Mengenal Sosok Penegak Keadilan di Masa Bani Umaiyyah

foto seorang khalifah dari Bani Umaiyah yang terkenal dengan keadilannya dan kezuhudannya ( pinterest.com-almuhtada.com)

almuhtada.org- Pada masa kepemimpinan Bani Umayyah, terdapat sebagian pemimpin yang menyalahgunakan jabatan. Mereka hidup dalam kemewahan, berfoya-foya, dan menikmati harta dari baitul mal untuk kepentingan pribadi.

Namun keadaan tersebut berubah ketika tampuk kepemimpinan dipegang oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menghadirkan gaya kepemimpinan yang adil, sederhana, dan penuh kezuhudan.

Dikisahkan suatu malam beliau kedatangan tamu untuk membahas persoalan negara. Ketika mereka berbincang, lampu di ruangan hampir padam karena kehabisan minyak. Tamu tersebut menawarkan diri untuk menuangkan minyak dan menyalakan kembali lampu itu. Namun Umar menolak dan berkata, “Jangan, itu bukan urusanmu.”

Tamu itu kemudian menawarkan untuk membangunkan pelayan agar menyalakan lampu, tetapi Umar kembali menolak dengan berkata, “Jangan ganggu pelayanku yang sedang beristirahat.”

Akhirnya, Umar sendiri yang mengambil minyak dan menyalakan lampu tersebut. Sang tamu merasa heran lalu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau tidak membiarkanku atau menyuruh pelayanmu saja? Bukankah engkau seorang khalifah?”

Umar menjawab dengan penuh kerendahan hati, “Aku adalah manusia biasa. Ketika aku duduk, aku harus berdiri untuk mengerjakan sesuatu. Dan ketika aku berdiri, aku pun akan kembali duduk. Jabatan tidak menjadikanku berbeda dari manusia lainnya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang memimpin dengan keadilan, kesederhanaan, dan tanggung jawab yang tinggi bukan kesewenang-wenangan dan kemewahan

Baca Juga:  Mengenal Pentingnya Sikap “Zuhud” dalam Kehidupan Sehari-hari

Kisah lainnya terjadi ketika beliau diangkat menjadi khalifah. Banyak petinggi Bani Umayyah datang memberi selamat dan berharap Umar melanjutkan tradisi hidup mewah di istana, dikelilingi pelayan, serta menikmati kekayaan baitul mal.

Namun Umar justru naik ke mimbar dan berkata kepada rakyatnya:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah. Kini aku diamanahi memimpin kalian. Jika aku berlaku zalim, maka luruskan dan tegurlah aku.”

Ucapan tersebut membuat masyarakat tertegun. Sebab sebelumnya, banyak pemimpin yang bertindak sewenang-wenang tanpa mau dikritik.

Beliau juga memanggil istrinya, Fatimah, dan berkata, “Wahai istriku, jika engkau ingin tetap bersamaku, maka tinggalkanlah seluruh kemewahan dan harta yang engkau miliki. Namun jika engkau memilih kehidupan mewah, maka tinggalkanlah aku.”

Fatimah yang merupakan putri dari keluarga bangsawan Bani Umayyah menangis, namun ia memilih tetap bersama suaminya demi mencari ridha Allah. Ia berkata, “Demi Allah, kehidupan dunia ini tidaklah kekal. Aku memilih hidup bersamamu untuk meraih ridha Allah.”

Seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang duduk di singgasana dengan kemewahan, melainkan mereka yang memimpin dengan hati, keadilan, dan rasa takut kepada Allah. Kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar jabatan untuk dinikmati. Hal ini juga dijelaskan dalam surah An-Nisa ayat 58

 إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Baca Juga:  Kisah sahabat Tamim Addari yang Pernah Berjumpa dengan Dajjal

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha melihat.

Surah An-Nisa ayat 58 menegaskan perintah Allah SWT untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya dan menegakkan keadilan. Ayat ini menekankan bahwa amanah mencakup tanggung jawab spiritual, sosial, dan jabatan, serta menuntut keadilan objektif tanpa pandang bulu, didukung oleh kesadaran pengawasan Allah.

memberi perintah sesuai dengan kehendaknya, melainkan mampu mengarahkan, membimbing, serta menjadi teladan yang baik bagi rakyat yang dipimpinnya. Tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar, karena setiap kebijakan dan tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun kelak pada hari perhitungan (yaumul hisab).

Oleh sebab itu, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh integritas, keadilan, dan rasa tanggung jawab.[]Dwi Alfa Nora

 

Related Posts

Latest Post