Andai Aku Orang Kaya

Oleh:

Khairul Mumtahanah

Namaku Hana seorang wanita yang sedang berjuang di kota orang. Inilah aku saat ini, di  kota orang yang belum ku kenal sebelumnya. Bukan tanpa alasan aku disini. Memperjuangkan cita-cita diri dan cita-cita orang tua. Aku tak pernah berharap untuk disini, namun Allah memberitahukanku hal lain yang membuatku harus berada di tengah-tengah mereka. Aku sedang menempuh perkuliahan di sini, di salah satu universitas di semarang, yakni UNNES, Universitas Negeri Semarang. Ku awali hari-hariku disini dengan harapan semua baik-baik saja.

Hari masih seperti biasa, sholat subuh, mengaji, lalu mandi dan siap-siap kuliah. Namun, ada yang berbeda di hari ini. Hari terakhir di bulan oktober.Aku seperti orang-orang pada umumnya. Saat bulan itu berakhir, berakhir pula penunjang hidupku. Mengempes sudah dompet tebal itu dan bahkan menjadi terang. Masih pada perasaan yang sama saat itu terjadi. Gegana entah kemana pikiran itu. Melayang jauh,berharap aku menjadi orang kaya yang bisa membeli apa saja. Sekejap aku terbangun dari hayalan itu. “untuk apa kamu berpikir seperti itu, jadilah dirimu sendiri, semua akan kaya pada waktunya, jangan menyerah, jangan malas, ingatlah tujuan pertamamu disini “kataku dalam hati. Ku lihat satu titik di ujung sana. Seorang Ibu yang sedang mengantarkan anaknya ke sekolah.Sontak wajah Ibuku nampak jelas di depan mataku. Namun, wajah itu hanyalah hayalanku. Hayalan yang belum sempat terwujudkan. “Emak” begitulah panggilanku untuk pahlawanku. “Aku rindu Mamak, aku ingin bertemu mamak.” Teriakan keras dalam hatiku.

Baca Juga:  Bakat, Delusi Harapan

Ku sadarkan diriku dari angan-angan itu. Ku usap air di pipiku, berharap tidak ada yang melihatku. Ku lihat jam di tangan kiriku, pukul 08.55. Bergegaslah aku menuju ke kelas untuk kembali mencari ilmu.Mata kuliah saat ini adalah bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa. Mungkin benar kata itu, ku disatukan dengan mereka dengan bahasa Indonesia. Menyatukan perasaan dengan alasan menjadi teman dan sahaba Ilmu baru sudah ku dapatkan, kini waktunya untuk aku pulang. Ku lihat roti jualanku di ujung seberang sana. Masih 8, jumlah yang amat banyak.

Di samping pekerjaanku sebagai mahasiswa yang disibukkan dengan tumpukan tugas, aku juga menjual roti untuk mencari uang tambahan. Ku lakukan itu di setiap hari-hariku. Aku bercerita pada sahabatku tentang angan-anganku. Dia berkata padaku,” jadi orang kaya pun tidak semudah apa yang kamu pikirkan, kita ini sebenarnya sedang berada dalam kampus kehidupn dengan jurusan kesabaran, bersabarlah sebentar.”  Kata itu berhasil meluruhkan niatku untuk mengejar dunia. “Emak” kata itu yang selalu ada dalam pikiranku, menangis sudah diriku saat kata itu terucapkan. “aku rindu mamak, maafkan aku mak, aku selalu merepotkanmu, aku sayang mamak.”

Hari telah terlewatkan. Hari berikutnya telah menanti cerita indahku. Pagi-pagi sudah ku lihat orang-orang memakai baju sarjananya. Baju itu… Satu baju yang menggantikan 4 tahun itu. Serta satu kertas pengganti 4 tahun perjuangan. “sadarlah hana” itu yang selalu kuucapkan. “kamu harus bisa hana, jangan menyerah!!” ku semangati diriku sendiri. Enatah akan berefek baik atau tidak. Ku hanya melakukan yang terbaik, walau ku masih sering lalai akan tujuan pertamaku. Akan ku capai baju itu dengan senyum indah mamakku.

Baca Juga:  Santri Baru Ponpes: Sebuah Pengalaman

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post