Webinar Beasiswa Unggulan “Ngobrol Beasiswa Unggulan Bareng Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Semarang” Pesantren Riset Al-Muhtada

(30/07/2021). Pesantren Riset Al-Muhtada telah  melaksanakan Webinar Beasiswa Unggulan dengan tema “Ngobrol Beasiswa Unggulan Bareng Mahasiswa Berprestasi Utama UNNES”. Pembicara dalam webinar tersebut  merupakan mahasantri Gema Aditya Mahendra yang juga merupakan seorang Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama Universitas Negeri Semarang 2021 sekaligus Awardee Beasiswa Unggulan Tahun 2020. Partisipan dalam webinar ini kurang lebih terdapat 90 orang yang terdiri dari peserta umum berasal dari berbagai universitas, mahasantri, dan dihadiri oleh pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada.

Kegiatan berlangsung dengan dipandu oleh Master of Ceremony Maulina Istighfaroh Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada. Sambutan pertama oleh saudari Khasiatun Amaliyah selaku ketua panitia. Khasiatun menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada yang telah mendukung terselenggaranya acara webinar, para panitia, dan seluruh peserta webinar dalam menyukseskan acara dengan lancar. Selain itu, Khasiatun menyampaikan bahwa tujuan hadirnya Webinar ini tidak lain adalah untuk menambah pengetahuan, menambah bekal bagi mereka yang akan mengikuti seleksi Beasiswa Unggulan, serta sebagai sarana mempererat tali silaturrahmi baik antar mahasantri maupun mahasantri dengan para peserta dari berbagai universitas.

Sambutan selanjutnya oleh pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada (Dr. Dani Muhtada, M. Ag., M.P.A) sekaligus membuka acara. Beliau mengucapkan terima kasih kepada panitia yang bertugas dan seluruh peserta yang sudah hadir. Dr. Dani Muhtada M.Ag., M.P.A menyampaikan bahwa webinar ini sebagai sarana berdiskusi atau sharing berbagi ilmu pengetahuan dari narasumber yang sudah menjadi awardee beasiswa unggulan kepada para peserta. Dengan demikian, peserta dapat mendapatkan manfaat dari apa yang disampaikan oleh narasumber.

Kegiatan inti yakni pemaparan materi oleh Saudara Gema Aditya Mahendra dengan moderator Zeti Pazita mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Materi berisi hal-hal yang berhubungan dengan Beasiswa Unggulan mulai dari pengertiannya, jenisnya, hingga diberikan contoh mahasiswa yang mendapatkan beasiswa tersebut beserta prestasi apa saja yang dilampirkan. Antusiasme peserta ditunjukkan dengan mereka aktif bertanya kepada narasumber. Kegiatan berakhir dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh saudara Nurharianto Jayadi, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, serta dilakukan sesi foto bersama. Harapannya dengan telah terlaksananya webinar ini, peserta yang mengikuti kegiatan dengan baik dapat menjadi lebih paham mengenai Beasiswa Unggulan dan terbekali ilmu untuk mendaftar beasiswa tersebut.

 

Penerjuan Tim PPL Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Salatiga di Pesantren Riset Al-Muhtada

Pada Kamis tanggal 22 Juli 2021 Pesantren Riset Al-Muhtada kedatangan keluarga baru, Tim PPL IAIN Salatiga beserta 14 mahasiswa peserta PPL dari program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT), IAIN Salatiga. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada (Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A.), Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga (Dr. Benny Ridwan, M.Hum.), 2 Dosen DPL IAIN Salatiga, 14 mahasiswa/mahasiswi peserta PPL IAIN Salatiga, serta segenap mahasantri pesantren Riset Al-Muhtada. Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A. menyambut hangat mahasiswa IAIN Salatiga beserta dekan dan pendamping PPL. Penyambutan PPL Mahasiswa IAIN Salatiga ini berlangsung secara blended, yaitu offline yang berlangsung di asrama putra Pesantren Riset Al-Muhtada, serta online melalui platform Zoom Meeting dan Youtube.

