Almuhtada.org – Menunggu adalah aktivitas yang hampir setiap hari kita lakukan. Menunggu antrian, menunggu teman, menunggu dosen, bahkan sekadar menunggu waktu berlalu. Sering kali, waktu-waktu seperti ini terasa membosankan. Tanpa sadar, tangan langsung mengambil ponsel, membuka media sosial, lalu waktu pun habis tanpa terasa.
Padahal, dalam Islam, tidak ada waktu yang benar-benar sia-sia jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik. Bahkan, waktu yang dianggap “kosong” justru bisa menjadi kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga waktu dalam islam:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa waktu luang, termasuk saat menunggu, sering kali tidak dimanfaatkan dengan baik. Kita menganggapnya remeh, padahal di situlah letak kerugian yang tidak kita sadari.
Salah satu amalan paling sederhana yang bisa dilakukan saat menunggu adalah berdzikir. Tanpa perlu gerakan khusus, tanpa membutuhkan tempat tertentu, dzikir bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, atau astaghfirullah mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki nilai yang besar di sisi Allah.
Allah Ta’ala juga berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa dzikir bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi penenang hati. Waktu menunggu yang tadinya terasa membosankan bisa berubah menjadi momen yang menenangkan.
Selain dzikir, kita juga bisa memanfaatkan waktu menunggu untuk beristighfar. Rasulullah sendiri, yang sudah diampuni dosa-dosanya, tetap beristighfar dalam sehari lebih dari 70 kali. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga sebagai bentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah.
Jika memungkinkan, waktu menunggu juga bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat. Sedikit tetapi rutin lebih baik daripada banyak namun jarang dilakukan.
Masalahnya bukan pada sedikit atau banyaknya waktu yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya. Waktu menunggu yang hanya beberapa menit, jika dikumpulkan, bisa menjadi bagian besar dari hidup kita. Jika semua itu diisi dengan hal yang bermanfaat, maka tanpa disadari kita telah mengumpulkan banyak kebaikan.
Sebaliknya, jika waktu-waktu kecil itu terus diisi dengan hal yang sia-sia, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan tanpa pernah menyadarinya.
Pada akhirnya, menunggu bukan lagi sekadar aktivitas membosankan, tetapi bisa menjadi ladang pahala. Semuanya tergantung pada bagaimana kita memandang dan mengisinya.
Maka, saat berikutnya kita berada dalam waktu menunggu, mungkin kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri: apakah waktu ini akan berlalu begitu saja, atau akan kita isi dengan sesuatu yang bernilai di sisi Allah?
Penulis: [Fitri Novita Sari]











