Mengapa Manusia Lebih Dipilih sebagai ‘Khalifatul Ardhl’ Daripada Malaikat?

Bumi sebagai tempat manusia mengemban amanah suci sebagai khalifatul ardhl (freepik.com - almuhtada.org)

almuhtada.org-Kisah turunnya Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa ke bumi sering disalahpahami sebagai satu-satunya alasan mengapa manusia turun ke bumi. Bahkan, peristiwa tersebut sering menjadi “dalil” untuk merendahkan wanita dengan narasi bahwasannya jika saja Hawa tidak bersikeras memakan buah Khuldi, umat manusia pasti masih kegirangan di surga.

Namun, peristiwa turunnya Nabi Adam dan Siti Hawa ke bumi bukanlah sebuah kecelakaan belaka, melainkan hal tersebut merupakan bagian dari skenario agung yang telah ditetapkan Allah Swt. Sejak awal, Allah memang telah merencanakan manusia pertama dan keturunannya untuk menjadi khalifah (pemimpin, pengelola, atau mandataris) di muka bumi.

Lantas, dari uraian tersebut kita mungkin merasa penasaran mengapa Allah memilih manusia, yang memiliki nafsu dan potensi berbuat kerusakan, dibandingkan dengan malaikat yang terkenal taat dan suci?

Inilah hikmah mendalam di balik keputusan Ilahi tersebut.

Hikmah yang Tersembunyi dari Para Malaikat

Syekh Abdul Wahab an-Najjar dalam kitabnya Qasas al-Anbiya’ menjelaskan bahwa pengangkatan Adam sebagai khalifah mengandung hikmah ketuhanan yang sangat luhur, yang awalnya tersembunyi dari para malaikat.

Intinya terletak pada sifat dasar penciptaan. Seandainya Allah menunjuk malaikat sebagai khalifah di bumi, mereka tidak akan pernah bisa mengungkap dan memanfaatkan rahasia-rahasia yang tersimpan di alam raya. Mengapa? Karena malaikat diciptakan dalam kondisi yang sama sekali berbeda dengan manusia.

Baca Juga:  Apakah Zakat dan Sedekah Bisa Menghapus Kemiskinan Kita?

Hal ini sangat berkaitan erat dengan sifat para malaikat yang merupakan makhluk yang diciptakan tanpa nafsu dan tanpa kebutuhan material. Mereka tidak memiliki ambisi untuk membangun, mengubah, atau mencari kenyamanan di bumi.

Kebutuhan untuk Menggali dan Membangun

Tugas khalifah adalah memakmurkan dan mengelola bumi. Mandat ini hanya akan efektif jika dipegang oleh makhluk yang memiliki kebutuhan, keinginan, dan dorongan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Karena malaikat tidak membutuhkan apa pun dari bumi, mereka tidak akan pernah menjalankan peran ini.

Menurut Syekh Abdul Wahab an-Najjar, jika malaikat yang menjadi pemimpin di bumi, konsekuensinya tidak akan ada pembangunan fisik, pengelolaan alam, atau penemuan ilmu.

Semua kemajuan dan ilmu pengetahuan yang kita nikmati saat ini membutuhkan bertahun-tahun penelitian dan penemuan. Lahir dari kebutuhan dan ambisi yang tertanam dalam diri manusia. Inilah yang membedakan manusia dari malaikat. Hal ini menjadikan manusia makhluk yang paling cocok untuk mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. [] Moh. Zadidun Nurrohman

 

 

Related Posts

Latest Post