Sambutan diawali oleh saudara Gema Aditya Mahendra, mahasantri sekaligus Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada. Saudara Gema menyampaikan selamat datang kepada tim PPL IAIN Salatiga, serta berterima kasih atas kepercayaan tim PPL IAIN Salatiga yang telah menerjunkan mahasiswanya untuk melakukan kegiatan PPL di Pesantren Riset Al-Muhtada.

Sambutan sekaligus penyerahan mahasiswa PPL IAIN Salatiga disampaikan secara langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN Salatiga (Dr. Benny Ridwan, M.Hum.). Dr. Benny Ridwan, M.Hum. berharap agar dalam 1 bulan kedepaan, yaitu 22 Juli hingga 22 Agustus, mahasiswanya dapat belajar terkait pola dan metode yang dikembangkan di Pesantren Riset Al-Muhtada, serta akan menjadi pertemuan yang berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya.

Selanjutnya, yaitu acara inti berupa sambutan dan pemaparan mengenai Pesantren Riset Al-Muhtada yang disampaikan oleh Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., selaku pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada. Beliau mengucapkan selamat datang kepada tim PPL IAIN Salatiga, dan merasa mendapat kehormatan karena telah dihadiri oleh dekan dan tim PPL IAIN Salatiga. Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A. memaparkan secara detail terkait Pesantren Riset Al-Muhtada. Beliau berharap, mahasiswa PPL IAIN Salatiga dapat bergabung dengan kegiatan di Pesantren Riset Al-Muhtada, supaya dapat memperkaya pengetahuan mahasantri, serta dapat membentuk jejaring antara mahasiswa IAIN Salatiga dan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang statusnya sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama terkait rangkaian kegiatan yang akan berjalan kedepannya, kemudian diakhiri dengan bacaan doa yang dipimpin oleh saudara Muhammad Mahfud Muzadi, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, serta foto bersama.

Program Percepatan Kelulusan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada

Pertemuan Program Percepatan Kelulusan Mahasantri Secara Virtual

Jum’at, 18 Juni 2021 – Pesantren Riset Al-Muhtaada menggelar pertemuan virtual bersama para mahasantri angkatan pertama. Pertemuan tersebut dilatarbelakangi oleh salah satu agenda besar pesantren yakni“Program Percepatan Kelulusan Mahasantri”. Keberadaan program tersebut bertujuan untuk mempersiapkan mahasantri di fase akhir studi serta mempersiapkan rencana diri pasca studi.

Pengasuh pesantren, Ustadz Dani Muhtada menyampaikan banyak pesan serta arahan kepada mahasantri sebagai bekal untuk melangkah kedepan. Beliau berpesan bahwa mahasantri Angkatan pertama (Angkatan 2018) sesegara mungkin harus menyelesaikan mata kuliah di semester 7.  Pada semester 7 itu pula seluruh mahasantri diharapkan sudah kaffah melaksanakan KKN, PLP / PPL / PKL, dan draft Skripsi. Beliau juga memberikan arahan bahwa selayaknya skripsi yang diambil adalah skripsi yang dapat dan mampu diselesaikan dengan baik oleh mahasantri. Selanjutnya pengasuh berpesan untuk menyiapkan rencana pasca studi yang akan diambil. Dalam perencanaan pacsa studi sebaiknya membuat banyak rencana agar mudah beralih, ketika menuai ketidakberhasilan.

Terakhir, pesan yang begitu penting bagi mahasantri adalah untuk senantiasa memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungan. Baik jika mahasantri akan meneruskan karir di Semarang maupun di kampung halaman masing-masing. Pertemuan tersebut hakikatnya memberikan banyak pandangan bagi mahasantri dan merupakan sebuah wejangan hebat dari pengasuh yang luar biasa. (WIA)

“Ats-tsabit wal mutaghayyir” “Alat, media dan pranata boleh berubah. Namun, nilai dan norma daripada sebuah substansi sulit berubah”

      Dua penggalan kalimat diatas adalah sedikit nasihat yang disampaikan oleh DR. Ahwan Fanani dalam acara “Halal Bi Halal Keluarga Besar Pesantren Riset Al-Muhtada” yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei tahun 2021 pukul 19.30 WIB melalui media daring zoom meeting. Acara halal bi halal tersebut bertemakan “Sucikan Hati Dengan Pererat Silaturahmi Dimasa Pandemi”. Berikut adalah dokumentasinya.

