Rahasia Syukur yang Mengubah Hidup Kita: Bagaimana Sunnatullah Membentuk Cara Kita Melihat Dunia ini, Yuk Simak Penjelasan Selengkapnya!

Ilustrasi seorang hamba yang sedang menengadahkan tangan di tengah cahaya matahari hangat sebagai simbol rasa syukur dan juga kesadaran batin. (Dokumen Pribadi - almuhtada.org)

almuhtada.org – Syukur Sebagai Pintu Ibadah

Allah Swt. mendidik kita sebagai hamba-Nya melalui firman-Nya yang ada di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 172 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah…”

Di sini Allah Swt. tidak sekedar memerintahkan kita semata, akan tetapi juga mengajarkan sebuah mindset atau pola pikir yang harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu:

“setiap nikmat mengandung tanggung jawab, dan setiap tanggung jawab mengharuskan akan kesadaran.”

Contoh sederhananya coba kita bayangkan hidup di rumah dengan taman yang luas.

Allah Swt. telah memberikan nikmat kepada kita berupa tanah, kemudian benih, air, dan juga sinar cahaya matahari.

Maka sudah menjadi tugas kita hanya merawat nikmat ditas yang telah Allah Swt. berikan kepada kita.

Ketika kita bersyukur atas nikmat-Nya, pastinya kita menggunakan semua nikmat itu untuk menanam benih serta menyiramnya. Hasilnya benih tersebut akan tumbuh dan akan menghasilkan buah manisnya.

Begitupun dengan hati kita, jika dipenuhi dengan rasa syukur maka kualitas jiwa kita ini yang membuat hati kita mampu melihat kebaikan-kebaikan meskipun berada dalam hari-hari berat yang kita jalani setiap harinya.

Kedua, Syukur sebagai Senjata Kita dari Godaan Setan

Kemudian Allah Swt. juga dengan tegas mengingatkan betapa seriusnya musuh yang nyata bagi kita di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-A’raf ayat ke-17 yang artinya::

Baca Juga:  Iman di Ujung Jari: Tantangan Muslim di Era Digital

“Aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, kiri… dan Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.”

Oke, coba sekarang kita perhatikan ayat diatas, setan secara terang-terangan tidak hanya  menargetkan harta benda, kemudian tubuh, atau kedudukan kita di dunia ini. Akan tetapi ia menargetkan “syukur”.

Ada yang tahu alasannya kenapa?, ya karena setan bahwasanya tahu seorang Hamba yang bersyukur kepada Allah Swt. maka tidak akan mudah untuk dikalahkan.

Orang yang bersyukur pastinya akan selalu tetap tenang dalam menghadapi sulitnya berbagai ujian hidup di dunia ini.

Ia akan tetap kuat dalam melewati badai cobaan dan juga tetap dekat kepada Allah Swt. saat dunia selalu menjauh darinya.

Ada satu niat kuat setan untuk menggoda kita sebagai manusia biasa yaitu ia selalu menggoda  kepada kita supaya lupa bahwa nikmat itu selalu ada, bahkan dalam musibah atau kita merasa terpuruk sekalipun.

Ibarat seperti seseorang yang melihat langit dengan penuh badai nan gelap dan kadang lupa bahwasanya sinar matahari selalu menunggu di balik awan itu.

Jadi ketika rasa syukur itu hilang, maka hati kita padam akan segala nikmat yang telah Allah Swt. limpahkan kepada kita.

Ketiga Syukur itu Perlu Kita Doakan, Bukan Hanya Diusahakan

Selanjutnya Allah Swt. mengabadikan doa Nabi Sulaiman di dalam Surat An-Naml ayat ke-19 yang artinya:

Baca Juga:  Kisah Jamuan Sederhana Wanita Miskin untuk Rasulullah

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap bersyukur atas nikmat-Mu…”

Dari ayat diatas kita belajar bersama bersama bukan hanya sekadar doa semata, akan tetapi suatu pelajaran penting bagi diri kita yaitu syukur bukan hanya soal kemampuan, akan tetapi sebuah anugerah yang Allah Swt. berikan.

Mingkun sering kali diri kita ini berusaha keras untuk senantiasa sabar, kemudian ikhlas, dan juga tawakal.

Akan tetapi untuk syukur, kita justru lupa meminta doa kepada Allah Swt. Karena tanpa adanya pertolongan Allah Swt., maka hati kita ini mudah untuk berubah, goyah, dan juga mengeluh.

Sebab dengan doa diatas mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa merendah kepada Allah Swt. dengan mengakui bahwa diri kita ini sangat lemah dan tidak bisa menjaga kebaikan tanpa adanya pertolongan oleh Sang Pemiliknya.

Keempat, Syukur Mengangkat Derajat Hidup Kita

Setelah memahami betapa pentingnya rasa syukur maka sikap kita pun sudah sepatutnya perlahan berubah.

Oke, mulai sekarang diri dan hati kita mulai melihat hidup bukan hanya sebagai rangkaian kejadian aca.k semata, akan tetapi sebagai kurikulum hidup dari Allah Swt yang disusun dengan presisi tanpa meleset sedikit pun.

Maka dari sini kita pun belajar tiga sikap ini yaitu:

  1. Bersyukur atas segala nikmat, bahkan yang tidak terlihat oleh kasat mata kita ini.
  2. Waspada terhadap setiap godaan halus, yang kadang sering muncul dari rasa kurang puas dan juga keluh kesah kita.
  3. Berdoa sungguh-sungguh kepada Allah Swt., memohon agar setiap detik rasa syukur selalu menetap di hati kita dan tidak pergi sepanjang sisa hidup kita di dunia ini.
Baca Juga:  Bumi yang Tak Baik-Baik Saja, Saatnya Kita Bermuhasabah

Terakhir, semoga kita menjadi seorang hamba yang mampu untuk senantiasa menjaga cahaya rasa syukur ini, hingga kelak Allah Swt. memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh, Aamiin. Semoga Bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5

Related Posts

Latest Post