Almuhtada.org – Manusia sering mengira bahwa masalah terbesar dalam hidup adalah keterbatasan. Padahal persoalan hidup kembali pada dasar yaitu pilihan.
Sadar atau tidak, setiap manusia hidup dalam tekanan untuk memilih arah hidupnya. Pilihan itu bukan melulu perihal karier atau gaya hidup. Melainkan orientasi nilai, untuk siapa dan demi apa hidup yang dia jalani.
Secara garis besar, manusia berhadapan dengan tiga pilihan utama diantaranya adalah:
Hidup menjadi apa yang orang lain mau.
Hidup menjadi yang diinginkan orang lain memang pilihan yang aman sekaligus paling umum. Manusia menyesuaikan diri dengan harapan keluarga, tuntutan sosial, dan standar lingkungan demi diterima dan diakui.
Pada situasi tertentu pilihan ini tampak lebih rasional, tetapi mengobarkan identtitas dirinya sendiri.
Di sisi lain mungkin stabilitas sosial terjaga dan konflik dapat diminimalkan.
Di sisi lain juga terdapat nilai diri yang bergantung pada validasi eksternal.
Terkadang hidup semacam ini sering disebut pengorbanan, padahal tidak jarang ia hanya berdiri di belakang rasa takut bahkan takut bertanggung jawab pada diri sendiri.
Hidup dengan apa yang diri sendiri mau
Manusia berusaha ingin dipuji dengan mengekpresikan diri sendiri.
Manusia berusaha jujur pada keinginan, mengejar passion, dan menolak dikekang oleh norma.
Secara moral, pilihan ini tampak autentik. Namun, di sisi lain masalah muncul, keinginan tidak selalu sadar dari kesadaran yang objektif terkadang diselingi dengan keinginan subjektif bahkan nafsu.
Banyak keinginan yang didorong oleh dorongan sesaat yang kemudian dibungkus dengan narasi hak manusia hidup bebas. Padahal hidup sering kepas dan sering kehilangan kompas dan tanggung jawab sosial.
Hidup dengan apa yang Allah mau
Pilihan ketiga ini merupakan topik yang sering menjadi pembicaraan manusia.
Seringkali hanya dijadikan pembicaraan saja, tetapi dalam pelaksanaannya jarang dijalani secara serius.
Pilihan ini kerap disalahpahami sebagai kepasrahan buta atau penyangkalan diri.
Hidup berdasarkan kehendak Allah menuntut penundukan ego, pengendalian hasrat, dan keberanian untuk berbeda, baik dari tekanan sosial maupun dari keinginan pribadi.
Pilihan ini tidak selalu menawarkan rasa nyaman dan selalu menguntungkan. Namun, pilihan ini menawarkan orientasi moral yang stabil dan makna yang melampaui kepuasan sesaat.
Ketiga pilihan ini nyata dan sering saling tumpang tindih dalam hidup. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh orang lain, keinginan diri, atau tuntutan iman.
Namun, dua pilihan pertama pada akhirnya tetap berpusat pada manusia, sedangkan pilihan ketiga menuntut tanggung jawab yang lebih luas. Karena hidup bukan hanya soal kepuasan atau pujian, tetapi berani menanggung akibat dari pilihan yang diambil.[]Lailia Lutfi Fathin










