Berkah: Sudahkah Kita Benar-Benar Memahaminya?

Ilustrasi santri sederhana yang merasa cukup dan bahagia (pinterest.com - almuhtada.org)

almuhtada.orgDalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar kata “berkah” atau “barakah” yang terucap sebagai doa atau harapan orang lain kepada kita. Misalnya, semoga berkah ilmunya, pekerjaannya, usianya, rezekinya ataupun yang lainnya.

Namun, sudahkah kita memahami apa arti sebenarnya dari “berkah” atau “barakah”? Atau, sudahkah kita merasakan keberkahan terjadi pada diri kita? Lalu, bagaimana ciri-ciri hidup kita mendapatkan keberkahan?

Makna Berkah

Berkah berasal dari bahasa Arab “بركة” (barakah), yang secara harfiah berarti “berkembang” atau “bertambah”. Berkah atau barokah juga bermakna tsubutul khoir ‘ala khoir atau ziyadatul khoir yang berarti tambahnya sesuatu kebaikan di atas kebaikan.

Baca Juga:  Mengintip Kenikmatan Surga Menurut Al-Quran dan Hadits

Berkah memiliki pengertian luas sebagai karunia atau anugerah yang membawa kebaikan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Berkah sering diartikan sebagai sesuatu yang membawa keberuntungan atau kebaikan tak terduga.

Keberkahan tidak bisa dipahami dengan sederhana. Sesuatu yang dinilai baik oleh kacamata dunia, belum tentu itu adalah sebuah keberkahan. Misalnya, hidup yang berkah bukan berarti dia yang senantiasa sehat. Bisa jadi hidup orang yang sakit-sakitan lebih berkah karena membuat dia semakin dekat dengan Allah Swt.

Umur yang berkah bukan dia yang usianya penjang. Bisa jadi umur yang pendek lebih berkah karena hidupnya yang senantiasa diisi dengan beribadah kepada Allah Swt.

Negara yang berkah bukan berarti negara merdeka yang maju dan kaya. Bisa jadi negara yang masih dijajah lebih berkah karena perjuangannya membela agama Allah tanpa akhir.

Baca Juga:  Hal-Hal yang Menyebabkan Kebohongan Diperbolehkan dalam Islam

Penghasilan yang berkah bukan berarti yang jumlahnya besar. Bisa jadi penghasilan sedikit lebih berkah karena membuat seseorang lebih sabar dan pandai bersyukur.

Demikian pula dengan hal-hal yang lain. Berkah bukan tentang urusan mencukupi sesuatu. Meski sesuatu itu kurang, tapi jikalau bisa membuat seseorang semakin dekat dengan Allah, maka itu adalah sebuah keberkahan.

Dikutip dari dawuh K.H. Muhammad Idror Maimoen atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Idror, pengasuh PP. Al-Anwar Sarang Rembang. Beliau mengatakan bahwa berkah itu memang aneh. Tidak menambah jumlah, tetapi menambah rasa cukup. Mungkin pemasukan kita tetap, namun kebutuhan kita tiba-tiba tercukupi. Mungkin waktu terasa sempit, tapi semua urusan selesai dengan tenang dan santai. Begitulah cara kerja.”

Keberkahan tidak datang dari satu dua kali kebaikan yang kita lakukan. Keberkahan juga tidak datang secara kebetulan dan begitu saja. Akan tetapi, keberkahan datang dari kebaikan yang kita kerjakan secara konsisten atau istiqamah.

Baca Juga:  Plaosan dan Rahasianya: Cinta, Kuasa, dan Keyakinan

Cara Mendapatkan Keberkahan

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita merasa bahwa penghasilan, pencapaian, usaha, atau apa yang kita dapatkan tidaklah cukup. Namun, Islam mengajarkan konsep berkah, yakni keberkahan dari Allah yang melimpah atas apa yang kita miliki, meskipun sedikit.

Bagaimana cara menggapai keberkahan dari Allah Swt.? Dalam bukunya, Al-Ghazali menekankan pentingnya niat, tawakkal, dan ibadah yang benar dalam mencapai barakah. Salah satu kutipan beliau yang terkenal adalah:

“Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin)

Dalam dunia santri, terdapat istilah “ngalap berkah” atau “tabarruk” yang berarti mencari berkah dengan keyakinan bahwa keberkahan hanya datang dari Allah Swt. Dalam konteks ini, ngalap berkah harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam, tanpa menyekutukan Allah SWT. Praktik yang diperbolehkan termasuk membaca Al-Qur’an, berdoa, dan melakukan amal baik.

Baca Juga:  Ayat Kursi: Mahkota Al-Qur’an yang Menyimpan Keagungan Allah Swt

Lalu, siapa saja yang bisa mendapatkan berkah? Kita tidak pernah tahu di antara kita siapakah yang bisa mendapatkan keberkahan. Namun, sesungguhnya orang yang mendapatkan berkah dari sesuatu atau hal yang dia lakukan akan cenderung berubah perilakunya, entah sedikit atau banyak akan mengarah kepada kebaikan. Karena apa? Berkah menggiringnya untuk melakukan kebaikan meskipun sedikit demi sedikit.

Ciri-Ciri Hidup yang Berkah

Memahami ciri-ciri hidup yang diberkahi dapat membantu kita mengenali dan menghargai berkah dalam kehidupan kita sendiri. Meskipun manifestasi berkah dapat berbeda-beda bagi setiap orang, ada beberapa karakteristik umum yang sering dikaitkan dengan hidup yang diberkahi, diantaranya (1) hati merasa tenang menghadapi berbagai situasi, (2) pandai bersyukur dan menghargai hal-hal kecil dalam hidup, (3) memiliki hubungan yang sehat, baik hubungan keluarga, pertemanan, dan lain-lain, (4) memiliki ketahanan mental yang kuat (resiliensi),  (5) selalu sabar menghadapi ujian, dan masih banyak lagi.

Pada akhirnya, berkah hadir dalam bentuk ketenangan hati, kemudahan dalam urusan, dan kekuatan untuk terus bersyukur dalam keadaan apapun. Apa yang sedikit bisa terasa cukup, dan apa yang sempit bisa terasa lapang, itulah tanda keberkahan. Oleh karena itu, mari kita perbaiki niat dan istiqamah dalam bertindak atau beramal. [Nihayatur Rif’ah]

Editor: Syukron Ma’mun

Related Posts

Latest Post