      Jika kita melakukan kilas balik sebelum masa pandemi covid-19, seluruh kegiatan baik itu kegiatan ekonomi, sosial ataupun keagamaan dilakukan secara bebas tanpa adanya pembatasan atau bahkan pelarangan dalam ruang publik. Namun, setelah datangnya covid-19 ke Indonesia dan statusnya naik menjadi pandemi, kegiatan sosial, ekonomi dan keagamaan dibatasi bahkan dilarang untuk dilakukan dalam ruang publik untuk mencegah penyebaran virus.
     Namun, bagaimanapun buruknya kondisi yang dialami oleh sebuah negara, ia harus tetap menjalankan fungsi dan perannya sekalipun dalam keadaan pandemi ini. Konstelasi yang dihadapi oleh Indonesia membuat negara ini melakukan penyesuaian-penyesuaian atau proses adaptasi dimasa pandemi. Tidak hanya negara saja yang sedang melalui “state of survival”, namun masyarakat juga beradaptasi dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat negara.
Dua kali sudah kita melalui hari raya idul fitri dimasa pandemi ini, dimana baik tahun 2020 maupun sekarang pembatasan atau larangan untuk pulang ke kampung halaman atau pergi ke tempat tertentu untuk bersilaturahim diberlakukan. Dengan adanya pembatasan bahkan larangan mudik atau berpergian, kebutuhan emosional masyarakat agaknya susah dipenuhi.
      Hal ini mungkin kita dapat ketahui dari beberapa story atau upload teman-teman kita di sosmed tentang betapa pandemi ini menghalangi mereka untuk sekedar melepas rindu dengan bertemu keluarga atau kerabat di tempat nun jauh. Namun, keadaan yang sudah kita lalui bersama selama satu tahun lebih ini membuat kita terbiasa atau beradaptasi dalam situasi pandemi.

      Hal ini dapat kita lihat dari menjamurnya kegiatan-kegiatan daring seperti webminar (seminar daring), khataman online, silaturahmi online dan kegiatan-kegiatan lain yang sebelum pandemi melanda dilakukan secara luring, namun setelah pandemi dilakukan melalui jaringan internet.
Hal ini menurut DR. Ahwan Fanani selaku narasumber acara halal bi halal Pesantren Riset Al-Muhtada adalah lumrah bahkan sudah diprediksi sejak tahun 60an atau yang disebut oleh para ilmuan sebagai sebuah era “postmodern”. DR. Ahwan menjelaskan bahwa salah satu ciri khas dari era ini adalah terjalinnya hubungan yang sekedar simbolis atau simulasi lewat media (interaksi sekunder).
      Proses inilah yang sedang kita lalui mulai dari satu tahun lalu, bahkan adaptasi yang kita lakukan bisa dikatakan cepat dan cenderung menyasar kepada sendi-sendi kehidupan yang fundamental atau kita kenal dengan era disruptif. Dalam era disruptif, perubahan-perubahan terjadi secara cepat, manusia didalamnya termasuk negara-negara bersaing satu sama lain untuk beradaptasi dengan perubahan yang niscaya. Perubahan-perubahan inilah yang menciptakan tantangan bagi insan modern di era disruptif.
      DR. Ahwan menjelaskan bahwa ada hal-hal yangberubah dan ada hal-hal yang ajeg atau kaidahnya “ats-tsabit wal mutaghayyir”. Hal-hal yang cenderung trivial atau periferal akan mudah berubah namun, hal-hal yang sifatnya substansial seperti nilai dan norma akan sulit diubah. Kaidah inilah yang memegang kunci bagi insan agamis dalam melihat dan menghadapi perubahan dimasa pandemi.
Mungkin, metode atau perbuatan, pranata dan media dalam melakukan sesuatu boleh berganti menyesuaikan kebutuhan atau keadaan dalam suatu waktu dan tempat. Namun, substansi yang menjiwai akan sama atau tetap. Sama ketika kita melakukan kegiatan-kegiatan virtual dimasa pandemi ini, dimana kegiatan dilakukan secara dari atau tanpa tatap muka secara harfiah. Namun, substansi yang ada tetap tidak berubah.
Kemampuan meninjau seperti inilah yang dibutuhkan oleh insan di era disruptif ini, jangan sampai hal-hal yang trivial mengacaukan kita dan kita malah menganggapnya sebagai sebuah hal yang substansial atau krusial. Tempatkan apa yang menjadi tantangan sebagai tantangan, kelemahan sebagai kelemahan, kekuatan sebagai kekuatan dan kesempatan sebagai kesempatan. Dengan demikian, perubahan seperti apapun akan mudah dilalui.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Musyawarah Akbar Pesantren Riset Al-Muhtada Berhasil Digelar, Gema Aditya Mahendra Presiden Mahasantri 2021-2022.

