Pergi ke Mekkah Hanya Untuk Mengantarkan Bakiak! Ini Kisah Ahmad, Santri Kyai Kholil Bangkalan Yang Terkenal Bodoh Tapi Punya Karomah Tersembunyi

Kisah Santri Kyai Kholil Bangkalan
Gambar Ilustrasi Kisah Santri Kyai Kholil Bangkalan (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Seorang santri adalah pelajar yang menimba ilmu di pondok pesantren baik itu ilmu agama ataupun ilmu umum. Karena itu aktivitas yang dilakukan oleh santri tentunya berbeda jauh dengan aktivitas yang dilakukan oleh pelajar biasa.

Apalagi santri di zaman dahulu yang mana mereka mempelajari ilmu dengan cara yang tidak disangka – sangka. Biasanya santri yang memiliki hubungan dekat dengan Kyai itu mempelajari suatu ilmu dengan cara yang tidak disangka- sangka.

Salah satunya kisahnya adalah miliki seseorang bernama Ahmad yang mana ia adalah santri dari Kyai Kholil yang terkenal akan karomah beliau.

Ia bukanlah santri yang biasa mengaji kitab kuning seperti santri lain, tapi di pondok ia hanya disuruh untuk memberi makan ayam peliharaan Kyai Kholil.

Ia melakukannya setiap hari dengan patuh karena itu adalah arahan dari Kyai Kholil sendiri dan ia tidak pernah melanggar perintah beliau karena ia sangat cinta dengan Kyai Kholil.

Pernah dalam suatu waktu ia telat shalat berjama’ah dipondok, lalu ia dipanggil oleh Kyai Kholil untuk menghadap. Kyai Kholil menanyakan mengapa ia tidak shalat sendiri ketika ia telat jama’ah dan ia menjawab bahwa ia tidak tahu bacaan dalam shalat tersebut.

Ini menunjukkan bahwa ia agak bodoh karena ketika mondok ia hanya disuruh untuk memberi makan ayam Kyai. Lalu Kyai Kholil menyuruh Ahmad untuk menirukan syahadat yang beliau ucapkan tapi Ahmad tidak bisa menirukannya. Maka Kyai Kholil memberikan kalimat lain untuk ditirukan yaitu kalimat “Beton 10 diambil 9 tinggal 1 Allahuakbar”.

Baca Juga:  Kisah Al-Qamah yang Sulit Mengucap Kalmiat Syahadatain saat Sakaratul Maut

Kalimat tersebut bisa ditirukan oleh Ahmad sehingga Kyai Kholil menyuruh Ahmad jika ia telat lagi shalat berjama’ah maka ia bisa melakukan shalat tiga raka’at dengan membacakan kalimat tersebut.

Kemudian pada suatu hari Kyai Kholil melakukan ibadah Haji di Mekkah, sementara Ahmad yang sedang memberikan makan ayam melihat Bakiak milik Kyai Kholil tertinggal dihalaman rumah beliau. Mengetahui hal ini Ahmad menangis karena Bakiak tersebut tertinggal dan ia khawatir akan keadaan Kyai Kholil disana.

Karena itu ia berniat untuk mengantarkan Bakiak tersebut kepada Kyai Kholil di Mekkah. Tapi ia bingung bagaimana caranya untuk dia mengantarkan Bakiak tersebut kesana karena jaraknya sangat jauh antara Madura ke Mekkah.

Akhirnya ia memegang Bakiak milik Kyai Kholil dan menutup mata dengan niat yang sungguh – sungguh untuk mengantarkan Bakiak tersebut pada Kyai Kholil. Ia mengucapkan kalimat yang diajarkan Kyai Kholil padanya, “ beton 10 diambil 9 tinggal 1 Allahuakbar”.

Ajaibnya ketika ia membuka mata posisinya sudah berada di belakang Kyai Kholil yang ada di Mekkah. Ia pun mengucapkan salam pada Kyai Kholil dan Kyai Kholil menjawab salam yang datang dari arah belakangnya.

Namun betapa terkejutnya Kyai Kholil melihat bahwa yang mengucap salam adalah Ahmad. Beliau menanyakan bagaimana caranya Ahmad bisa menyusul ke Mekkah dan apa tujuannya kesini.

Ahmad pun menjawab ia datang dengan mengucapkan kalimat yang beliau ajarkan padanya. Adapun tujuannya untuk mengantarkan Bakiak Kyai Kholil yang tertinggal di ndalem beliau.

Baca Juga:  Biografi Imam Al Ghazali: Sang Jenius Pencari Hakikat

Kyai Kholil pun memakai Bakiak yang diantar oleh Ahmad dan menanyakan apakah ia mau menetap dulu di Mekkah bersama beliau. Namun Ahmad menolak tawaran tersebut karena ia masih harus merawat ayam milik Kyai Kholil.

Akhirnya ia pulang ke Madura dengan menutup mata dan membaca kalimat tersebut. Ketika ia membuka matanya ia sudah kembali ke pondok pesantrennya yang ada di Madura.

Dari cerita ini kita bisa melihat bahwa meskipun Ahmad itu bodoh sampai tidak tahu bagaimana untuk membaca syahadat. Tapi kecintaannya pada Kyai Kholil membuat ia memiliki karomah tersembunyi yang sangat luar biasa. [] Idha Fitri Nuril Layliyah

Editor: Mohannad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post