Anfa Raih Juara 1 MTQ di FMIPA Unnes

Lagi, salah satu mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada kembali menorehkan prestasinya. Ia adalah Wihda Ikvina Anfaul Umat, yang berhasil meraih juara satu pada ajang MTQ yang diselenggrakan oleh FMI Fakultas MIPA. Kategori lomba yang dimenangkan ialah Dai. Dengan membawakan tema Alquran dan Pemuda, Anfa memadukan Karya Seni Wayang dalam penyampaiannya. Hal ini dilakukan selain untuk memberi gebrakan baru dalam dakwah, juga bertujuan mengingat bersama bahwa dahulu salah satu waliyullah melakukan penyebaran islam dan dakwah dengan menggunakan media wayang.

Anfa, menyadari dirinya masih jauh dari kata sempurna untuk ukuran seorang dai, namun keinginan yang kuat untuk berpartisipasi, memeriahkan acara serta berkontribusi sebagai pemudi muslim mampu membuatnya tampil dengan penuh semangat hingga memukau hadirin. Acara MTQ yang telah diselenggarakan tersebut diharapkan dapat menjadi awal perjuangan serta pengasahan bakat pada dirinya.

Seminar Hasil Penelitian Mahasantri

 

Selama dua hari, 10-11 Februari 2019, para mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada  melaksanakan salah satu kewajibannya, yaitu mempresentasikan hasil penelitian mereka selama liburan semester.

Tema besar yang diusung dalam agenda penelitian mahasantri kali ini adalah tentang pengelolaan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Para mahasantri meneliti pengelolaan BMT ini dari berbagai aspek, baik dari aspek pengelolaan, pendanaan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan BMT. Penelitian dilakukan di beberapa tempat antara lain  Semarang, Grobogan, Kudus, Magelang, Kendal, Nganjuk dan Blitar.

Sebelumnya, para mahasantri telah mempelajari metode penelitian kualitatif selama satu semester, yang dibimbing oleh Ayon Diniyanto, S.H. selaku mentor di pesantren riset ini. Presentasi yang berlangsung selama dua hari ini menampilkan berbagai judul penelitian individual oleh para mahasantri. Seperti milik salah seorang mahasantri, Rikha Zulia, yang meneliti tentang “‘Efektivitas Program BMT Bina Ummat Sejahtera terhadap Perekonomian Masyarakat.’

Presentasi ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh para mahasantri setelah sebelumnya melakukan penelitian di lapangan selama kurang lebih satu bulan. Setelah pengumpulan data di lapangan, mereka diharuskan untuk membuat laporan akhir hasil  penelitiannya masing-masing, yang kemudian di presentasikan di hadapan Bapak Dani Muhtada, M.Ag., M.A., M.P.A., Ph.D. selaku pengasuh di pesantren .

Selain untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian, presentasi ini juga bertujuan untuk melatih kemampuan public speaking dari  para mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada. (Penulis Alda Gemellina Munadhiroh).

Studi Banding ke Monash Institute dan Bina Insani

Pada hari Sabtu, 9 Februari 2019, para mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada melakukan kunjungan studi banding ke dua pesantren mahasiswa di daerah Ngaliyan, Semarang. Dua pesantren tersebut yaitu Monash Institute, yang dibina oleh Bapak Mohammad Nasih, dan Pesantren Bina Insani yang berada di bawah Yayasan Bina Insani Semarang.

Kami tiba di Monash Institute sekitar pukul setengah sembilan pagi. Sekitar dua puluhan deciples, begitu sebutan untuk para santri di Monash Institute, menyambut hangat kedatangan kami dengan menggunakan seragam kebanggaan mereka. Tujuan kedatangan kami adalah untuk mengetahui dan membandingkan seperti apa kegiatan di Monash Institute.

Pada pukul sembilan tepat, kegiatan saling memaparkan program pada masing-masing pesantren pun dimulai. Perwakilan dari Pesantren Riset Al-Muhtada memaparkan kegiatan harian, mulai dari mengaji dan menghafal Alquran, menambah kosa kata bahasa Inggris dan Arab, sampai pelatihan menulis dan melakukan riset atau penelitian. Selanjutnya, para pengurus di Monash Institute bergantian menjelaskan program kerja mereka. Presiden Monash Institute, yaitu Kodrat, mengungkapkan bahwa struktur kepengurusan di Monash Institute sendiri dibuat seperti sebuah negara. Ada berbagai menteri yang mengurusi berbagai bidang. Ada juga partai-partai yang didirikan oleh para pengurus, ketika mendekati pemilihan presiden di Monash Institute. Satu periode berjalan selama kurang lebih 4 bulan. Kemudian beliau mengungkapkan juga bahwa syarat untuk mencalonkan diri menjadi presiden Monash Institute yaitu, memiliki hafalan Al-Qur’an minimal 7 juz, sebanyak 10 tulisan telah dipublish, baik di media cetak ataupun media lainnya, dan tentu saja bergabung di sebuah partai yang mereka dirikan.