Ket. In’am Zaidi Presiden Mahasantri Periode 2019-2021 (Kiri) dan Gema Aditya Mahendra Presiden Mahasantri Periode 2021-2021 (Kanan)

Semarang, 4/4/2021- Pesantren Riset Al-Muhtada kembali menyelanggarakan agenda “Musyawarah Akbar”. Acara ini dilaksanakan secara tatap muka di Asrama Putra Pesantren Riset Al-Muhtada dan Virtual pada aplikasi meeting. Musyawarah Akbar merupakan salah satu agenda tahunan sebagai forum pertanggungjawaban pengurus aktif dan reformasi kepengurusan.

Kegiatan Musyawah Akbar digelar hari Rabu, 3 April 2021 dimulai pukul 09.00 WIB dengan sambutan pengurus dari Presiden  Pesantren Riset Al-Muhtada periode 2019-2021, saudara In’amZaidi dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka acara oleh Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag., MA., Ph.D, kemudian dilanjutkan dengan serangkaian acara musyawarah akbar.

“Jangan pernah bertanya apa yang telah pesantren berikan kepada kita. Tapi, tanyakan apa yang telah kita berikan kepada pesantren” pesan In’am Zaidi Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada 2019-2020 kala sambutan pembukaan acara.

Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag., MA., Ph.D juga memberikan apresiasi yang kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras dalam menyiapkan acara dengan sangat baik, kepada seluruh Mahasantri yang telah mengikuti acara dari awal sampai akhir, kepada seluruh pengurus demisioner yang telah mengabdi tak kenal lelah selama ini, serta terkhusus kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang semoga sukses dan amanah dalam mengelola Pesantren Riset Al-Muhtada.

Musyawarah akbar yang dilaksanakan dihadiri oleh seluruh Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada baik angkatan 2018, 2019 maupun 2020, selain membahas mengenai laporan pertanggung jawaban pengurus periode 2019-2021, dalam musyawarah ini menentukan Presiden serta Wakil Presiden untuk periode selanjutnya sebagai penerus estafet kepengurusan dari Pengurus PesantrenRiset Al-Muhtada sebelumnya.

Hasil dari Musyawarah Akbar menetapkan saudara Gema Aditya Mahendra sebagai Presiden Mahasantri dan saudari Eka Erni Nurrohmah sebagai Wakil Presiden Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Periode 2021-2022.

Musyawarah Akbar selesai Mingu 4 April 2021 pukul 00.33 WIB, dilanjutkan dengan sesi penyerahan secara simbolis kepemimpinan pesantren  dari Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada 2019-2021 kepada Presiden  Pesantren Riset Al-Muhtada 2021-2022, acara ditutup dengan sesi foto bersama (MNA/DWK).

