almuhtada.org – Seorang nabi besar sekelas Nabi Ibrahim AS pernah mengajukan pertanyaan yang sangat kritis kepada Allah SWT tentang bagaimana Ia menghidupkan sesuatu yang telah mati. Pertanyaan yang tidak terduga ini diabadikan dengan indah di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 260. Mengapa rasul pilihan yang bergelar Khalilullah (Kekasih Allah) ini mengajukan pertanyaan tersebut? Apakah Nabi Ibrahim meragukan kekuasaan Allah?
Kisah pembuktian ini diceritakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an yang jika dituliskan akan menjadi seperti ini:
Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”
Allah: “Belum percayakah engkau?”
Nabi Ibrahim: “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).”
Allah: “(Kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.”
Allah: “Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Mengapa Nabi Ibrahim berani bertanya demikian? Nabi Ibrahim bertanya sama sekali bukan karena beliau meragukan kekuasaan Allah SWT. Berdasarkan penjelasan dalam Tafsir Kementerian Agama dan Tafsir Ibnu Katsir, Nabi Ibrahim mengajukan permohonan tersebut murni karena ingin menaikkan derajat imannya dari sekadar keyakinan teori (‘ilmul yaqin) menuju keyakinan visual (‘ainul yaqin) dengan melihatnya secara langsung.
Dalam khazanah keislaman, terdapat tiga tingkatan keyakinan:
- ‘Ilmul Yaqin: Yakin karena mengetahui ilmunya, mendengar kabarnya, atau mempelajari teorinya.
- ‘Ainul Yaqin: Yakin karena mengobservasi dan melihat langsung bukti kebenaran tersebut dengan mata kepala sendiri.
- Haqqul Yaqin: Yakin karena telah mengalami, menyentuh, dan merasakan sendiri kebenaran tersebut secara mutlak.
Apa maksud dari kisah eksperimen ini? Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, manusia pada dasarnya memang diberikan kebebasan berpikir dan bertanya kepada Allah untuk mendapatkan kejelasan batin yang memperkuat keyakinannya. Kisah ini hadir untuk memfasilitasi akal manusia melalui bukti nyata.
Di dalam Tafsir Al-Mishbah, disebutkan bahwa mayoritas ulama menafsirkan perintah eksperimen ini dengan meminta Nabi Ibrahim menyembelih empat burung, mencincangnya, mencampur aduk bagian-bagian tersebut, lalu membaginya dan meletakkannya di atas bukit-bukit yang terpisah.
Menurut Tafsir As-Sa’di, pemisahan potongan tubuh di bukit-bukit yang berjauhan ini bertujuan agar proses kebangkitan burung-burung itu kelak tampak nyata, disaksikan dengan sangat jelas, dan menepis segala dugaan bahwa itu hanyalah sebuah tipu daya visual.
Untuk memahami inti dari peristiwa ini dengan lebih sederhana, dapat digunakan analogi seperti ini. Bayangkan kalian memiliki seseorang memiliki ibu yang sangat ahli memasak. kalian sudah percaya sepenuhnya dan tidak meragukan sedikit pun bahwa ibu kalian bisa membuat masakan yang paling lezat di dunia.
Suatu hari, kalian meminta ibu kalian untuk diperlihatkan secara langsung bagaimana proses meracik bumbu dan memasak hidangan tersebut. Kalian meminta hal terse ut bukan karena meragukan kemampuan ibu kalian bukan? Namun untuk mengetahui bagaiman prosesnya agar keyakinan kalian meningkat.
Hikmah yang bis akita ambil adalah bahwa memiliki pertanyaan kritis di pikiran tentang bagaimana kebesaran Tuhan bekerja bukanlah sebuah dosa atau pertanda iman kita lemah. Asalkan niatnya murni untuk belajar dan mencari bukti demi mempertebal keyakinan, hal tersebut justru bisa menjadi jalan yang indah untuk memantapkan ketenangan di hati kita
Iman yang kuat tidak selalu lahir dari ketiadaan pertanyaan. Terkadang kita butuh bertanya dan mencari tahu, agar hati bisa memeluk keyakinan tersebut dengan jauh lebih tenang. Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini]











