Almuhtada.org – Kita mungkin sering merasa hidup kadang berjalan berat ketika rezeki terasa sempit. Padahal usaha sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan, tetapi hasil belum juga sesuai harapan. Dalam kondisi seperti ini, kemudian muncul pertanyaan “Apakah ini ujian, atau justru bentuk penolakan?”
Pertama kita harus pahami dulu bahwa Islam tidak memandang sempitnya rezeki sebagai kekurangan, karena ini juga bisa diartikan sebagai bagian dari cara Allah membentuk hamba-Nya. Allah berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an yang berbunyi,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
Artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat ini menegaskan bahwa keterbatasan, termasuk dalam hal rezeki, merupakan bagian dari ujian kehidupan. Namun ujian dalam Islam bukan sekadar untuk “menyulitkan”, melainkan untuk menampakkan kualitas iman dan kesabaran seseorang.
Menariknya, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai dengan hikmah-Nya. “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya.” (QS. Al-Isra: 30).
Artinya, kondisi rezeki bukan semata hasil usaha manusia, tetapi juga bagian dari ketetapan Allah Swt. yang mengandung tujuan tertentu. Dan di sinilah pentingnya mengubah cara melihat sesuatu, dari sekadar “mengapa saya diberi kekurangan?” menjadi “apa yang sedang Allah ajarkan?”
Selain itu, sempitnya rezeki juga sering membuat seseorang untuk lebih bergantung kepada Allah. Pasti pembaca pernah merasakannya, misalnya ketika segala cara terasa buntu, hati menjadi lebih mudah kembali kepada-Nya. Doa menjadi lebih tulus, usaha menjadi lebih jujur, dan kesadaran akan keterbatasan diri juga semakin kuat. Sebaliknya, dalam kondisi lapang/cukup, kita malah cenderung merasa cukup dengan diri kita saja.
Keterbatasan ini juga melatih rasa syukur dalam bentuk yang lebih dalam. Syukur itu tidak bergantung pada banyaknya yang dimiliki, tapi pada kemampuan melihat setiap nikmat dalam hal-hal sederhana. Rasulullah Saw. bersabda,
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), dan jangan melihat kepada yang di atas kalian, karena itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan cara pandang yang “sehat” agar hati kita tidak mudah merasa kurang.
Namun, penting untuk diingat bahwa Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Jadi, keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Tapi di sinilah adanya keseimbangan, dimana kita tetap berusaha secara maksimal, namun tidak menggantungkan ketenangan pada hasil. Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa jika seseorang bertawakal dengan benar, Allah akan mencukupkannya sebagaimana burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang (HR. Tirmidzi). Dimana, burung tetap terbang, tetap berusaha, tapi tidak cemas berlebihan.
Kemudian, satu perspektif lain adalah adanya kemungkinan bahwa sempitnya rezeki menjadi bentuk penjagaan dari Allah. Karena tidak semua yang diinginkan kita memang baik untuk kita. Bisa jadi kelapangan yang kita harapkan justru membawa kelalaian, sedangkan keterbatasan menjaga kita tetap dekat dengan Allah. Dalam hal ini, rezeki tidak selalu diukur dari jumlah, tapi dari keberkahan dan dampaknya terhadap hati kita dan hubungan kita dengan Allah Swt.
Pada intinya, penulis ingin menyampaikan bahwa sempitnya rezeki bukan sekadar soal angka dan harta, tapi soal makna. Karena hal ini bisa jadi sebuah ujian yang menguatkan, sekaligus proses pendidikan yang bisa mendewasakan kita. Dan ketika kita mampu melihatnya dengan perspektif iman, kita tidak lagi terjebak dalam keluhan yang melelahkan. Sebaliknya, insyaallah kita akan menemukan ketenangan dalam usaha yang jujur dan harapan yang tidak putus. []Abian Hilmi