Setelah Presiden menjelaskan beberapa hal, gantilah menteri kesekretariatan yang berbicara. Jika biasanya media pesantren hanya dikelola oleh pembina, maka berbeda di sini. Media sosial dan web dikelola sendiri oleh deciples, terutama bidang sekretaris. Sekretaris juga bertanggung jawab atas surat ijin apabila deciples tidak dapat hadir dalam perkuliahan. Tak hanya itu, ada berbagai menteri-menteri yang tersusun atas 2 sampai 3 orang per kementerian. Ada menteri kependidikan yang bertanggung jawab atas kegiatan harian di Monas. Salah satu kegiatan unggulannya yaitu I’robul Qur’an, yaitu mengkaji Al-Qur’an perkata dengan mengetahui hukum-hukum bacaanya. Para deciples juga harus mengumpulkan tulisan-tulisan mereka tiap minggunya. Kemudian ada menteri hukum yang bertanggung jawab atas kelalaian para diciples atau keterlambatan ketika melakukan suatu kegiatan. Untuk hukuman yang diberlakukan, mereka lebih memikirkan tentang moral daripada hanya hukuman fisik. Menteri hukum juga menerapkan sistem surat peringatan apabila pelanggar telah melewati batasan yang ditentukan.

Selanjutnya, ada menteri bahasa yang bertanggung jawab atas kebahasaan di sini. Beberapa programnya yaitu pemberian kosa kata bahasa inggris dan arab, juga menerapkan berbicara dengan bahasa asing setiap hari bagi para deciples. Juga ada ujian bahasa setiap 2 minggu sekali. Ada juga Menteri Peribadatan dan akhlak, mereka yang bertanggung jawab atas jama’ah Shalat, dan bidang peribadatan lainnya, mereka juga bertanggung jawab atas ketepatan berpakaian para deciples. Ada juga Menteri kesehatan dan kebersihan yang mengatur jadwal piket dan olahraga para deciples. Tak lupa juga Menteri sarana prasarana yang bertanggungjawab atas inventaris-inventaris di Monash Institute.

Setelah pemaparan tersebut selesai, dilanjutkan oleh motivasi singkat dari Abah Nasih bahwa kami sebagai para santri dan mahasiswa harus menjadi santri yang berintelektual islam dan juga berkuasa. Maksudnya, tak hanya cerdas, kita juga bermanfaat bagi orang lain dengan ilmu yang kita miliki. Tidak lupa juga kaya, agar bisa menunjang beberapa hal tersebut.

Selepas dari Monash Institute, kami melanjutkan perjalanan ke Pesantren Bina Insani. Sangat banyak sekali santri di sana yang menyambut kami dengan hangat. Kemudian seperti yang kami lakukan di Monash sebelumnya, di sini kami juga membahas tentang bagaimana kepengurusan dan kegiatan di Pesantren Bina Insani. Tak jauh berbeda dengan Monash Institute, kepengurusan di sini pun juga menggunakan Presiden sebagai pimpinannya dan Menteri-menteri sebagai penanggung jawab bidang.

Mulai dari Menteri Pendidikan, Kominfo, Olahraga, Bahasa, hingga Menteri Sarana Prasarana semuanya berjalan sangat baik dan tidak jauh berbeda dengan Monash Institute. Namun ada satu hal yang sangat menonjol dari Pesantren Bina Insani ini, yaitu di bidang jurnalistiknya. Sudah banyak santri Bina Insani yang menulis tentang berbagai hal dan di publish di media cetak maupun online. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan bukan.

Begitulah kunjungan singkat yang telah kami lakukan hari itu. Walau hanya beberapa jam kami berkunjung, namun akan selalu berkesan karena banyak hal baik yang bisa kami contoh untuk membangun program-program di Pesantren Riset Al-Muhtada ini. (Penulis Zakiyah Azzahro Haidar).

