Membentuk Jiwa Kepemimpinan melalui Ibadah Puasa

Seorang pebisnis memakai jas sedang menggunakan bidak raja putih catur di atas meja dengan bidak catur hitam(Freepik-almuhtada.org)

Almuhtada.org – Banyak orang menganggap Ramadan hanya soal menahan lapar dan haus. Padahal bulan ini bisa menjadi training ground terbaik untuk membentuk jiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan itu bukan hanya sekadar menjadi ketua organisasi atau punya jabatan tinggi. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah kemampuan mengatur diri sendiri, bertanggung jawab, dan membawa dampak baik untuk orang lain.

Coba bayangkan, selama kurang lebih 14 jam kita menahan diri dari makan, minum, bahkan emosi. Di sinilah letak latihan terbesarnya.

Kita sering dalam keadaan penuh semangat, tapi kadang juga gampang terbawa emosi ataupun suasana. Puasa mengajarkan kita untuk lebih sabar dan tidak mudah tersinggung.

Seperti ketika menjadi pemimpin, pemimpin yang baik itu bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling bisa mengendalikan dirinya.

Kalau kita bisa menahan lapar dan haus demi Allah, harusnya kita juga bisa menahan amarah, gengsi, dan ego.

Dari sini karakter pemimpin mulai terbentuk. Sesuai firman Allah pada Quran surat Al-Baqarah ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Saat puasa, kita merasakan lapar dan haus. Itu akan membuat hati lebih lembut dan peka terhadap kondisi orang lain. Rasa empati ini penting dalam kepemimpinan.

Baca Juga:  Meningkatkan Minat terhadap Sejarah Kebudayaan Islam

Kepemimpinan dalam Islam selalu terkait dengan keadilan dan kepedulian. Bahkan Rasulullah juga mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadan melatih disiplin dengan bangun sahur, menjaga waktu shalat, mengatur aktivitas. Tanpa sadar, kita sedang belajar manajemen diri.

Puasa juga melatih kejujuran. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah kita diam-diam minum atau tidak. Tapi kita tetap memilih jujur karena sadar Allah melihat. Inilah yang disebut integritas.

Ramadan adalah kesempatan emas untuk upgrade diri. Puasa membentuk takwa, dan takwa melahirkan kepemimpinan yang adil, jujur, dan penuh tanggung jawab.

Kalau kita bisa memaksimalkan Ramadan dengan sungguh-sungguh, maka bukan cuma pahala yang didapat, tetapi juga mental kuat dan jiwa kepemimpinan yang siap membawa perubahan.[] Nathasya Putri Ratu

Related Posts

Latest Post