almuhtada.org – Setiap hari, manusia menerima begitu banyak nikmat dari Allah Swt.
Udara yang dihirup, tubuh yang masih berfungsi, rezeki yang terus mengalir, dan banyak nikmat lainnya yang terkadang tidak kita sadari kehadirannya.
Sering kali, setelah menerima nikmat itu, kita hanya mengucapkan, “Alhamdulillah.”.
Namun muncul sebuah pertanyaan reflektif “Apakah pantas nikmat sebesar itu hanya dibalas dengan satu kalimat?”
Terlebih lagi, Allah tetap memberi rezeki meskipun manusia dalam kondisi jauh dari-Nya.
Bahkan ketika seseorang sedang lalai, belum memperbaiki dirinya, atau masih banyak kekurangan dalam ibadahnya.
Allah Swt tetap memuliakannya dengan nikmat.
Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh melampaui ketaatan hamba-Nya
Hakikat Syukur dalam Islam
Dalam Islam, syukur bukan hanya ucapan di lisan.
Syukur memiliki makna yang lebih dalam: pengakuan dalam hati, ucapan di lisan, dan pembuktian melalui perbuatan.
Allah Swt berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya : “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah.
Ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk mengucapkan syukur, tetapi juga mengaitkannya langsung dengan dzikrullah (mengingat Allah) dan larangan kufur nikmat.
Ini menunjukkan bahwa syukur memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar ucapan lisan.
Para ulama menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga hal yakni hati, lisan, dan anggota badan.
- Dengan hati, kita menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata hasil usaha kita.
- Dengan lisan, kita memuji-Nya dengan mengucapkan Alhamdulillah.
- Dan dengan perbuatan, kita menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, bukan kemaksiatan.
Alhamdulillah: Awal, Bukan Akhir
Ucapan “Alhamdulillah” tentu sangat mulia. Bahkan ia adalah kalimat yang dicintai oleh Allah Swt.
Namun, ucapan itu sejatinya adalah awal dari syukur, bukan puncaknya.
Jika syukur hanya berhenti pada lisan, maka ia belum sempurna.
Syukur yang sejati adalah ketika nikmat yang diberikan Allah Swt. membuat kita semakin dekat kepada-Nya, bukan justru semakin lalai.
Lalu bagaimana cara menunjukkan syukur yang sebenarnya?
Salah satu bentuk syukur paling nyata adalah menjaga shalat.
Mengapa shalat?
Karena shalat adalah bentuk penghambaan langsung kepada Allah Swt. yang juga merupakan tujuan utama diciptakannya manusia.
Allah Swt berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā: 14)
Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi juga bentuk syukur atas segala nikmat yang telah Allah Swt. berikan.
Ketika seseorang menjaga shalatnya, itu menunjukkan bahwa ia tidak hanya menikmati nikmat, tetapi juga mengakui dan membalasnya dengan ketaatan.
Syukur yang Menghidupkan Hati
Bayangkan, jika setiap nikmat yang kita terima mendorong kita untuk lebih menjaga shalat, lebih dekat kepada Allah Swt. dan lebih taat maka nikmat itu benar-benar membawa keberkahan.
Sebaliknya, jika nikmat hanya berhenti pada ucapan tanpa perubahan dalam ibadah, maka bisa jadi kita belum benar-benar memahami makna syukur.
Allah Swt juga berjanji:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrāhīm: 7)
Tambahan nikmat itu bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ketenangan hati, kemudahan hidup, dan kedekatan dengan Allah.
Ucapan “Alhamdulillah” adalah sesuatu yang indah, tetapi tidak cukup jika tidak diikuti dengan amal.
Karena sejatinya, syukur bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi tentang bagaimana seseorang menggunakan nikmat itu untuk kembali kepada Allah Swt.
Dan di antara tanda syukur yang paling nyata adalah menjaga shalat dengan sungguh-sungguh.
Barakallah fiikum [] Rezza Salsabella Putri