Guest Lecture: Politik Agraria Pasca Orde Baru

Pesantren Riset Al-Muhtada kembali mengadakan kegiatan Guest Lecture pada hari Senin, 28 Januari 2019. Kali ini yang memberikan perkuliahan tamu adalah Dr. Iqra Anugrah, peneliti LP3ES yang saat ini sedang mengerjakan project bersama New Mandala, Australian National University, Australia. Dr. Anugrah menyampaikan pandangan-pandangannya tentang politik agraria pasca orde baru di Indonesia. Beliau menulis disertasi dengan tema yang sama dan meraih gelar doktor dari Departemen Ilmu Politik Northern Illinois University, Amerika Serikat.

Guest Lecture: Islam dan Politik di Indonesia

 

Pesantren Riset Al-Muhtada kembali menyelenggarakan Guest Lecture, yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Januari 2019 jam 18:30 di Asrama Putra. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Bapak Nurus Shalihin Djamra, M.Si., Ph.D., dosen Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Pembicara akan menyampaikan materi tentang Islam dan Politik di Indonesia.

Kembali, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Bawa Pulang Piala

Semarang, salah satu mahasantri Peantren Riset Al-Muhtada kembali membawa pulang piala. Setelah tiga hari sebelumnya Muhammad Miftahul Umam berhasil memboyong Piala Juara 2 Lomba Esai Nasional yang diselenggarakan Program Studi IPS Universitas Negeri Surabaya. Kali ini, Prestasi datang dari Nyoto Ribowo. Nyoto Ribowo yang merupakan mahasiswa semester awal Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang, berhasil menjadi Juara 3 dalam Pekan Olahraga Provinsi Tahun 2018. Nyoto berhasil menduduki peringkat II dalam Cabang olahraga Pancak silat kelas B (50-55).

Kegiatan yang berlangsung di Kota Surakarta selama 19 sampai dengan 25 Oktober 2018 telah membawa Nyoto mencapai prestasi perdana selama menjadi mahasiswa. Memang sebelumnya Nyoto merupakan salah satu atlit yang sering mendapakan gelar juara. Tapi, prestasi kali ini sangat berkesan mengingat perjuangan yang dilakukan mulai dari latihan malam hari dan proses karantina yang wajib dilaksanakan.

Nyoto Ribowo yang merupakan Kontingen dari Kabupaten Magelang merasa senang dengan prestasi yang diperoleh. Kendati demikian dia tidak berjanji tidak akan lengah. Kedepan dia akan terus berusaha dan berlatih lebih giat lagi untuk mencapai hasil yang optimal dan sesuai target. Hari ini saya belum mendapatkan sesuai target, tetapi saya harus bersyukur karena ini capain yang bagus. “Kedepan saya akan berlatih lebih keras lagi agar dapat mencapai target. Semoga hari-harii kedepan akan indah”, begitu ungkapan dari Nyoto Ribowo.

Prestasi yang ditorehkan oleh Nyoto telah menambah koleksi prestasi dari Pesantren riset Al-Muhtada. Bagaimana tidak, dalam kurang dari seminggu sudah terdapat 2 mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada berhasil menyabet piala dan piagam penghargaan. Hal ini harus menjadi mootivasi bagi mahasantri yang lain di Pesantren Riset Al-Muhtada untuk terus berprestasi.

Penulis: Ayon Diniyanto

Guest Lecture: Penguatan Hak-hak Sipil di Indonesia

Semarang, Pesantren Riset Al-Muhtada kembali mengadakan Guest Lecture dengan tema Penguatan Hak-hak Sipil di Indonesia. Awaludin Marwan yang merupakan kandidat doktor dari Utrecht University Belanda menjadi narasumber pada hari Selasa malam tanggal 23 Oktober 2018. Awaludin Marwan menyatakan bahwa hak-hak sipil sesungguhnya lahir karena tuntutan dari kaum liberal. Di Indonesia hak-hak sipil muncul begitu kuat setelah adanya reformasi tahun 1998. Sebelumnya hak-hak sipil sesungguhnya sudah ada, tetapi hak-hak sipil yang ada di Indonesia belum terlalu kuat dan pengaturannya belum sekuat sekarang. Pasca amandemen konstitusi, barulah hak-hak sipil di Indonesia menguat. Hal tersebut seperti yang ditentukan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 A sampai dengan J. Penguatan hak-hak sipil yang ada di Indonesia menurut Awaludin Marwan menjadi poin penting. Beliau memberikan titik tekan bahwa dengan adanya penguatan hak-hak sipil di Indonesia. Ada bebrapa hal yang harus dilakukan oleh Warga Negara Indonesia khususnya warga sipil. Pertama hak-hak sipil terlebih dahulu harus diketahui. Kedua hak-hak sipil kemudian dipelajari serta dipahami secara rasional. Ketiga hak-hak sipil tersebut harus diperjuangkan sebagai bagian yang melekat pada diri manusia sebagai warga sipil.

