Perang Khandaq, Perang Strategi Parit!

Sejarah Perang Khandaq
Gambar Ilustrasi Sejarah Perang Khandaq (Pixabay.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Perang Khandaq atau disebut Perang Ahzab, Perang Konfederasi. Mengenai kenapa perang ini disebut perang ahzab/konfederasi sudah dijelaskan penulis di tulisan sebelumnya.

Pembaca dapat membaca tulisan sebelumnya secara mandiri. Namun, penulis akan sedikit menceritakan mengenai hal di atas secara singkat.

“Ahzab” sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti “golongan yang bersekutu”. Perang ini dinamakan demikian karena pada perang ini, salah satu pihak (dari dua pihak yang berperang) bersekutu dengan suku/kaum lain di tanah Arab.

Pada perang ini, kaum muslimin menghadapi pasukan koalisi musuh yang terdiri dari Kafir Quraisy, Bani Nadhir, Bani Qainuqa, Bani Ghatafan, Bani Asad, dan beberapa suku lain di tanah Arab. Itulah kenapa perang ini disebut Perang Ahzab atau Perang Konfederasi.

Di Perang Ahzab/Khandaq, kaum muslimin menghadapi musuh yang berjumlah tidak kurang dari 10.000 pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan (kaum Quraisy Makkah).

Namun, walaupun dipimpin oleh Quraisy Makkah, yang menginisiasi penyerangan kepada kaum muslimin adalah kaum Yahudi Bani Nadhir.

(Sekali lagi penulis sampaikan, mengenai hal yang lebih rinci tentang latar belakang terjadinya Perang Khandaq bisa pembaca lihat di artikel sebelumnya dengan judul “Perang Khandaq, Penyebab Terjadinya Perang Koalisi!” atau bisa dicari secara mandiri di artikel lain terkait)

Kemudian, alasan kenapa perang ini juga disebut “Perang Khandaq”. Khandaq sendiri berasal dari Bahasa Persia “kandak” yang berarti parit. Perang ini dinamakan demikian karena pada perang ini, kaum muslimin menggunakan startegi menggali parit untuk menghalau pasukan musuh.

Baca Juga:  Kisah Cinta Rasulullah dengan Khadijah yang Sangat Indah

Lalu, kenapa sebenarnya pasukan muslim memilih strategi menggali parit dalam perang ini?

Hari Perang Khandaq – Bagian Geografis Madinah

Sebelumnya, penulis sudah membahas mengenai terbentuknya pasukan koalisi, setelah melalui konsolidasi, dan akhirnya akan berangkat untuk menyerang kaum muslimin di Madinah dengan 10.000 pasukannya.

Nabi Muhammad Saw. mendengar kabar tentang penyerangan itu (mengenai dari siapa informasi penyerangan itu diperoleh, penulis belum menemukan sumbernya dari literatur yang dibaca penulis) dan langsung mengumpulkan kaum muslimin untuk membahas mengenai bagaimana cara menghadapi pasukan musuh yang berjumlah 10.000 itu.

Kemudian ketika sedang berdiskusi, salah satu sahabat Rasulullah Saw. yang bernama Salman al-Farisi mengusulkan untuk membuat parit yang dalam agar pasukan musuh tidak bisa mencapai Madinah.

Salman al-Farisi sendiri merupakan sahabat Nabi yang berasal dari Persia, dan memang, strategi ini umum diterapkan di Persia jika mengalami keadaan terdesak atau ketakutan.

Strategi ini diusulkan karena melihat medan di sekitar Madinah yang juga mendukung terealisasinya strategi ini. Karena, Madinah sendiri merupakan wilayah yang diapit oleh 2 bukit besar di bagian timur dan barat, dan juga terdapat banyak pepohonan-pepohonan di daerah selatannya.

Letak Madinah yang seperti dilingkari oleh kedua bukit dan juga pepohonan, membuat satu-satunya daerah yang bisa dimasuki oleh pasukan musuh adalah dari arah utara.

Karena sekali lagi, Madinah dilingkari oleh medan-medan yang sulit dilewati, apalagi oleh pasukan besar yang berjumlah 10.000.

Baca Juga:  The Guardian of Al-Quds: Pertolongan Allah Sungguh Dekat!

Maka, usulan untuk membuat parit ini diterima oleh Nabi Muhammad Saw. dan tentu saja parit akan dibuat mengitari bagian utara Madinah, bagian yang terbuka dan sangat berpotensi untuk dilakukan penyerngan.

Kemudian dibangunlah parit yang menghubungkan antara dua bukit yang kurang lebih berjarak sekitar 4-5 km, dengan lebar 5 meter, dan tinggi 3 meter (tentang lebar, tinggi, dan panjang parit ini sebenarnya ada beberapa perbedaan dari literatur yang dibaca penulis, tapi penulis disini memakai angka yang cukup sering muncul dan juga penulis bulatkan agar mendapat angka yang pasti).

Pada saat peristiwa Perang Khandaq ini terjadi, Madinah saat itu sedang dilanda musim paceklik, dan karena sebab itulah persediaan makanan yang ada di dalam kota juga hanya sedikit.

Meskipun begitu, para sahabat Nabi tetap melakukan apa yang Nabi perintahkan untuk membuat parit dan tentu saja Nabi Muhammad Saw. pun ikut dalam proses pembuatan parit ini.

Diriwayatkan pula, bahwa pada saat pembangunan parit ada mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Namun, pembahasan lebih lanjut mengenai hal itu, akan penulis sampaikan kemudian, Insya Allah.

Tadi sudah dibahas mengenai potensi dilakukannya strategi parit di Madinah pada Perang Khandaq dan selanjutnya baru akan dimulai bahasan tentang hari saat Perang Khandaq. [] Abian Hilmi

Related Posts

Latest Post