almuhtada.org – Luka hati yang disebabkan oleh kejadian masa lalu, berkaitan dengan orang yang sudah memberi trauma, memanglah tidak mudah hilang. Seringkali hati ini berlarut-larut hingga memenuhi isi kepala hampir setiap detiknya, membentuk rasa kesal, bahkan tidak mungkin menimbulkan rasa balas dendam yang menimbulkan keinginan agar orang tersebut merasakan hal menyakitkan yang pernah dirasakan.
Hal ini mempengaruhi bagaimana masa depannya dalam menjalani hidup. Jika dan hati hanya berisikan dendam, maka tujuan hidup justru akan berpaku pada bagaimana cara bisa lebih unggul dari orang yang menyakiti atau bagaimana membuat orang tersebut menyesal telah melakukan hal yang merugikan mental. Padahal itu justru menambah merugikan diri sendiri. Bagaimana tidak? yang seharusnya bisa menikmati hidup, menjalankan sesuai yang diinginkan, dan tidak memaksakan diri, malah memikirkan cara agar bisa membalas dendam kepada orang lain setiap hari.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan , “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Anggaplah mereka yang sudah menyakiti itu hilang, dan tidak pernah ada dalam hidup. Fokuslah pada bagaimana cara membahagiakan diri sendiri, dan jangan biarkan mereka menguasai isi pikiran . Tidak usah berpikir bagaimana cara menunjukkan bahwa diri itu hebat, melakukan saja apa yang mau, dan jauhi orang yang membuat tidak nyaman. Cukup membahagiakan diri sendiri dan menenangkan pikiran juga hati yang sempat dibuat lemah oleh orang lain. Ingatlah bahwa Allah mencintai hamba yang hatinya bersih. Semakin menjaga hati dari balas dendam, semakin lapang pula jalan hidupmu.
Lebih baik lagi jika mau berdamai dengan keadaan. Memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain dan menjalani hidup dengan kebaikan agar keburukan yang terjadi Anda tidak menimpa orang-orang di sekitar Anda. Dari memaafkan justru memberikan dampak baik karena orang yang menyakitimu akan merasa lebih bersalah ketika justru berbuat baik padanya. Atau bisa jadi mereka menggila sendiri karena melihat kamu bahagia.
Bahkan dalam beberapa kasus orang yang dulunya saling membenci malah menjadi akrab ketika api amarah sudah padam. Itulah pentingnya memaafkan, sesuai firman Allah pada QS. An-Nur ayat 22
وَلۡیَعۡفُوا۟ وَلۡیَصۡفَحُوٓا۟ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن یَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۗ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ
Artinya: “Dan hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Bukankah Allah ingin mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan bukan hanya tindakan mulia, tetapi juga jalan untuk mendapatkan ampunan Allah. []Nathasya Putri Ratu