Tiga poin penting yang disampaikan oleh Awaludin Marwan kemudian menjadi penarik peserta diskusi Guest Lecture untuk bertanya. Wihda Ikhvina Anfaul Ummat salah satu mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada bertanya terkait dengan bagaimana cara memperjuangkan hak-hak sipil yang melakat dalam diri manusia? Pertanyaan lain disampaikan oleh Rosalia Indah dan Dadang Prasetyo Aji yang juga merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada. Rosalia Indah menyatakan terkait dengan penegakan hak-hak sipil dalam realitas dilapangan. Adapun Dadang Prasetyo Aji menyatakan terkait dengan perbandingan hak-hak sipil di Indonesia dengan di Belanda. Awaludin Marwan yang juga merupakan peneliti di Satjipto Rahardjo Institute kemudian menjawab dan menjelaskan secara detail pertanyaan yang diajukan oleh mahasantri. Acara Guest Lecture diakhiri dengan foto bersama dan perkenalan antara mahasantri dengan narasumber. Acara yang berlangusng di Asrama Putera Pesantren Riset Al-Muhtada merupakan salah satu program rutin yang diselenggarakan untuk sharing ilmu dan pengalaman.

Penulis: Ayon Diniyanto

Piala Perdana untuk Pesantren Riset Al-Muhtada

Semarang, Muhammad Miftahul Umam yang merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada untuk pertama kalinya menjadi juara pada ajang National Essay Competition. Umam begitu akrab dipanggil berhasil menduduki Juara 2 Lomba yang diselenggarakan di Universitas Negeri Surabaya atau Unesa. Umam berhasil mengalahkan pesaing-pesaing lain dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Loma esai yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan IPS merupakan rangkaian dari event Pekan Ilmiah Sosial (PIS) II. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018 dihadiri oleh sepuluh besar finalis dari berbagai universitas. Kesepuluh finalis tersebut sebelumnya telah diseleksi dan lolos pada tahap pertama.

Hadir sebagai Juara 1 dalam kompetisi tersebut adalah Aziz Qomarul Firdaus dari Universitas Gajah Mada dan Juara 3 atas nama Fradana Putra Disantra dari Unesa. Capaian yang diperoleh Umam sesungguhnya merupakan capaian yang luar biasa. Hal tersebut dikarenakan Umam merupakan Mahasiswa semester 1 Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang. Umam pada kompetisi esai tersebut mempresntasikan karya dengan judul “Menanamkan Pendidikan Karakter Kepada Siswa sekolah dasar (SD) melalui Pelatihan Menanam Padi”. Menurut Umam, saat ini banyak sekali terjadi kenakalan anak. Salah satu penyebabnya adalah anak-anak masih belum banyak memiliki karakter. Oleh karena itu Umam menawarkan ide agar anak-anak mempunyai karakter dengan mengambil karakter dari tindakan menanam padi.

Uamam merasa gembira dengan capaian tersebut dan akan terus berusaha konssiten produktif dalam menulis. “Ini merupakan prestasi yang tidak terduga sebelumnya, dan saya akan berusaha untuk lebih baik lagi”, sambut Umam sambal tersenyum. Pesantren Riset Al-Muhtada sesunggunya mengirimkan dua wakil untuk presentasi di lomba tersebut. Selain Umam masih ada Arif Budiman yang juga mengikuti presentasi pada lomba itu. Namun Arif Budiman yang merupakan mahasiswa semester 1 Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang belum beruntung. Arif Budiman mengaku masih dalam tahap balajar mengingat ini merupakan karya dan lomba pertamayang diikuti sejak menjadi mahasiswa. “Bagi saya ini merupakan pengalaman yang sangat bagus, terlebih saya masih semester 1 jadi saya akan berusaha lebih baik lagi di kompetisi-kompetisi yang akan datang” kata Arif Budiman sambal bersemangat.

Prestasi yang ditorehkan Umam dan Arif merupakan prestasi yang membanggakan terutama bagi Pesantren Riset Al-Muhtada. Prestasi tersebut sekaligus menjadi prestasi atau piala perdana untuk Pesantren Riset Al-Muhtada. Dani Muhtada selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada bangga melihat mahasantrinya mulai menunjukan produktifitas dan prestasi. Dani Muhtada juga berpesan kepada Umam agar “tetap rendah hati, bersyukur kepada Tuhan, dan berterimakasih kepada semua orang yang telah membantu. Tidak ada kesuksesan tanpa peran orang lain. Selamat”. Ungkap Dani Muhtada.

