan sekadar kabar viral yang lalu hilang begitu saja. Ia adalah pengingat bahwa masih ada anak-anak yang berjuang diam-diam di balik seragam sekolah mereka.
Wallahu a’lam bishawab, barakallah fiikum [] Rezza Salsabella Putri











