almuhtada.org – Di tengah dunia yang sering mengukur nilai manusia dari pencapaian, popularitas, dan pengakuan yang membuat diri ini sesak.
Islam justru mengajarkan sesuatu yang berbeda yakni merendah.
Bukan merendahkan diri tanpa arah, tetapi merendah karena sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Allah Swt.
Sebuah nasihat indah dari Ustadz Irfan Rizki Haas menyebutkan: “Tetaplah merendah, biarlah yang tinggi itu doa, usaha, dan baik sangka kita kepada Allah.”
Kalimat ini mengajarkan bahwa yang seharusnya ditinggikan bukanlah ego, melainkan hubungan kita dengan Allah Swt.
Ikhlas: Inti dari Setiap Amal
Segala amal dalam Islam sangat bergantung pada niatnya.
Bahkan amal besar bisa menjadi sia-sia jika tidak dilandasi keikhlasan.
Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang berusaha, menolong, dan berjuang hanya karena Allah Swt., maka amal itu akan bernilai di sisi-Nya meskipun tidak diketahui oleh manusia.
Dalam perjalanan hidup, tidak semua proses harus diumbar.
Ada fase-fase yang lebih baik dijaga dalam diam, hanya antara hamba dan Rabb-nya.
Berproses tanpa banyak diketahui manusia sering kali justru lebih menjaga keikhlasan.
Karena semakin sedikit yang tahu, semakin kecil peluang hati tercampur riya’.
Rasulullah SAW. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Swt. mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim)
Hadits ini mengisyaratkan bahwa ketenangan dan keberkahan sering kali hadir pada mereka yang tidak sibuk mencari pengakuan manusia.
Husnuzan kepada Allah dalam Setiap Keadaan
Selain usaha, hal yang perlu dijaga adalah baik sangka kepada Allah (husnuzan).
Tidak semua proses berjalan mudah. Ada fase jatuh, gagal, bahkan tidak dipahami oleh orang lain.
Namun seorang mukmin tetap percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik.
Allah Swt berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Terkadang ketika kita mendapati sesuatu tidak sesuai harapan kita, sering kali kita langsung meng-klaim bahwasanya itu benar-benar buruk.
Coba renungkan apakah itu memang benar-benar buruk atau “hanya terasa buruk karena kita belum melihat rencana Allah dibaliknya”.
Untuk sampai pada momen realizing memang butuh waktu, kita butuh kacamata masa depan, POV dari beberapa waktu setelah kita mengalami kejadian itu bukan ketika kejadian itu berlangsung.
Husnuzan membuat seseorang tetap kuat dalam proses, karena ia yakin bahwa setiap langkahnya berada dalam rencana terbaik Allah Swt.
Fokus pada Tujuan: Mencari Ridha Allah
Pada akhirnya, hidup seorang Muslim memiliki satu tujuan utama yakni meraih ridha Allah Swt.
Bukan sekadar sukses di mata manusia, tetapi sukses di hadapan Allah.
Allah Swt berfirman:
وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
Artinya: “Dan keridhaan dari Allah adalah yang lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72)
Ketika seseorang menjadikan ridha Allah Swt. sebagai tujuan, maka ia tidak akan terlalu terpengaruh oleh penilaian manusia.
Merendah bukan berarti lemah.
Justru di dalam kerendahan itu terdapat kekuatan. Diantaranya kekuatan iman, keikhlasan, dan keteguhan hati.
Merendah adalah ketika kita tidak meninggikan diri di hadapan manusia, tapi justru meninggikan hubungan kita dengan Allah SWT.
Biarlah manusia tidak mengetahui proses kita, selama Allah mengetahuinya.
Biarlah dunia tidak melihat usaha kita, selama Allah mencatatnya.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah pengakuan manusia, tetapi ridha Allah Swt.
Barakallah fiikum [] Rezza Salsabella Putri