Penulis: Ayon Diniyanto

Guest Lecture: Menjadi Jurnalis Dakwah

Semarang, Pesantren Riset Al-Muhtada mengadakan kegiatan Guest Lecture sebagai bagian dari program rutin pesantren. Kali ini Dr. Imam Baehaqie, M.Hum. yang diundang untuk mengisi program Guest Lecturer pada hari Jumat, 14 September 2018. Imam Baehaqie adalah Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang. Ia membahas tentang “Menjadi Jurnalis Dakwah”.

Imam Baehaqie yang memang telah menekuni jurnalis dakwah mengatakan bahwa dakwah dan jurnalistik mempunyai hubungan. Hubungan tersebut terletak pada substansi pengertian dari dakwah. Dakwah dapat dimaknai sebagai mengajak atau menyeru. Mengajak masyarakat untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya tentu membutuhkan media. Salah satu media untuk berdakwah di era milenial ini adalah dengan sosial media. Sosial media merupakan interaksi antar masyarakat yang mempunyai jaringan sampai ke penjuru dunia. Tulisan-tulisan yang ditulis di sosial media lebih cepat tersebar dibandingan dengan media-media lainnya.

Imam Baehaqie mengemukakan bahwa sosial media yang perkembangannya begitu pesat dapat dijadikan sebagai media untuk berdakwah. Masyarakat bisa menulis atau menjadi seperti jurnalis untuk mengajak yang lain melaksanakan kebaikan dan menajuhkan keburukan. Pemanfaatan media sosial dengan cara seperti itu lebih baik jika dibandingkan dengan memanfaatkan media masa hanya sebagai sarana untuk mengekspos diri melalui upload foto pribadi, story curahan hati, debat kusir dan hal lain yang tidak bermanfaat.

Imam Baehaqie, yang merupakan mantan aktifis intra dan ekstra kampus, berpesan kepada para mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada untuk memulai berdakwah menggunakan sosial media. Mahasantri harus mulai menulis dari sekarang dengan tulisan-tulisan yang mengajak kepada kebaikan, Mahasantri juga dapat menjadi jurnalis dakwah dengan melaporkan berita-berita kebaikan dengan tujuan untuk mengajak orang lain berbuat baik.

Kegiatan Guest Lecture tersebut berlangsung dengan hangat. Mahasantri sangat antusias menyimak penyampaian materi dari Imam Baehaqie. Diakhir diskusi, pemateri memberikan waktu untuk tanya jawab dari mahasantri kepada pemateri. Wihda salah satu mahasantri  bertanya terkait dengan kiat-kiat agar konsiten  di bidang jurnalistik. Imam Baehaqie menjawab dengan segudang pengalaman beliau dibidang jurnalistik dan kepenulisan.

Imam Baehaqie bercerita bahwa dirinya memulai menyukai jurnalistik saat beliau menjadi anggota BP2M yang merupakan lembaga pers mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Beliau bahkan berhasil menduduki sebagai redaktur pelaksana sampai dengan ketua umum. Selain menjadi aktifis intra kampus, beliau juga aktif di HMI dan bahkan sampai menjadi Ketua HMI Cabang Semarang. Aktifitas beliau dikampus justru tidak menghambat kerajinan beliua dalam menulis. Tulisan beliau justru sering terbit di media massa ketika menjadi mahasiswa. Poinnya adalah walaupun dalam kesibukan diorganiasi tetapi tetap bisa menulis. Karena menjadi jurnalis atau menjadi penulis dibutuhkan niat, semangat dan rajin. Jadi yang paling utama adalah niat dan semangat serta rajin. Jika niat, semangat, dan rajin telah didapat maka menjadi jurnalis atau menjadi penulis akan terasa mudah dan tetap berkelanjutan.

Imam Baehaqie yang menyelesikan studi Doktor di Universitas Gajah Mada juga berpesan kepada mahasantri untuk memilih menjadi jurnalis atau penulis. Pertama, menulis merupakan salah satu bentuk wirausaha. Menjadi penulis tidak harus memiliki Indek Pestasi (IP) tinggi, ijazah, apalagi modal uang. Kedua, penulis banyak jasanya pada dunia, pada pencerahan umat dan pada pencerdasan bangsa. Ketiga, dengan menjadi menulis, seorang menjadi teliti dan dengan menulis munculah harapan seperti harapan hidup menjadi tenang dan bersemangat. Kegiatan Guest Lecture yang berlangsung di Asrama Putra Pesantren Riset Al-Muhtada selesai pada pukul 19.45 WIB. Indah salah satu mahasantri menyatakan Guest Lecturer sangat memotivasi. “Pematerinya sangat inspiratif serta menyenangkan sih, menurut saya” ujar Indah.

