Almuhtada.org – Setiap keyakinan yang kita pilih selalu membawa tanggung jawab. Tanggung jawab itu tidak hanya berlaku pada hal-hal besar, tetapi juga pada hal-hal yang sering dianggap sederhana, seperti prinsip hidup, opini pribadi, hingga keyakinan dalam beribadah. Manusia memang diberikan kebebasan untuk memilih, namun kebebasan tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap pilihan terdapat konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam kehidupan, sering kali kebenaran kalah suara ketika manusia mulai sibuk mempertahankan pendapat masing-masing. Setiap kelompok ingin menjadi yang paling benar tanpa terlebih dahulu melihat di mana letak kebenaran itu sendiri. Perbedaan pandangan memang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, manusia juga dianugerahi akal dan hati untuk mencari serta membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Hal ini dapat kita renungkan melalui kisah Nabi Isa a.s. yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:
“Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya.” (QS. Maryam: 34)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Isa a.s. menyampaikan kebenaran tentang dirinya, yaitu ibunya Maryam, dan kekuasaan Allah Swt. Dalam Tafsir Al-Mawardi dijelaskan bahwa al-Haqq dapat dimaknai sebagai Allah Swt Yang Maha Benar, sehingga ayat ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan tentang Nabi Isa merupakan kebenaran yang datang dari Allah Swt. Selain itu, Nabi Isa a.s. juga disebut membawa kebenaran melalui risalah yang diembannya.
Namun, meskipun kebenaran telah disampaikan dengan jelas, manusia tetap berselisih paham mengenai dirinya. Sebagian menganggap Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan, sementara sebagian lainnya menuduhnya dengan tuduhan yang tidak benar. Padahal Nabi Isa a.s. telah menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana Allah Swt menciptakannya melalui rahim Maryam tanpa campur tangan seorang ayah.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak berubah hanya karena banyak orang meragukannya. Kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun jumlah orang yang mempercayainya sedikit. Sebaliknya, kesalahan tidak akan berubah menjadi benar hanya karena banyak orang mengikutinya.
Sebagai manusia, kita memiliki hak untuk memilih apa yang ingin kita percayai. Namun, setiap kepercayaan yang kita pegang akan dimintai pertanggungjawaban. Pada akhirnya, mungkin akan muncul pertanyaan yang harus kita jawab di hadapan Allah Swt.: “Atas dasar apa kamu mempercayai itu? Apakah karena kebenaran atau sekadar mengikuti orang lain?”
Dalam kehidupan sehari-hari, keyakinan membentuk siapa diri kita. Apa yang kita tanamkan dalam hati akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Ketika seseorang meyakini bahwa kejujuran adalah prinsip yang harus dijaga, mungkin jalannya terasa lebih berat dan lambat. Namun, ketenangan hati akan selalu menyertainya. Sebaliknya, jika seseorang meyakini bahwa keuntungan adalah tujuan utama tanpa memperhatikan halal dan haram, maka ia akan lebih mudah membenarkan segala cara demi mencapai keinginannya.
Pada akhirnya, kepercayaan bukan hanya tentang apa yang kita yakini hari ini, melainkan tentang apa yang akan kita bawa ketika menghadap Allah Swt. Kelak, bukan banyaknya pengikut atau kuatnya opini yang menjadi ukuran, tetapi sejauh mana kita berusaha mencari dan mengikuti kebenaran.
Maka, pilihlah keyakinan dengan ilmu, peluklah dengan iman, dan pertanggungjawabkanlah dengan amal. Sebab setiap keyakinan yang kita pegang hari ini akan menjadi jawaban atas perjalanan hidup yang kita tempuh dan akan menjadi bekal ketika kembali kepada-Nya. [Shokifatus S]











