Mengapa Dosa Selalu Berujung Azab, Rahasia Sunnatullah yang Sering Kita Abaikan

Ilustrasi seorang muslim sedang berdiri sendiri dalam kegelapan yang tersinari cahaya kecil sebagai simbol peringatan yang datangnya dari Allah Swt. (Sumber: Dokumen Pribadi - almuhtada.org)

almuhtada.org – Ada satu hukum hidup yang mungkin sering kita lupakan, yaitu siapa yang berdosa pasti akan dibalas.

Oke supaya kita lebih memahami coba kita lihat seseorang yang berbuat maksiat kemudian hidupnya tetap tampak baik-baik/baisa-biasa saja.

Lantas, tanpa sadar, hati kita mulai berbisik, Benarkah azab itu benar nyata adanya? Dan juga Benarkah dosa itu selalu berbalas?

Namun ketika kita mau untuk duduk sejenak, menengok kembali perjalanan kisah masa lalu, dan juga kemudian kita membaca ulang ayat-ayat suci dengan hati yang terbuka, maka kita akan menemukan kenyataan yang tidak akan pernah berubah sepanjang zaman uamt manusia yaitu Allah Swt. tidak pernah lalai.

Pertama, Dosa Itu Ibarat Bara Api yang Kita Genggam Sendiri

Kebanyakan dari kita sering membayangkan bahwa azab itu sebagai sesuatu yang datangnya dari luar diri kita seperti halnya petir, gempa, bencana, ataupun kejadian-kejadian besar lainnya.

Padahal kalau kita sadari azab itu mulai tumbuh perlahan dari dalam diri kita sendiri misal rasa kegelisahan, hilangnya ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sirnanya keberkahan, atau bahkan hati kita yang semakin gelap.

Sebagaimana Allah Swt. sudah memperingatkan di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat ke-172 sebagai berikut:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ
 “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah.”

Ayat diatas mengajarkan kepada kita semua bukan hanya soal makanan saja, akan tetapi juga tentang menjaga diri dari apa pun itu yang “tidak baik”.

Baca Juga:  Rasa Bersalah: Sebuah Batu Loncatan Menuju Taubat dan Perbaikan Diri

Karena setiap ketidakbaikan yang sengaja kita lakukan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Sebab sejatinya Allah Swt. tidak menzalimi siapa pun, manusia lah yang menzalimi dirinya sendiri.

Kedua, Setan Tidak Pernah Lelah dengan Tugasnya Menjatuhkan Kita

Pada dasarnya setan tidak peduli akan siapa kita entah itu mahasiswa, guru, santri, pejabat, atau pun rakyat.

Ia hanya ingin satu hal yaitu agar kita tidak bersyukur atas nikmat-nikmat Allah Swt.

Sebab seseorang yang berhenti bersyukur maka itu akan membuka pintu dosa yang seluas-luasnya.

Bukankah kita sering merasakannya sendiri?, ketika kita lupa untuk senantiasa bersyukur, justru kita lebih mudah untuk mementing ego dan hawa nafsu kita sendiri.

Mungkin saja ketika kita kurang untuk bersyukur, lebih mudah iri. Maka dengan rasa syukur yang hilang itu, bisa jadi ketika kita berbuat dosa itu terasa ringan begitu saja, oleh sebab itulah awal dari azab yang nyata.

Karena azab sendiri tidak selalu dalam bentuk bencana yang besar, akan tetapi bisa saja berupa hilangnya kemampuan kita menikmati nikmat paling kecil sekalipun yang datangnya dari Allah Swt..

Ketiga, Pelajaran dari Raja Namrud: Ketika Kekuasaan Menipu, Maka Azab Menjemput Tanpa Aba-Aba

Kita mengenal seorang Namrudz sebagai sosok raja angkuh yang menantang Allah Swt.

Betapa kejamnya Ia membakar Nabi Ibrahim As. Ia menertawakan kebenaran. Tapi lihat bagaimana Allah Swt. membalasnya yang disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Quran surat An-Nahl ayat ke-26 sebagai berikut:

Baca Juga:  Pandangan Islam terhadap Penyimpangan Seksual LGBT

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُم مِّنَ الْقَوَاعِدِ
 “Orang-orang sebelum mereka membuat tipu daya, lalu Allah menghancurkan rumah mereka dari pondasinya.”

Dari ayat diatas dapat kita ambil hikmah bahwasanya Azab Allah Swt. tidak selalu dalam bentuk sesuatu yang besar.

Contohnya Raja Namrud dihancurkan hanya dengan seekor nyamuk makhluk yang jauh lebih kecil daripada ukuran dirinya.

Begitupun dengan dosa-dosa kita, mungkin saja kecil di mata kita dan sering dianggap hal yang enteng, akan tetapi ia bisa menjadi nyamuk Namrud bagi kehidupan kita di dunia ini dengan menggerogoti secara perlahan dari dalam tanpa kita sadari selama ini.

Keempat, Dosa itu Selalu Berbalas, Akan Tetapi Allah Swt. Selalu Memberikan Jalan Pulang

Kita mungkin merasa takut ketika membaca ayat-ayat azab di dalam Kitab Suci Al-Quran.

Namun perlu kita ketahui bersama bahwa sebenarnya Allah Swt. lebih suka mengampuni daripada menghukum.

Karena sejatinya hukum tentang azab bukan untuk menakut-nakuti diri kita sebagai seorang manusia, akan tetapi untuk menggugah kesadaran agar diri kita ini berhenti sejenak dengan menengok kembali sikap dan perbuatan dalam hidup kehidupan kita sehari-hari, kemudian memeriksa kondisi hati kita apakah ada penyakit di dalamnya, dan juga berkata kepada diri kita masing-masing, “Apa yang sebenarnya sedang aku genggam? Nur Cahaya atau dosa?”

Maka dari itu mengajarkan satu hal yaitu dosa itu akan selalu berbalas, akan tetapi rahmat kasih sayang Allah Swt. selalu lebih mendahului murka-Nya.

Baca Juga:  Ketika Ucapan Jujur Mengubah Takdir: Teladan Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Mungkin dari setiap kesalahan yang kita buat merupakan undangan untuk kembali pulang kepada Allah Swt., bukan untuk tenggelam jauh lebih dalam lagi.

Mulai sekarang mari kita jaga diri dan hati kita, senantiasa bersyukur, kita terus berjuang untuk melawan godaan setan, dan juga kita selalu mohon pertolongan kepada Allah Swt. agar tetap berada di jalan-Nya.

Karena sesungguhnya hidup di dunia ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kegelapan ketika Allah Swt. selalu menyediakan cahaya untuk para Hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Semoga bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5

Related Posts

Latest Post