almuhtada.org – Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mendapatkan perlakuan kurang baik dari seseorang, maupun berkonflik dengan orang lain dengan alasan tertentu. Dalam Islam, membalas hal buruk yang telah dilakukan oleh orang lain kepada diri kita dengan hal yang sama hukumnya boleh diberikan secara setara. Allah SWT. berfirman dalam QS An-Nahl ayat 126 yang berbunyi:
عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Jika kamu membalas, balaslah dengan (balasan) yang sama dengan menuangkan yang ditimpakan kepadamu. Sungguh, jika kamu bersabar, hal itu benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS An-Nahl:126)
Namun, seperti yang telah dijelaskan dalam ayat di atas, Allah Swt. berfirman bahwa bersabar atas perlakuan buruk orang lain itu lebih baik daripada membalas orang yang bersangkutan dengan keburukan yang sama. Salah satu bentuk kesabaran dalam menyikapi perlakuan buruk seseorang adalah dengan cara memaafkan. Perlu diketahui bahwa Allah Swt. menyukai orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Hal tersebut dijelaskan dalam QS Ali Imran ayat 134 yang berbunyi:
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ …
Artinya: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran:134)
Seperti yang telah dijelaskan dalam potongan ayat di atas, meskipun di dalam Islam kita diperbolehkan untuk membalas perbuatan buruk yang diberikan oleh orang lain kepada kita, dengan catatan kadarnya harus sama, tapi Allah Swt. lebih menyukai orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.
Meskipun Allah Swt. memang lebih menyukai orang-orang beriman yang memaafkan kesalahan orang lain, tapi perlu diketahui bahwasanya memaafkan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Terkadang luka emosional yang kita alami sering kali menghambat kita untuk membuka pintu maaf kepada orang yang bersangkutan. Lalu, balasan apa yang diberikan oleh Allah Swt. bagi hamba-Nya yang mampu memaafkan kesalahan orang lain? Simak penjelasan berikut dengan seksama!
Balasan yang diberikan oleh Allah Swt. bagi hamba-Nya yang mampu memaafkan kesalahan orang lain, seperti:
Mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, memaafkan kesalahan seseorang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Beberapa faktor, seperti luka emosional hingga harga diri dapat menghalangi seseorang untuk membuka pintu maaf bagi orang yang bersangkutan. Namun, jika seseorang mampu memaafkan kesalahan orang lain, maka orang tersebut akan mendapat balasan yang sangat besar dari Allah Swt. berupa kemuliaan pada diri orang tersebut. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat muslim no. 2588 yang berbunyi:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا …
Artinya: “…Tidaklah ada seseorang yang memberi maaf pada orang lain melainkan itu kemulian dia…” (HR. Muslim no. 2588)
Harga balasan berupa pahala yang berlimpah ruah dari Allah Swt.
Seperti halnya amal kebaikan yang lain, jika seseorang memaafkan kesalahan orang lain, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala. Namun, perlu digaris bawahi bahwasanya pahala yang didapat dari memaafkan kesalahan orang lain tergolong istimewa jika dibandingkan dengan pahala yang didapat dari amal kebaikan lainnya. Hal tersebut dijelaskan dalam QS Asy-Syuura ayat 40 yang berbunyi:
Artinya: “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (QS Asy-Syura:40)
Allah SWT. telah dijelaskan dalam QS Asy-Syuura ayat 40 bahwa pahala bagi orang-orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain akan mendapatkan pahala yang ditanggung oleh Allah Swt. Syaikh Ibnu Sa’di menjelaskan bahwasanya apa yang dimaksud menjadi tanggungan Allah Swt. adalah pahala dan ganjaran yang didapat sangat besar dan agung.
Semoga kita semua dapat melapangkan dada dan membuka pintu maaf kepada orang lain yang telah melakukan kesalahan kepada kita. Cukup sekian artikel yang dapat saya tulis, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada dalam artikel ini. [Muhammad Khoirul Anwar]











