Mush’ab bin ‘Umair, Duta Pertama Islam di Madinah

Mush’ab bin ‘Umair Duta Islam di Madinah
Gambar Ilustrasi Mush’ab bin ‘Umair Duta Islam di Madinah (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Memiliki nama lengkap Mush’ab bin ‘Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab, merupakan sahabat Nabi yang termasuk dalam rombongan hijrah pertama.

Karena memiliki kemampuan diplomatis dan kesantunannya dalam menyampaikan nilai-nilai Islam, ia dengan mudah mengajak non-muslim menjadi muallaf sehingga dikenal sebagai sosok yang bijak dalam berdakwah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْر

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin ‘Umair.” (HR. Hakim).

Mush’ab bin ‘Umair merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia.

Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat. Namun, setelah mengetahui Mush’ab bin ‘Umair memeluk Islam, Ibunya merasa sangat kecewa dan berusaha agar putranya keluar dari Islam.

Kehidupan Mush’ab bin ‘Umair lalu berubah. Ia mengalami penderitaan baik secara materi maupun fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaannya ditambah dengan siksaan perasaan ketika melihat ibunya yang sangat dicintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, serta berjemur di tengah teriknya matahari agar putranya keluar dari Islam. Semua yang dialami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Baca Juga:  Mengenal untuk Waspada! Salah Satu Aliran dalam Islam, Khawarij

Mush’ab merupakan seorang pemuda teladan yang bersemangat dalam menuntut ilmu, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya. Mush’ab bin Umair juga memiliki penampilan yang menarik. Siapa pun yang bertemu dan berinteraksi dengan beliau akan terpesona oleh kepribadiannya yang menawan.

Mush’ab bin ‘Umair sangat berperan besar dalam perkembangan Islam. Ia menjadi duta pertama Islam yang diutus Nabi untuk menyampaikan nilai-nilai, ide serta gagasan Islam kepada masyarakat di Madinah.

Ia membuat sebagian besar masyarakat Madinah memeluk Islam melalui dakwahnya terhadap pemimpin kaum Bani Asyhal yaitu Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Khadir. Dengan masuk Islamnya pemimpin Bani Asyhal maka pengikut di bawah kekuasaannya secara langsung mengikuti.

Kelembutan Mush’ab dalam menyampaikan ajaran Islam membuat dakwahnya sukses besar. Perkataan Mush’ab meluluhkan hati penduduk Madinah, membuat hati mereka penasaran sehingga ingin bertemu kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah Islam.

Tentunya cara berdakwah Mush’ab bin ’Umair merupakan ajaran dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sudah memberikan contoh yang sangat nyata tentang pentingnya komunikasi dalam mendakwahkan Islam. Beliau pernah bersabda, “Berbicaralah kepada mereka sesuai kadar akalnya.”

Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِين

Baca Juga:  Mengenal AL-Jahiz, Ilmuan Muslim Biologi Pencetus Teori Evolusi

Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa dakwah yang baik menggunakan cara persuasif tanpa paksaan apalagi dengan kekerasan. Kebenaran akan sulit diterima jika disampaikan dengan paksaan dan kekerasan bahkan mungkin dapat mendatangkan perlawanan dan kerugian yang tidak diinginkan.

Dalam haditsnya Rasulullah ﷺ bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا

Artinya, “Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan memuat manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kisah Mush’ab bin Umair mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia meninggalkan semua kemewahan dunia yang menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Selain itu, ia juga mengajarkan bahwa dalam berkomunikasi sudah seharusnya menyesuaikan dengan lawan bicaranya sehingga apa yang akan disampaikan dapat dimengerti dengan baik. Dalam penyampaian juga diperlukan cara yang benar dan santun seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. [] Assyahla Hafidzah

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post