Penulis: Wihda Ikvina Anfaul Umat

Editor: Ayon Diniyanto  

Tumbuhnya Tunas Muda Di Tanah Terbelakang

Oleh: Sudarto

Hari ini bertetapan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 73. Walaupun dalam suasana tujuh belasan namun di Desa Nginggil  Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora hanya terdapat sedikit atribut merah putih yang menggambarkan suasana Kemerdekaan Indonesia.

Pagi itu Karno salah satu murid dari 12 murid di kelas 3 SD N Nginggil terlihat dengan semangat membantu ibunya membawakan barang belanjaan ke pasar dekat rumahnya. Setelah selesai membawakan  barang belanjaan tersebut ia lalu meminta izin kepada ibunya untuk mengikuti upacara peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia di halaman sekolahnya.

Karno              : “bu saya minta izin mau ikut upacara dulu ya bu!”

Ibu                   :”oh.. iya le,hati-hati di jalan.”

Karno              :”iya bu. Assalamu’alaikum.”

Ibu                   :”wa’alaikum salam”

Kaki kecil Karno mulai menapaki jalan kecil menuju sekolahnya. Jarak sekolahnya dengan rumah Karno cukup jauh bagi seorang anak kecil yang berusia 10 tahun yaitu sekitar 2 km lebih. Setelah 10 menit berjalan sendirian  ia berpapasan dengan teman sekelasnya yang bernama Abdurrahman yang juga baru selesai bersiap-siap pergi sekoalah.

Karno              :”assalamu’alaikum Rahman”

Abdurrahman :”wa’alaikum salam. Hei Karno ayo berangkat sekolah sama-sama”

Karno              :”oh iya, ayo jalan”

Mereka berdua pun jalan bersama. Sepanjang perjalan terlihat pemandangan yang indah, banyak pepohonan ynag masih rindang ,ada juga sungai sungai kecil di pinggiran sawah dan juga banyak suara burung yang terdengar. Disamping semua pemandangan indah itu ternyata ada juga pemandangan yang membuat hati terasa teriris. Selain jarak sekolah yang sangat jauh, keadaan jalan setapak yang sudah rusak membuat siapapun yang memiliki hati pasti akan menangi, bagaimana tidak kedua anak kecil ini setiap harinya harus bejalan naik turun bukit ,melewati jalanan yang terjal belum lagi bahaya dari binatatang liar seperti ular yang siap menghampiri. Tetapi itu semua harus mereka hadapi untuk cita-cita besar mereka untuk masa depan kelak.

Matahari mulai terasa terik dan benar saja mereka sampai di lapangan samping sekolahnya pada pukul 7 lebih 15 menit. Siswa lain telah datang lebih dulu karena memang jarak rumah mereka lebih dekat dibandingkan Karno dan Abdurrahman. Guru di sekolah tersebut pun sudah terbiasa dan memaklumi dengan kebiasaan terlambat mereka berdua yang hamir setiap hari terlambat.

Karno              :”Assalamualaikum Pak Budi”

Abdurrahman : ”Assalamualaikum Pak Budi”

Pak Budi           :” waalaikum salam, ohh kalian berdua lagi ayo cepet langsung saja masuk saja dalam barisan.:

Karno : iya pak terima kasih.”

Abdurrahman :”terima kasih pak.”

Pak Budi maklum kepada mereka Karena mereka mengetahui masalah yang dihadapi kedua murid tersebut. Sebenarnya guru tersebut kasihan dengan mereka berdua. Salah seorang guru pernah menawarkan kepada mereka berdua untuk tinggal di rumahnya agar dapat datang sekolah tepat waktu. Namun karena mereka menolaknya  guru tersebut tidak dapat berbuat banyak. Mereka berdua Karno dan Abdurrahman dengan polosnya menjawab bahwa mereka ingin membantu ibu di rumah untuk menjaga adik-adik mereka. Karena memang dikesibukan orang tua mereka tidak ada yang menjaga adik-adik nereka di rumah. Disamping itu juga karena si Karno merupakan anak yatim.