Semhas Penelitian: Berkarya di Tengah Pandemi, Pengasuh Beri Apresiasi

Dokumentasi Seminar Hasil Penelitian Mahasantri Tahun 2021 Melalui Aplikasi Zoom Meeting

28/03/2021 – Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi covid-19 memang sedikit banyak mengalami hambatan. Meskipun demikian, kegiatan tersebut harus tetap dilanjutkan demi keberlangsungan pendidikan.

Demikian juga kegiatan belajar di Pesantren Riset Al-Muhtada. Pesantren yang terletak di wilayah Banaran Kampus Unnes Gunungpati tetap melangsungkan berbagai kegiatan secara virtual. Salah satu kegiatannya yakni Seminar Hasil Penelitian Mahasantri yang rutin digelar sebagai kegiatan tahunan sekaligus kegiatan yang mendorong Mahasantri untuk berlatih menjadi seorang peneliti.

Seminar Hasil Penelitian merupakan bagian akhir dari serangkaian kegiatan pembelajaran metodologi penelitian mahasantri. Seminar hasil merupakan acara untuk melaporkan hasil dari temuan penelitian yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret.

Tema penelitian yang diangkat pada tahun ini yakni aspek budaya, pendidikan, dan keagamaan. Dimana Mahasantri melakukan penelitian di beberapa bidang yang terkait dengan tema penelitian, sebagai contoh ada yang melaksanakan penelitian mengenai BumDes sebagai pemersatu umat beragama, Model pendidikan di Panti Asuhan saat Pandemi Covid-19, Tradisi rabu wekasan dikalangan millenial, Tradisi perlon unggahan pada Masyarakat Bonokeling Cilacap, dan penelitian kelompok mahasantri lainnya yang mengangkat judul yang menarik.

Seminar Hasil Penelitian tahun 2021 Pesantren Riset Al-Muhatada dilaksanakanpada 28 Maret 2021 secara virtual mengingat keadaan pandemi covid-19 yang belum usai, bertepatan pada hari Minggu, 14 Sya’ban 1442 H.

Kegiatan berjalan dengan lancar yang dimulai pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan sekaligus membuka acara Seminar Hasil dari pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag. M.A., M.P.A kemudian dilanjutkan acara inti yaitu pemaparan hasil penelitian dari tiap mahasantri yang tergabung dalam 13 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok yang memaparkan hasil penelitian, menjawab pertanyaan yang diajukan baik dari pengasuh dan reviewer Bapak Ayon Diniyanto, S.H., M.H.

Saya sangat mengapresiasi semua santri yang sudah bekerja keras melakukan penelitian” ungkap pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada M.Ag., MA., Ph.D kala sesi terakhir sebelum penutupan acara.

Alhamdulillah, rasa lelah itu akan terganti dengan bahagia” begitu ungkap Azkia, salah satu mahasantri yang turut merasakan tegang dan gugup saat hendak memaparkan hasil penelitian.

Seminar Hasil Penelitian diikuti pula oleh peserta dari kalangan umum. Acara ini berakhir pukul 12.27 dan ditutup dengan sesi foto bersama. (FM/DWK).

Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Nurjaya dan Gema Aditya Mahendra, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Kembali Mengukir Berprestasi

Semarang (22/11/2020), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang  memenangkan kompetisi lomba karya tulis ilmiah bertajuk Chemical Engineering Paper (CEPTION) tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang. Perlombaan tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 19,21, dan 22 november 2020 dengan tema besar “Inovasi Gen Z Dalam Riset Dan Teknologi Kreatif Untuk Mencapai Suistanable Development Goals (SDGs) 2030”.

Mahasiswa dengan nama Gema Aditya Mahendra dan Nurjaya yang kemudian tergabung dalam tim Deadliner berhasil menyisihkan puluhan peserta dari berbagai daerah dengan mendapat predikat best poster dalam ajang tersebut. Adapun pesaing dari acara ini yaitu Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Pertamina, dan universitas lainnya yang ada di Indonesia.

