Ternyata Seperti Ini Makna Syukur Sebenarnya, Simak Penjelasannya Sebagai Berikut

Makna dari Syukur
Gambar Ilustrasi Makna dari Syukur (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Syukur merupakan sebuah perbuatan yang telah banyak dikenalkan untuk umat manusia di seluruh dunia. Allah sangat banyak menyampaikan perintah kepada kita untuk selalu bersyukur.

Salah satu perintah ada pada Surah Al-Baqarah ayat 152 sebagai berikut.

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Artinya: Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.

Apresiasi atau hadiah yang Allah berikan ketika kita mampu bersyukur juga tak kalah menakjubkan, yaitu terdapat pada Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7 sebagai berikut.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.

Sudah jelas manfaat yang dapat ketika kita mampu bersyukur dan sebuah peringatan keras bagi yang mengingkarinya.

Namun, apa makna sebenarnya dari syukur itu sendiri?

Banyak orang mengartikan syukur adalah mengekspresikan dari memperoleh nikmat yang Allah berikan dengan mengingat Allah dan mengurangi rasa takaburnya dengan mengucapkan Alhamdulillah.

Namun, Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya memberikan pengertian yang lebih menyadarkan kita. Syukur menurutnya ialah sebuah upaya menggunakan semua nikmat yang Allah titipkan sesuai dengan apa yang Allah inginkan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca Juga:  Sakit! Musibah atau Nikmat?

Contoh dari syukur yang Allah ajarkan terdapat pada kisah Ibu Hannah, istri dari Bapak Imran dalam mendidik anaknya pada Surah Al-Imran ayat 35-37 yang artinya sebagai berikut.

Artinya: 35. (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (36) Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”(37). Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

Kisah ini menjelaskan ketika Hannah (istri Imran) mengandung, keduanya sebagai orang tua sepakat ingin mensyukuri karunia Allah dengan mengharapkan memiliki anak yang salih/salihah.

Baca Juga:  Beberapa Jenis – Jenis Pohon dalam Islam beserta Maknanya

Untuk mewujudkan keinginan bersama itu, mereka menyiapkan segala hal yang mendukung cita-cita bersama.

Mereka siapkan sebuah tempat khusus untuk itu, yang namanya adalah mihrab. Mihrab adalah tempat khusus yang digunakan untuk fokus ibadah kepada Allah SWT.

Tidak cukup sampai disitu, mereka juga menyiapkan orang yang paling salih dan pintar di zamannya untuk merawat dan mendidik kelak anak mereka setelah lahir.

Tidak kalah pentingnya, semua ikhtiar itupun didukung pula dengan banyak doa.

Ketika disaat kandungan sudah mulai membesar menjelang persalinan, Imran meninggal dunia.

Meski Hannah melahirkan seorang anak perempuan tanpa adanya suami disampingnya, ia tetap berkomitmen melanjutkan cita-cita mereka bersama.

Diberikanlah nama yang baik kepada sang anak itu yaitu Maryam,  nama yang mengandung doa agar ia dapat menjaga diri dan menjauhi dari hal yang tercela, dan dekat kepada Allah.

Sesuai komitmennya, didapatkan juga orang paling salih dan pintar yaitu Nabi Zakaria. Dibuatkan juga mihrab untuk Maryam, sehingga nantinya ia memiliki bekal yang kuat untuk kedepannya.

Setelah nama yang baik, doa, orang yang mendidik, dan sebuah mihrab bagi sang anak, maka Allah langsung yang merawat anak itu.

Seperti halnya pada ayat 37, Allah dengan kehendak-Nya langsung yang menyiapkan makanan dan berbagai kebutuhannya untuk Maryam.

Itulah dia bagaimana cara mengaplikasikan rasa syukur yang harus kita tirukan.

Baca Juga:  Keseruan Ramadhan: Keliling Kampung Membangunkan Sahur

Dari kisah tersebut membuktikan bahwasanya bersyukur membuat kita mendapatkan peluang sebuah nikmat-nikmat tambahan yang diberikan oleh Allah. Kita akan mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah.

Kisah ini juga menginspirasi lahirnya Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal yang keduanya memiliki ibu yang suaminya telah meninggal dunia, akan tetapi lahir sebagai muslim yang memiliki peran yang luar biasa dalam Islam.

Itu dia makna syukur yang sebenarnya, semoga kita mampu bersyukur dalam mengelola nikmat dan karunia yang Allah berikan termasuk anggota tubuh kita sesuai dengan ridha Allah. [] Syukron Ma’mun

Editor: Mohammad  Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post