almuhtada.org – Pernahkah kamu merasa begitu sakit sampai rasanya ingin membalas orang yang menyakiti mu, ingin orang itu merasakan luka yang sama seperti yang kamu rasakan?
Ya, menyakitkan memang. Apalagi jika yang melukai adalah orang yang kita percaya. Rasanya marah, kecewa, dan ingin membalas agar semuanya terasa adil. Perasaan itu manusiawi. Kita semua pernah ada di posisi itu.
Dalam Islam, membalas perbuatan buruk dengan setimpal memang diperbolehkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 40.
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
Ayat tersebut menerangkan bahwa balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Namun ayat itu juga menegaskan bahwa siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya ada di sisi Allah. Artinya membalas itu boleh tetapi memaafkan lebih mulia.
Sering kali kita berpikir bahwa memaafkan berarti kalah. Padahal Rasulullah menjelaskan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika marah. Menahan amarah justru membutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada sekadar membalas.
Dendam mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi sering kali hanya membuat hati semakin berat. Kita terus mengingat luka itu, memutarnya dalam pikiran, hingga tanpa sadar kebahagiaan kita ikut terampas. Sementara orang yang menyakiti kita belum tentu memikirkan hal yang sama.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Bukan pula berarti kita harus kembali seperti dulu. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak menyimpan kebencian. Kita tetap bisa menjaga batas, tetap bisa belajar dari pengalaman, tetapi tanpa dendam.
Dalam QS. Ali Imran ayat 134 disebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Bayangkan, ketika kita memilih memaafkan padahal kita mampu membalas, itu artinya kita sedang memilih jalan yang dicintai Allah.
Memaafkan memang tidak langsung menghapus rasa sakit. Namun perlahan, hati menjadi lebih ringan. Kita tidak lagi terikat pada kejadian itu setiap hari. Kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh dan tenang.
Saat hati terluka, kita selalu punya dua pilihan, membalas atau melepaskan. Membalas mungkin terasa memuaskan, tetapi memaafkan membawa kedamaian yang lebih dalam. Dan mungkin, di saat kita memaafkan orang lain, Allah sedang menyiapkan ampunan untuk kita. [] Siti Alawiya