Setelah 30 menit lebih upacara akhirnya selesai, para siswa pun setelah itu pulang ke rumah mereka sendiri kecuali Karno dan Abdurrahman. Mereka berdua setelah upacara berencana utuk pergi desa sebelah untuk melihat karnaval yang setiap tahun pasti di     adakan. Jarak desa mereka dengan desa tersebut sangatlah jauh yaitu lebih dari 10 km, mereka pun langsung berangkat tanpa berkata-kata lagi. Setelah 15 menit perjalanan mereka berpapasan dengan salah seorang guru mereka yang bernama pak Eko yang tengah mengendari motor.

Pak eko           : “hei kalian berdua mau kemana pergi jauh sampai jalan ini?”

Karno             : “kami mau melihat karnaval pak.”

Abdurrahman :” iya pak betul.”

Pak eko           :”jangan jaraknya masih jauh, nanti kalian malah capek.”

Abdurrahman :”tidak pak kami sudah biasa jalan jauh kok.”

Pak eko             :”ya sudah kalau kalian bersikeras tetap ingin pergi, ayo sekalian bareng bapak, bapak juga ingin ke sana.”

Karno             :” terima kasih pak tawarannya”

Abdurrahman  :”terima kasih banyak pak.”

Mereka pun berangkat boncengan tiga orang. Pak eko yang menyetir dan mereka berdua duduk di belakang.

Jalanan dari Desa Nginggil menuju desa terdekat sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor. Namun akan lebih lama juka pada musim penghujan hal itu dikarenakan kondisi jalanan yang rusak parah. Mereka akhirnya sampai di Desa Mendenrejo tepatnya di Kantor Kecamatan Kradenan. Di desa ini kondisinya jauh lebih baik dari pada desa mereka. Fasilitas di desa sini sudah cukup lengkap karena memang desa mendenrejo merupakan desa utama penyambung desa-desa lainnya di kecamapatn kradenan, maka dari itu kantor kecamatannya bertempat di situ.

Karno dan Abdurrahman setelah turun dari motor langsung pergi ingin melihat berbgai atraksi yang telah ada lalu mereka meminta izin kepada Pak Eko untuk segera melihat karnaval.

Karno             :”Pak Eko kami mau minta izin mau nonton itu ya?”

Pak Eko           :”iya boleh, kan memang itu tujuan kalian kesini. Tapi ingat nanti jam 12 kita balik pulang ke rumah takutnya nanti kalian di cariin orang tua kalian.”

Abdurrahman :”iya pak siap.”

Karno              :” siap pak.”

Pak Eko          :” memang kalian tadi sudah minta izin pada orang tua kalian mau nonton karnaval?”

Karno              :”belum pak.”

Abdurrahman :”belum.”

Pak Eko             :”woo  kalian ini nakal ya. Ya sudah jangan diulangi lagi. Bapak mau menyelesaikan urusan bapak di sini dulu nanti kalian kalau sudah selesai langung balik ke sini!”

Karno             :”hehe maaf pak. Assalamualaikum.”

Abdurrahman  :”assalamualaikum.”

Pak Eko           :”waalaikum salam”

Mereka pun mulai memilih tempat yang paling nyaman untuk melihat. Mereka berdua duduk di samping pohon pinggir jalan yang ada di depan kantor kecamatan, dari sana mereka melihat banyak atraksi dari setiap desa yang ada di kecamatan kradenan. Dari sepuluh desa yang hadir hanya satu desa yang tidak  mengikuti karnaval tersebut yaitu desa mereka. Mereka bertanya-tanya kenapa desa mereka tidak ikut dalam acara tersebut.

Karno             :”hey Rahman kenapa desa kita tidak ikut yaa?”

Abdurrahman :” entah aku tidak tahu.”

Karno             :” ayo nanti pas pulang kita Tanya sama pak eko.”

Abdurrahman :”iya nanti kita Tanya.”

Jam pun hampir menunjukan pukul 12, mereka pun kembali ke tempat tadi. Pak Eko sudah menunggu mereka.

Pak Eko           :”ayo kalian berdua cepat sudah hamper jam 12. Nanti orang tua kalian cemas.”

Karno             :”iya pak maaf kalau bapak menunggu lama.”

Pak Eko           :” iya tidak apa apa, ayo naik.”

Mereka kembali ke desa meraka. Selama perjalanan Karno ingin menanyakan pertanyaan mereka berdua pada waktu karnaval tadi. Akhirnya dia berani menanyakannya.

Karno              :”Pak Eko, saya mau nanya.”

