almuhtada.org – Siapa yang bisa kita andalkan ketika sedang sedih? Siapa yang bisa kita andalkan ketika rasanya seluruh dunia tidak berpihak kepada kita?
Mungkin jawaban pertama yang terlintas adalah keluarga, sahabat, atau orang-orang terdekat. Namun, pada akhirnya ada satu sosok yang akan selalu bersama kita dalam setiap keadaan adalah diri kita sendiri.
Belakangan ini kita akrab dengan kalimat memaafkan diri sendiri. Kalimat ini terdengar sederhana. Akan tetapi, semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa kita sebenarnya tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana cara memaafkan diri sendiri.
Sejak kecil, kita mengenal konsep memaafkan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan orang lain. Ketika bertengkar dengan teman, kita diminta meminta maaf. Ketika melakukan kesalahan kepada seseorang, kita diajarkan untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Namun, tidak banyak yang mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika orang yang paling sulit kita maafkan adalah diri kita sendiri.
Baru-baru ini, saya berbincang dengan seorang teman. Percakapan kami mengalir hingga membahas pengalaman masa lalu yang masih membekas dalam dirinya. Meski peristiwa itu telah lama berlalu, pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Ia menjadi lebih defensif, lebih berhati-hati, dan sering kali menyalahkan dirinya sendiri atas banyak hal.
Setelah mendengarkan ceritanya, saya menyadari bahwa barangkali luka yang ia rasakan bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi, tetapi juga tentang kemarahannya terhadap dirinya sendiri. Ada bagian dalam dirinya yang belum selesai menerima masa lalu tersebut.
Namun, benarkah memaafkan diri sendiri sesederhana yang sering dikatakan orang?
Saya rasa tidak.
Mudah bagi kita untuk mengatakan kepada orang lain agar berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Mudah pula memberikan nasihat tentang pentingnya berdamai dengan masa lalu. Akan tetapi, ketika berada pada posisi yang sama, kita sering kali kesulitan melakukan hal tersebut. Saya pun demikian.
Mungkin karena memaafkan diri sendiri bukan sekadar keputusan yang bisa dibuat dalam semalam. Tidak jarang, apa yang kita sebut sebagai kegagalan memaafkan diri sendiri sebenarnya adalah kegagalan memahami diri sendiri. Kita terburu-buru meminta diri untuk sembuh, padahal luka itu belum pernah benar-benar kita dengarkan. Kita menuntut diri untuk kuat, padahal kita belum memberi ruang bagi diri untuk merasa lemah.
Barangkali memaafkan diri sendiri bukan tentang melupakan masa lalu atau menganggap kesalahan yang pernah terjadi tidak penting. Barangkali memaafkan diri sendiri adalah menerima bahwa kita pernah terluka, pernah keliru, pernah gagal, dan tetap memilih melanjutkan hidup tanpa terus-menerus menghukum diri. [Khariztma Nuril Qolbi Barlanti]











