almuhtada.org – Sejak kapan pernikahan dijadikan perlombaan, di mana yang paling cepat dianggap paling berhasil? Pada hakikatnya, pernikahan bukan soal siapa duluan, melainkan soal siapa yang paling siap. Tidak ada pernikahan tanpa persiapan, dan setiap persiapan selalu membutuhkan waktu.
Menikah bukan sekadar “yang penting sah,” melainkan tentang menemukan ketepatan, waktu yang tepat ketika urusan diri telah selesai, mental matang, dan spiritual siap melangkah lebih jauh. Menikah juga tentang menemukan orang yang tepat, yaitu satu visi dan misi untuk membangun rumah tangga, tumbuh bersama, dan mandiri sebagai keluarga, bukan sekadar memenuhi tuntutan sosial.
Kecepatan sering kali dikalahkan oleh alasan yang tepat. Dalam QS. Al-Furqan ayat 74, Allah Swt menggambarkan pasangan sebagai qurrata a’yun yang artinya penyenang hati. Itulah kualitas yang sejatinya dicari dari pasangan yang menenangkan, bukan sekadar siapa saja yang siap menikah hari ini. Jika sosok itu belum ditemukan, tidak ada kewajiban untuk terburu-buru menuju pernikahan.
Penyenang hati adalah mereka yang telah selesai dengan dirinya sendiri, siap secara emosional, dan dewasa dalam menghadapi konflik. Kita tidak hanya ingin hidup bersama, tetapi berjalan bersama seseorang yang menjadi tempat pulang paling menyenangkan. Semua itu tidak instan, tetapi lahir dari persiapan yang matang.
Sayangnya, ada pula yang ingin menikah hanya untuk lari dari ketakutan, entah takut kesepian, takut terhadap komentar orang lain, atau tekanan lingkungan. Padahal, menikah adalah tentang mempersiapkan masa depan, tentang bagaimana mengasuh anak, mengelola keuangan, dan membangun komunikasi yang sehat. Persiapan inilah yang justru mengurangi ketakutan dalam rumah tangga kelak.
Pada akhirnya, tidak semua hal layak dibandingkan, terlebih soal kecepatan. Ada yang siap finansial tetapi belum matang mentalnya, ada yang siap mental namun masih menyelesaikan tanggung jawab, ada pula yang menunggu lingkungan yang aman untuk membangun keluarga. Jika titik awal berbeda, maka waktu persiapan pun wajar bila tidak sama. Karena yang tepat akan selalu terasa lebih nikmat, meski datangnya tidak secepat orang lain. [Shokifatus Salamah]