Gema Aditya Mahendra mengungkapkan bahwa “Harapan kedepanya semoga bisa lebih aktif dan kreatif lagi, bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (N/GAM)

Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Publikasikan Karya Ilmiah Melalui Jurnal

Semarang (1/11), Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, saudara Siti Zakiyatul Fikriyah, Indra Dwi Jayanti, dan Siti Mu’awanah berhasil mempublikasikan karya ilmiah yang berjudul “Akulturasi Budaya Jawa Dan Ajaran Islam Dalam Tradisi Popokan”. Publikasi yang berhasil dilakukan oleh ketiga mahasantri tersebut melalui Jurnal Penelitian Budaya Volume 5 Nomor 2 (Oktober 2020) Hal 77-88.

Karya ilmiah ini membahas mengenai tradisi popokan (saling melempar lumpur)  di Dusun Sendang, Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Tradisi yang didasari oleh kepercayaan masyarakat Desa Sendang dengan tradisi popokan yang didalamnya juga terdapat ziarah kubur dan doa-doa kepada Allah SWT. Tradisi Popokan dilaksanakan setiap tahun.

Siti Zakiyatul Fikriyah berharap bahwa karya ilmiah yang berhasil dipublikasikan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dr. Dani Muhtada  mengatakan bahwa “Prestasi yang telah dicapai oleh mahasantri Siti Zakiyatul Fikriyah, Indra Dwi Jayanti, Siti Mu’awanah sangat membanggakan”.(DWK)

SANTRI, DIPLOMASI DAN TUGAS MEMODERASI ISLAM & DEMOKRASI

Semarang, (25/10), “Diplomat adalah sebuah jabatan yang tak mempunyai senjata seperti angkatan militer, namun memiliki senjata dalam bentuk lain, yakni mulut” ujar pak Haji Rahmat Hindiartha Kusuma dalam seminar dalam jaringan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, Tanggal 24 Oktober pukul 19.00 hingga pukul 20.40 WIB. Seminar dalam jaringan (selanjutnya disebut Webminar) yang dilaksanakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada ini, mengangkat tema Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober dengan judul “Santri dan Peran Diplomasi Luar Negeri”.

Acara Webminar Hari Santri yang diselenggarakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada pada malam minggu ini diikuti oleh 66 orang termasuk pemateri dan narasumber via Zoom Cloud Meeting. Tak hanya itu, acara Webminar kali ini juga diselenggarakan dengan fitur live streaming youtube yang telah ditonton sebanyak 127 kali lewat channel youtube official Pesantren Riset Al-Muhtada.

Rangkaian acara dimulai oleh MC dengan membacakan rundown serta dilanjut dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh santri. Setelah tilawah, Ustadz Dani Muhtada selaku Pengasuh Pondok memberikan kata sambutan kepada para peserta dan narasumber. Acara dilanjut oleh moderator yang membacakan tata tertib Webminar serta CV narasumber lalu, moderator memberikan salam hangat kepada bapak Hindiartha selaku narasumber. Acara inti dimulai ketika bapak Hindiartha menjelaskan materi mengenai apa yang dapat dilakukan seorang santri dalam tugas diplomasi.

Bapak Hindiartha merupakan seorang santri yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren dan mendalami ilmu-ilmu agama yang sekarang menjadi seseorang yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC sebagai sekertaris tingkat 1. Penjelasan Webminar dimulai dengan stereotip orang indonesia yang bekerja di luar negeri yang erat dengan gaji besar, jalan-jalan ke tempat wisata serta berbelanja yang tidak sepenuhnya benar, sebab tugas seorang diplomat terkadang tidak memungkinkan untuk melakukan hal-hal diatas.

Selanjutnya bapak Hindiartha memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan oleh seorang duta di negara orang yang dimuat dalam Konvensi Wina Tahun 1961 Tentang Hubungan Diplomatis, yang menurut bapak Hindiartha adalah “kitab suci para diplomat”. Tugas tersebut dimuat dalam pasal 3 konvensi diantaranya adalah ; 1). Representasi, 2). Melindungi, 3). Bernegosiasi, 4). Melaporkan dan 5). Mempromosikan.