Pak Eko           :” iya apa Karno.?”

Karno                :”pak tadi waktu lihat karnaval kenapa nama desa kita tidak ada pak?”

Abdurrahman  :”iya pak kenapa tidak ada?”

Pak Eko           :”oh itu.. Kalian tau sendiri kan kondisi desa kita bagaiman. Kita serba dalam kekurangan dari fasilitas jalan desa saja kita msih dalam keadaan yang cukup parah. Bukan cuma itu saja banyak fasilitas umum yang mesti mendapat perhatian khusus seperti fasilitas kesehatan, dan lain-lain.”

Karno             :”pak apa yang menjadi penyebab itu semua pak?

Pak Eko           :”kurangnya perhatian dari pemerintah daerah kepada daerah tertinggal seperti kita karno. Selain itu bannyak isu yang mengatakan kalau dana dari pusat bbanyak  yang telah dikorupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jadinya dana yang diterima oleh desa menjadi sangat sedikit, tapi itu hannya isu bapak juga tidak tahu juga.”

Abdurrahman :” berarti para pejabat itu jahat ya pak?”

Pak Eko           :” Bapak juga tidak tau Rahman. Maka dari itu kalian berdua harus bersungguh dalam belajar, sekolah lah setinggi-tingginya agar kalian dapat merubah nasib desa kita ini.”

Karno                :”baik pak saya akan belajar sungguh-sungguh dan merubah desa kita ini. Ayo Rahman kamu juga harus ikut.!”

Abdurrahman  :” ayo. Kita harus dapat merubah desa kita ini.”

Pak Eko           :”bapak akan berdoa untuk kesuksesan kalian. Dan bapak menanti karya besar kalian untuk desa kita.”

Setelah beberapa menit mereka pun akhirnya sampai di desa . setelah berpamitan mereka berdua pulang bersama dan berpisah setelah sampai di rumah abdurrahma.

Karno             :”aku langsung pulang ya Man.”

Abdurrahman :”iya, tapi kamu tidak mau mampir dulu sebentar?”

Karno             :”tidak usah, nanti ibuku khawatir.”

Abdurrahman  :”o iya sudah kalau tidak  mau, hati-hati dijalan.”

Karno             :”maaf ya Man. Assalamualaikum.”

Abdurrahman :”waalaikum salam.”

Setelah berpamitan Karno mulai berjalan pulang menyusuri jalan terjal seperti pagi tadi. Sebelum sampai  jam 1 Karno pun sudah sampai di rumah. Di rumah ia sudah ditunggu oleh ibunya yang khawatir karena ia pulang terlambat.

Ibu       :”akhirnya kau pulang le, kamu kemana saja jam segini baru pulang?”

Karno  :”aku tadi habis lihat karnaval buk.”

Ibu       :”kamu kok bisa sampai kesitu le?”

Karno :”tadi bertiga aku, Abdurrahman dan Pak Eko bu.”

Ibu       :”ohh diajak Pak Eko.”

Karno :”nggak bu, tadi sebenernya aku sama Abdurrahman mau jalan sendiri tadi dijalan kami berpapasan dengan Pak Eko bu, terrus Pak Eko nawarin kita buat boncengan.”

Ibu       :”kamu itu lho. Jangan diulangi lagib ya le. Missal kalau pergi jauh bilang dulu sama ibu. Biar ibu tidak khawatir.”

Karno  :”iya bu maaf.”

Ibu       :”iya le ibu maafkan lain kali jangan diulang lagi ya.”

Karno :”iya bu.”

Ibu       :”ayo kamu langsung sholat dzuhur sekarang nanti kalau lupa! “

Karno :”iya bu,”

Malam harinya sebelum tidur Karno mengungkapkan pengalamannya melihat karnaval dan mengungkapkan keinginan besarnya untuk desanya.

Karno  :”bu, aku ingin sekolah sampai setinggi-tingginya agar dapat mengubah desa kita ini menjadi lebih baik bu.”

Ibu                   :”itu sulit lho le. Benar kamu ingin tetap malakukannya?”

Karno              :” masih bu, aku ingin di desa kita bisa mengikuti karnaval seperti desa lainnya dan mempunyai fasilitas umum yang sama seperti desa-desa lainnya.”

Ibu                   :”tujuanmu mulia sekali le. Doa ibu selalu bersamamu.”

Karno             :”terima kasih bu. Aku pasti bisa .”

Ibu                   :”iya le kamu pasti bisa.”

 

TAMAT

Penulis merupakan Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Semarang