almuhtada.org – Siapa nih yang sekarang dirinya ngerasa gak pantas banget di titik ini, terutama pada diri sendiri? Aku! Secara kan kita manusia di mana ada fase kita bakal ngerasa down banget yang menyebabkan ada nya pikiran overthinking bersarang di kepala dan hari terasa lebih berat dari biasanya. Tenang, semua itu wajar. Kita merasa lelah sama diri sendiri dan ada keinginan untuk menghilang sejenak dari riuhnya dunia.
Apakah merasa lemah itu salah, ya? Pernah gak sih kalian mikir gitu. Aman guys boleh kok kita merasa lemah dan lelah di saat-saat down, toh kita bukan robot kita hanyalah manusia yang memiliki ego yang rapuh. Namun hal itu tidak menjadikan alasan kita terpuruk terlalu dalam, sedalam pikiranku mengingatmu. Enggak ya guys, terkadang kita rapuh sebagai masa istirahat supaya dapat nge-booster kembali energi yang terlalu lama di gas dengan mundur satu langkah sebelum kembali melangkah.
Di satu titik ini akhirnya menenangkan diri di tengah cepatnya poros berlari di dunia dibanding bagaimana kita menyejajarkan langkah kita sampai berlari terlalu jauh hanya untuk menyelaraskan diri dengan standar manusia pada zamannya. Bukankah ada begitu banyak hal-hal sebagai patokan standar yang orang kata itu minimal standar dari kualifikasi diri kita. Seperti halnya tuntutan-tuntutan yang mendengung meresahkan kita.
Sebagai manusia yang memiliki Tuhan yakni Allah Swt. Pasti lah ada larangan maupun sesuatu kewajiban yang perlu kita lakukan dan hindarkan. Tidak ada manusia yang baik seutuhnya namun begitu pula tidak ada manusia yang jahad seutuhnya. Manusia baik terkadang berubah menjadi jahat karena manusia lain dan lingkungan nya begitu pula sebaliknya. Kita perlu memahami hal itu. Ngejudge orang karena hal kecil? Lebih baik kita mendukung dan menuntun orang itu.
Menurut Nur Hidayani, manusia bukanlah Malaikat yang selalu taat. Namun pada saat yang sama, manusia juga bukan setan yang selalu maksiat. Kedua potensi ini terus dan selalu berkompetisi yang kemudian melahirkan fluktuasi keadaan jiwa manusia. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari proses fluktuatif ini, bahkan Rasulullah Saw menyadari bahwa betapa hawa nafsu menarik begitu kuat untuk melakukan hal-hal yang terlarang.
Dalam Al Quran disebutkan: “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).
Jadi tidak ada manusia yang sempuna, manusia yang taat adalah kita yang mau selalu bertaubat dan menyadari kesalahan hingga berusaha merubah diri menjadi pribadi yang dicintai Allah SWT. Tidak perlu yang harus langsung sempurna. Pelan-pelan saja namun memiliki progress yang nyata. []Bening Hilmia