Selanjutnya, bapak Hindiartha mengatakan bahwa sebagai seorang santri serta seorang diplomat, tidaklah kemudian membuat beliau kesulitan dalam melaksanakan tugas namun, justru menimbulkan tantangan yang menurut beliau sangat menarik untuk dilewati. Lebih lanjut beliau juga mengataka bahwa santri khususnya di Indonesia merupakan peran yang strategis dalam melakukan tugas moderasi keberagaman dengan mengedepankan inklusifitas dan musyawarah yang merupakan potongan dari keseluruhan ajaran agama Islam.

Menjadi seorang diplomat yang ditempatkan di KBRI Washington DC serta seorang santri menurut bapak Hindiartha merupakan salah satu tantangan nmaun bukan hambatan. Beliau bercerita bahwa dengan ditempatkan disana, beliau memilki kesempatan dalam menerapkan ilmu fiqh minoritas yang sangat mempermudah beberapa ritus agama. Dengan menjadi seorang diplomat dan ditempatkan di daerah bonafide, membuat beliau memiliki pandangan global serta berkesempatan mengenalkan dan mempromosikan Indonesia ke kancah internasional.

Setelah memberikan materi yang kurang lebih berdurasi 30 menit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Peserta diskusi diperkenankan untuk menyerahkan pertanyaan lewat fitur chat yang ada di aplikasi Zoom Cloud Meeting agar menghindari kemungkinan lagging saat berbicara lewat mikrofon. Sesi pertanyaan dibuat menjadi dua kloter yang masing-masing kloter diisi oleh tiga pertanyaan.

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah kesulitan apa saja yang dialami oleh beliau ketika sedang bertugas. Beliau menjawab bahwa bukanlah hal eksternal yang membuat tugas beliau menjadi rumit, melainkan konstelasi politik dan pelaksanaan serta koordinasi lembaga dalam negeri lah yang membawa kesulitan. Sebab menurut beliau, ketika beliau hendak menjelaskan keunggulan dan mempromosikan keunggulan indonesia, orang-orang luar yang hadir mengatakan atau menimpali dengan keburukan yang membuat mereka justru enggan untuk datang sebagai turis karena tempat manajemen tempat wisata yang buruk, enggan investasi karena birokrasinya rumit serta ada “pemalakan” dan banyak lagi.

Tantangan kedua berasal dari faktor eksternal, yakni konstelasi politik di tempat beliau bekerja sebagai diplomat serta kestabilan politik. Mengenai kestabilan politik, beliau menimpali bahwa ketika ditempatkan di negara berkonflik seperti Yaman, beliau kesulitan melaksanakan kelima tugas dari diplomat kecuali tugas melindungi. Beliau bercerita bahwa di Yaman ada sekitar 12.000 WNI yang kuliah atau menjadi tenaga kerja disana. Beliau berusaha untuk memulangkan semua WNI di daerah yang dekat atau merupakan yempat terjadinya konlik.

Menurut beliau, sebagai seorang santri serta seorang diplomat, ada dua hal yang setidaknya bisa dilakukan untuk membantu Indonesia dalam menjalin hubungan dengan negara lain sebagai salah satu bagian masyarakat internasional yakni ikut serta dengan aktif membantu menyelesaikan kesalahpahaman di Timur Tengah, stigmatisasi Islam sebagai agama teroris serta eskalasi hubungan AS-Tiongkok. Keduanya dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang akuntabel serta law enforcement dan lain-lain.

Setelah sesi tanya jawab selesai, acara dilanjutkan dengan foto bersama dengan narasumber lalu Ustadz Dani Muhtada menyampaikan ramah-tamah dan berterimakasih sekali lagi kepada narasumber yang telah menyempatkan waktu disela kesibukannya untuk mengisi acara Webminar. MC kembali mengambil alih acara serta dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang santri Al-Muhtada. Rangkaian acara Webminar ditutup oleh MC dan selesai pada pukul 20.40 WIB. (RAK)