Memahami Konteks Ibadah Sosial dalam Q.S Al Isra Ayat 26 – 31

Ibadah Sosial dalam Surah Al Isra Ayat 26-31
Gambar Ilustrasi Ibadah Sosial dalam Surah Al Isra Ayat 26-31 (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunakan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Fungsinya sebagai pedoman dan juga dasar hukum dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalam Al-Qur’an telah diatur seluruh petunjuk aktivitas manusia termasuk kegiatan beribadah.

Seperti yang kita ketahui, ibadah terbagi menjadi dua yakni ibadah individu dan ibadah sosial. Ibadah individu berkenaan dengan hubungan vertikal atau yang biasa kita kenal dengan hablum minallah sedangkan ibadah sosial berkenaan dengan hubungan horizontal atau hablum minannas wa hablum minal’alam.

Namun realitanya, banyak kaum muslimin hanya berfokus pada ibadah individu saja. Mereka sibuk dengan ibadah mahdah tetapi mengabaikan kemiskinan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita oleh saudaranya sebab tidak mau menolong antar sesama.

Hal tersebut menyebabkan banyaknya terjadi kesenggangan sosial, pembunuhan, gelandangan sampai pengemis yang tak terhitung.

Ibadah sosial adalah segala bentuk kegiatan manusia yang interaksinya bersifat muamalah yang dikerjakan dalam rangka penyembahan kepada Allah dan mencari keadilannya.

Banyak ayat Allah yang mengandung perintah ibadah sosial ini salah satunya Q.S Al Isra ayat 26 – 31. Lalu bagaimana bentuk kontekstualisasi ibadah sosial dalam surah tersebut? Bentuk pengaplikasiannya adalah sebagai berikut:

  1. Saling Membantu

Hal ini berkaitan dengan ayat 26 seperti membantu keluarga terdekat. Membantu yang dimaksud bukan hanya soal materi tetapi juga nasihat, berkunjung dan rasa cinta yang baik. Begitu pula dengan orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan untuk tujuan agama.

Baca Juga:  Al-Fatihah, Surah yang Wajib Dibaca 17 Kali Sehari, Apa Saja Keutamannya?

Tolong menolong merupakan hak dan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Maka berhaklah seseorang mendapat bantuan dari orang yang lebih mampu untuk meningkatkan rasa persaudaraan.

  1. Mengucapkan Perkataan yang Baik

Hal ini berkenaan dengan ayat 28 surah Al- Isra’. Di waktu tertentu terkadang kondisi keuangan dan kemampuan tidak memungkinkan untuk membantu sehingga memaksa berpaling.

Maka, apabila berada dalam posisi tersebut hendaknya mengatakan kepada mereka dengan ucapan yang mudah dan menyinggung perasaan. Sebaliknya, hendaknya mengatakan hal-hal yang melahirkan harapan dan optimisme.

  1. Bersikap Sederhana

Maksudnya apabila menolong atau memberi bantuan hendaknya sewajarnya saja. Yidak terlalu sedikit dan tidak terlalu berlebihan. Hal ini berkaitan dengan Al Isra’ ayat 29. Keseimbangan merupakan prinsip besar dalam sistem Islam. Keadaan orang yang pelit, dia akan menjadi payah karena sikapnya tersebut.

Dia akan menjadi orang yang tercela dan hina dihadapan Allah dan manusia. Begitupun dengan orang yang boros. Sikapnya itu akan membawanya menjadi seperti binatang yang bergerak kepayahan. Sebab ketika menghambur-hamburkan harta yang dimilikinya, maka sebentar saja kan menjadu punah harta tersebut dan timbulah penyesalan.

  1. Optimisme

Q.S Al Isra ayat 31 menceritakan ketakutan orang tua ketika memiliki anak perempuan. Diyakininya mereka akan miskin karena anak perempuan tidak bisa mencari penghidupan dan tidak mendatangkan keuntungan.

Tetapi mereka meyakini apabila mendapat anak laki-laki mereka seakan mendapat keuntungan luar biasa. Hal ini berarti orang tua tidak memiliki sikap optimisme. Orang tua pesimis dengan rezeki yang dimilikinya.

Baca Juga:  Sopan Santun sebagai Landasan Etika dan Keharmonisan Sosial

Padahal Allah sudah dengan jelas telah mengatur rezeki masing-masing hambanya. Maka dari itu, janganlah membunuh anak-anak perempuanmu karena khawatir miskin. Selama rezeki di tangan Allah, maka tidak ada hubungan antara kemiskinan dan keturunan. [] Khariztma Nuril Qolbi

Related Posts

Latest Post