Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura

Gambar ilustrasi awal tahun baru Hijriyah (freepik.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – Bagi seorang muslim, berjumpa dengan bulan Muharram adalah sebuah kesempatan yang luar biasa. Sebab, di dalamnya terdapat dua hari mulia yang sangat istimewa, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram. Hanya dengan meluangkan waktu dua hari untuk berpuasa, ada hadiah besar yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Bayangkan, hanya dengan menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari itu, kesalahan-kesalahan kecil kita selama 365 hari ke belakang dapat diampuni oleh Allah. Ini menjadi kesempatan berharga bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Apa yang Istimewa pada Hari Asyura?

Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Saat ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Sebagai bentuk rasa syukur, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu, dan tradisi tersebut terus mereka lakukan.

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. bersabda:

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian beliau berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk berpuasa pada hari tersebut.

Baca Juga:  Cara Berpikir Sehat untuk Mahasiswa, Kunci Sukses di Dunia Akademik

Menariknya, dalam sejarah Islam, puasa Asyura pernah memiliki kedudukan yang sangat penting. Sebelum Allah mewajibkan puasa Ramadhan, kaum muslimin diperintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura. Namun, setelah turun kewajiban puasa Ramadhan, hukum puasa Asyura berubah menjadi sunnah yang sangat dianjurkan.

Dari Aisyah binti Abu Bakar r.a., beliau berkata:

“Hari Asyura adalah hari yang biasa dipuasai oleh kaum Quraisy pada masa jahiliah, dan Rasulullah Saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Namun, setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang ingin berpuasa (Asyura), silakan berpuasa, dan barang siapa yang ingin meninggalkannya, silakan meninggalkannya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa puasa Asyura memiliki sejarah yang panjang dalam syariat Islam. Meskipun hukumnya kini sunnah, keutamaannya tetap besar dan menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram.

Lalu, Mengapa Kita Dianjurkan Berpuasa pada Tanggal 9 Muharram?

Meskipun Rasulullah Saw. berpuasa pada tanggal 10 Muharram, beliau tidak ingin ibadah umat Islam sama persis dengan kaum Yahudi. Oleh karena itu, beliau berniat menambahkan puasa pada hari sebelumnya.

Beliau bersabda:

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Namun, Rasulullah SAW wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba. Karena itu, para ulama memahami bahwa sunnah yang dianjurkan adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus. [] LAILIA LUTFI FATHIN

Baca Juga:  Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama dalam Kalender Islam?

Related Posts

Latest Post