Almuhtada.org – Setiap hari kita berlari, mengejar mimpi, mengejar nilai, mengejar pekerjaan, validasi, cinta hingga masa depan.
Kita sibuk menyusun rencana lima tahun ke depan, sibuk menata karier, sibuk membangun citra diri. Namun di tengah semua kesibukan itu, kapan terakhir kali kita benar-benar duduk tenang dan bertanya untuk siapa semua ini?
Kadang kita terlalu fokus pada apa yang ingin kita miliki, sampai lupa siapa yang sebenarnya memiliki semuanya.
Allah berfirman:
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ ١٨٩
Artinya : ”Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran: 189)
Semua yang kita kejar seperti jabatan, harta, pasangan, kesempatan pada hakikatnya bukan milik kita. Kita hanya dititipi. Kita hanya diberi kesempatan mengelola.
Ironisnya, kita sering bertingkah seolah dunia ini sepenuhnya ada dalam kendali kita. Ketika rencana gagal, kita marah. Ketika harapan tidak sesuai, kita kecewa berlebihan. Seolah-olah semua itu memang hak mutlak kita. Padahal, yang kita kejar hanyalah titipan dari Sang Pemilik.
Islam tidak melarang kita sukses. Tidak melarang kita bercita-cita tinggi. Bahkan bekerja keras adalah bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah. Namun masalah muncul ketika dunia menjadi tujuan utama hingga lalai akan kehidupan akhirat yang perlu di persiapkan dengan bekal maksimal di masa mendatang.
Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasulullah bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Artinya : ”Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
Hadis ini bukan melarang kita untuk mengejar dunia dan seisinya, tetapi meluruskan niat. Dunia boleh kita kejar, tetapi jangan sampai ia yang menguasai hati dan fikiran kita. Kita bekerja tanpa doa, kita berusaha tanpa tawakal, kita merencanakan tanpa melibatkan Allah.
Lalu ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, kita bertanya, “Kenapa hidup terasa berat?”
Padahal mungkin bukan hidupnya yang berat. Mungkin hati kita yang terlalu penuh dengan duniawi dan seisinya.
Ketika kita sadar siapa Pemilik dunia, kita tidak akan terlalu panik kehilangan. Kita tidak akan terlalu sombong saat memiliki. Karena kita tahu bahwa semua hanya titipan. Tidak salah menjadi ambisius. Tidak salah ingin hidup layak, ingin sukses, ingin dihargai. Namun, jangan sampai dalam perjalanan mengejar dunia, kita kehilangan arah pulang.
Karena jika dunia tidak kita dapatkan, itu hanya kehilangan sementara. Namun jika Allah tidak lagi menjadi prioritas, itu kehilangan yang jauh lebih besar. Maka kejar dunia dengan tanganmu, tapi gantungkan hatimu hanya kepada Allah Ta’ala sang pencipta alam dan seisinya. []Fitri Novita Sari











