Ngaji Bareng Gus Baha: Nasihat Bagi Orang Berakal dalam Suhuf Nabi Ibrahim

Potret Ngaji Bareng Gus Baha
Potret Ngaji Bareng Gus Baha (Dok. Pribadi - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Pada Jumat (5/1/2024), diadakan Ngaji Bareng Gus Baha yang berlokasi di Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah.

Ngaji Bareng Gus Baha rutin diselenggarakan sebulan sekali, tepatnya hari Jumat pertama setiap bulannya pada kalender masehi. Waktu ngajinya dimulai setelah sholat Jumat yaitu pukul 13.30 WIB.

Gus Baha sendiri merupakan salah ulama kharismatik asal Rembang Jawa Tengah yang telah tersohor diseluruh Indonesia.

Disetiap pertemuannya, banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk ikut mengaji dan mendengarkan nasihat Gus Baha. Tidak heran, jika dalam waktu singkat Masjid Menara Kudus langsung penuh jamaah sampai meluber ke pelataran luar masjid dan komplek makam Sunan Kudus.

Dalam pertemuan kali ini, Gus Baha mengkaji kitab Shohih Bukhori mengenai bab membeli barang, hibah, dan memerdekakan budak dari orang kafir harbi.

Setelah mengkaji bab ini, Gus Baha pada sesi akhir ngajinya memberikan beberapa nasihat kepada jamaah yang diambil dalam suhuf Nabi Ibrahim.

Gus Baha mengutip isi suhuf Nabi Ibrahim dari kitab at-Targhib wat-Tarhib karya Imam Zakiyyuddin Abdul Adhim al-Mundziri. Isi suhuf Nabi Ibrahim semuanya berisi perumpamaan. Di dalam suhuf tersebut, ada beberapa nasihat penting bagi orang berakal.

وعَلَى العَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوْبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ سَاعَاتٌ، فسَاعَةٌ يُنَاجِي فِيْهَا رَبَّهُ، وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيْهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيْهَا فِي صُنْعِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيْهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ.

Baca Juga:  Mahasantri Gema Aditya Mahendra Menerima Anugerah Mahasiswa Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah dari LLDIKTI Wilayah VI

Pada sepenggal isi suhuf Nabi Ibrahim diatas, Gus Baha menjelaskan bahwa bagi orang berakal selagi pikiran atau akalnya tidak stres atau masih sehat, hendaknya dia untuk membagi waktunya.

Pertama, waktu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Munajat artinya mengadukan permasalahan hidup kepada Allah serta memohon pertolongan, ampunan, hidayat, dan belas kasih-Nya. Munajat diibaratkan seperti melakukan komunikasi atau hubungan secara personal antara seorang hamba dengan tuhannya.

Kedua, waktu untuk introspeksi diri (muhasabah). Orang berakal sudah sepatutnya untuk senantiasa muhasabah atas segala yang telah dilakukan.

Muhasabah merupakan bagian dalam upaya mengoreksi diri atas kekurangan ataupun kesalahan kita sebelumnya agar diperbaiki di kemudian hari.

Muhasabah menjadi momentum untuk membersihkan diri kita dari segala dosa yang telah diperbuat dengan meminta ampunan kepada Allah.

Harapannya dengan bermuhasabah ini, kita bisa menyesal atas kesalahan yang diperbuat dan berjanji untuk tidak mengulangi hal serupa di lain waktu.

Ketiga, bertafakur atas ciptaan Allah SWT. Bagi orang berakal, bertafakur menjadi hal penting agar ia memiliki waktu untuk merenungkan dan mengingat kebesaran, kekuasaan, dan keagungan Allah melalui segala ciptaan-Nya, baik yang ada di langit maupun di bumi.

Kita bisa bertafakur dengan mengkaji semua peristiwa, fenomena, atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, bagaimana kebesaran Allah dalam menciptakan seekor semut yang ukurannya sangat kecil, mulai dari mata, mulut, saluran pencernaan, dan lainnya. Dengan bertafakur, kita akan menjadi seorang hamba yang semakin beriman, bersyukur, rendah hati, dan menghilangkan rasa sombong dalam diri kita.

Baca Juga:  Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Raih Juara 3 Dalam Ajang Essai Nasional di Aceh

Keempat, menyendiri ketika sedang makan dan minum. Dalam hal ini, Gus Baha menerangkan jika seseorang akan makan maupun minum, hendaknya ia untuk menyendiri atau tidak berada dalam keramaian. Ini bertujuan agar orang yang makan dan minum itu merasa nyaman dan tidak terganggu.

Itulah empat nasihat penting bagi orang berakal yang dikutip dari suhuf Nabi Ibrahim. Dengan mengetahui isi nasihat tersebut, kita sebagai hamba Allah SWT untuk bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bis-showab. [] Mohammad Fattahul Alim

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post