Kisah Tauladan: Imam Malik dan Kumpulan Santri Malas

kisah Imam Malik dan santrinya
Gambar ilustrasi kisah Imam Malik dan santrinya (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Imam Malik merupakan seorang ulama yang terkenal dengan keilmuwannya. Beliau merupakan pendiri dari Madzhab Maliki yang di gandrungi oleh muslim awam di masa sekarang.

Imam Malik memiliki banyak sekali murid yang mewarisi keilmuwan beliau diantaranya adalah Imam Yahya bin Yahya. Beliau adalah salah satu ulama asal Andalusia yang berguru dengan beliau di Madinah.

Imam Yahya ini menceritakan kisah beliau saat bertemu pertama kalinya dengan sosok Imam Malik hingga menjadi pelajaran penting dalam hidupnya.

Suatu saat diceritakan Imam Yahya menjadi pertama yang menghadiri majelis Imam Malik untuk menuntut ilmu. Imam malik kemudian bertegur sapa dengan Imam Yahya.

“Siapa namamu, wahai anak muda?” Tanya imam Malik.

Sapaan tersebut dibalas dengan sopan oleh Imam Yahya”Namaku Yahya”.

Melihat Imam Yahya yang Nampak bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu, Imam Malik kemudian menceritakan tentang sebuah kisah kepada Imam Yahya yang bisa menumbuhkan semangatnya dalam menuntut ilmu.

Imam Malik pun mulai bercerita kepada Imam Yahya. Diceritakan suatu hari terdapat seorang remaja yang berasal dari Negara Syam tiba di kota Madinah. Dirinya begitu muda dan Nampak bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu.

Namun tuhan ternyata berkehendak lain dan mengambil usianya di usia yang begitu muda. Imam Malik bercerita bahwasanya dirinya belum pernah melihat kondisi jenazah yang begitu elok nya di Madinah.

Baca Juga:  Kisah Kaum Nabi Hanzhalah yang Diazab oleh Allah Swt Menjadi Batu

Sesaat setelah kabar pemuda ini meninggal, banyak masyarakat berbondong bonding antusias untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman.

Ulama Madinah mengajukan nama Imam Rabi‘ah. Imam Rabiah, Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa’id, Ibnu Syihab, termasuk ulama yang paling dekat dengan mereka, Muhammad Ibnu Munkadir, Shafwan bin Salim, Abu Hazim, dan ulama terkemuka lainnya menurunkan jenazah ke liang lahat. Imam Rabi’ah menyusun batu bata pada lahatnya.

Usai tiga hari pemakamannya, terdengar lagi cerita bahwa terdapat wali Allah yang memimpikan pemuda tersebut berpenampilan putih nan elok. Pemuda itu Nampak memakai sorban hijau dan tengah menunggang kuda kelabu yang sangat bagus. Dirinya turun dari langit dan berbincang kepada si wali.

Pemuda tersebut kemudian menceritakan bahwasanya keadaanya yang demikian bukandisebabkan oleh keberkahan ilmu yang dia dapat.

“Allah memberikanku satu derajat yang begitu tinggi di surga atas setiap bab dalam satu disiplin ilmu yang kupelajari. Namun demikian, derajat-derajat yang begitu tinggi itu tetap tidak membuatku sederajat dengan para ulama. Tetapi Allah yang maha pemurah berkata kepada malaikat, ‘Tambahkan derajat itu kepada ahli waris para nabiku.

Aku telah menetapkan dalam diri-Ku bahwa siapa saja yang wafat dalam kondisi memahami sunnah-Ku dan sunnah para nabi-Ku, atau dalam keadaan menuntut ilmu terkait dengannya, niscaya Kukumpulkan mereka dalam satu derajat yang sama. Allah menganugerahkan kepadaku hingga aku meraih derajat para ulama. Aku dan Rasulullah hanya terpaut dua derajat.

Baca Juga:  Kisah Ulama Bani Israil: Ibadah 70 Tahun Tapi Masuk Neraka

Pertama adalah derajat di mana ia bersama para nabi tinggal. Kedua adalah derajat para sahabat Nabi Muhammad SAW dan sahabat para nabi yang menjadi pengikut nabi-nabi di zamannya masing-masing. Di bawah itu adalah derajat ulama dan para santri mereka.”

Allah telah menambah halaqah tambahan derajat untuk pemuda ini. Pemuda ini mengatakan Allah berjanji untuk mengumpulkanku bersama para nabi sebagaimana kusaksikan mereka pada rombongan yang sama. Aku bersama mereka hingga hari kiamat tiba.

Bila hari kiamat yang dijanjikan tiba, Allah berkata, ‘Wahai sekalian ulama. Inilah surgaku. Kuizinkan surga ini untuk kalian. Inilah ridha-Ku. Aku telah meridhai kalian. Jangan kalian masuk surga terlebih dahulu sebelum berdiam untuk memberikan syafaat kepada siapa saja yang kalian kehendaki.

Aku juga memberikan mandat agar kalian memberikan syafaat kepada mereka yang meminta syafaat kalian agar aku dapat memperlihatkan kepada semua hamba-Ku betapa tinggi kemuliaan dan kedudukan kalian,”

Setelah terbangun dari tidurnya, si wali kemudian menceritakan mimpinya ke khalayak ramai kota Madinah. Imam Malik pun bercerita kepada Imam Yahya bahwasanya dahulu terdapat sekumpulan santri yang senang memnuntut ilmu.

Namun seiring berjalannya waktu semangat dari mereka pun kian memudar hingga berhenti. Namun setelah mendengar kabar tersebut, mereka kemudian kembali bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu.

Kesungguhan mereka kemudian yang membuat mereka sekarang menjadi para ulama yang terkenal dan terkemuka di kota Madinah. [] Nailatuz Zahro

Baca Juga:  Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Azzahrah

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post