Filosofi Ayam dan Telur Menurut Pandangan Islam

Ayam dan telur, mana yang lebih dulu?
Ayam dan telur, mana yang lebih dulu? (Dok. Pribadi - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Salah satu tebak-tebakan legendaris yang tidak pernah ketemu jawabannya adalah, lebih dulu mana ayam atau telur? Banyak orang yang berusaha memikirkan pertanyaan ini dari berbagai sudut pandang mereka masing-masing.

Kalau jawaban versi saya, tentu saja lebih dulu ayam. Mengapa demikian? Karena ayam tidak butuh telur untuk tetap hidup, sedangkan telur justru butuh ayam yang mengerami untuk tetap hidup. Telur yang tidak dierami, tentu akan mati.

Oleh karena itu tidaklah mungkin telur ada lebih dulu sebelum keberadaan ayam. Siapa nanti yang mengerami telur tersebut? Akhirnya, teka-teki terpecahkan juga!

Meski hanya tebak-tebakan, kalau kita cermati lagi ternyata menyimpan pesan yang begitu mendalam. Bahwa setiap manusia membutuhkan orang tua, layaknya telur yang membutuhkan ayam. Maka wajiblah kita berbakti kepada kedua orang tua.

Manusia yang menghindar untuk berbakti kepada orang tuanya, seperti telur yang menghindar untuk dierami oleh induknya tentu ia akan mati. Dalam hal manusia bukan berarti usianya yang mati, bisa saja keberkahan dalam hidupnya yang mati.

Apabila semakin kita perdalam lagi, manfaat jika sebutir telur bersungguh-sungguh menerima pengeraman dari induknya, tentu kelak ia akan menetas menjadi seekor ayam. Kemudian pada waktunya nanti, ayam itu akan menghasilkan telur (keturunan).

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, kesungguhan seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, salah satu manfaatnya adalah menjadi penyebab anak itu akan memperoleh keturunan yang berbakti juga kepada kedua orang tua nantinya, sesuai dengan firman-Nya :

Baca Juga:  Madu Kehidupan: Mengintip Filosofi Lebah dalam Perspektif Islam

بِرُّوا آبائكم تبرُّكم أبنائكم

“ Berbaktilah kepada kedua orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”.

Bahkan ulama menambahkan lagi manfaat berikutnya yang juga tersimpan dalam pemahaman hadist di atas. Bahwa mereka yang berbakti kepada orang tuanya, insya Allah akan diberikan nikmat berupa panjang umur.

Karena seseorang harus menempuh usia yang cukup panjang hingga ia memiliki anak, lalu anaknya cukup dewasa, sampai anak itu dapat menunjukkan sikap bakti kepadanya.

Setelah menyelami kandungan hadits Rasulullah tersebut, alangkah merugi bagi mereka yang mengabaikan ketaatan kepada orang tua.

Seperti meruginya telur yang mengabaikan pengeraman dari induknya. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi diri kita bahwa dimana dan kapan pun kita harus tetap berbakti kepada kedua orang tua. [] Suci Afnia

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post