Almuhtada.org – Pada hari Rabu pekan lalu (17/01/2024), kabar duka menyelimuti umat Islam di Indonesia.
Ulama kharismatik NU asal Indramayu, KH Abdul Syakur Yasin berpulang ke pangkuan Ilahi Rabbi dalam usia 75 tahun.
Kiai yang akrab disapa Buya Syakur itu didiagnosa menderita gagal jantung dan sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Wafatnya Buya Syakur dan tentunya ulama lainnya meninggalkan kepedihan yang mendalam bagi umat Islam di Indonesia.
Rasulullah Shollallahu ‘alahi Wa Sallam pernah bersabda, “ِالْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاء” yang artinya ulama adalah pewaris para nabi.
Dalam hal ini, ulama bukan mewarisi harta atau kedudukan para nabi, melainkan tugas dalam menyebarkan dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada seluruh umat manusia.
Ilmu agama Islam diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alahi Wa Sallam kepada para sahabatnya yang kemudian terus diajarkan sampai dengan generasi selanjutnya.
Dari pengajaran tersebut melahirkan ulama-ulama cendekiawan yang meneruskan estafet kepemimpinan para nabi dalam membimbing umat di dalam menghadapi peliknya kehidupan zaman yang berubah-ubah.
Dengan hadirnya ulama, setiap sisi kehidupan masyarakat akan senantiasa tetap teratur dan terjaga dalam koridor nilai dan ajaran agama Islam sesuai tuntunan para nabi.
Lalu, apa jadinya jika satu per satu ulama dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Wafatnya ulama merupakan pertanda kegelapan bagi agama Islam.
Dalam Kitab Lubabul Hadits pada bab ke-37 tentang keutamaan mengingat mati, Rasulullah Shollallahu ‘alahi Wa Sallam pernah bersabda “ِمَوْتُ الْعُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ فِى الدِّيْن” yang artinya meninggalnya ulama menjadi kegelapan di dalam agama (Islam).
Mengapa wafatnya ulama menjadi kegelapan bagi agama Islam?
Seperti penjelasan di atas, ulama mewarisi ilmu agama yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alahi Wa Sallam.
Dengan meninggalnya ulama, dikit demi sedikit ilmu-ilmu agama Islam akan berangsur-angsur terangkat ke langit dan semakin hilang dari permukaan bumi.
Manusia akan mulai merasa asing dengan ajaran agama Islam sehingga di setiap sisi kehidupannya semakin jauh dari penerapan nilai dan ajaran Islam itu sendiri.
Wafatnya ulama juga akan mengakibatkan umat kehilangan sosok pembimbing yang mampu menuntun ke arah jalan yang benar.
Banyak umat yang akan kebingungan dan pada akhirnya terjerumus dalam kesesatan dan kehinaan.
Oleh karena itu ketika ada ulama yang meninggal dunia, seorang muslim harus merasa berduka dan bersedih karena telah kehilangan sosok pembimbing umat pengganti para nabi.
Cara yang dapat dilakukan adalah dengan mendoakan ulama tersebut dan meminta pertolongan Allah agar senantiasa menjaga ajaran agama Islam sampai hari kiamat kelak. [] Mohammad Khollaqul Alim
Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah