Almuhtada.org – Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk beragama islam, sehingga kebanyakan susunan acara yang diadakan di Indonesia terdapat pembacaan ayat suci Al-Quran.
Ketika Qari sedang melantunkan ayat suci tersebut, bagaimanakah respon yang harus kita berikan untuk lantunan tersebut?
1. Diam fokus memperhatikan dan mendengarkan
Al-Quran surat Al-A’raf ayat 204 Allah berfirman:
وَإِذا قُرِىءَ القُرآنُ فَاِستَمِعوا لَهُ وَأَنصِتوا لَعَلَّكُم تُرحَمون
“Dan ketika Al-Qur’an dibaca, maka dengarkanlah secara fokus dan diamlah. Semoga kalian dirahmati.” (QS Al-A’raf: 204)
Salah satu adab dalam mendengarkan ayat Al-Quran salah satunya dengan diam dan fokus pada bacaan.
Cara mengusahakannya dengan tidak tertawa, berbisik, dan ngobrol dengan yang lain tanpa ada keperluan.
Tidak hanya karena perintah diam dan fokus, dengan tertawa, berbisik, dan ngobrol juga dapat mengganggu orang lain untuk mendengar dan fokus.
Surat Al-Mu’minun ayat 68 Allah berfirman “Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?”
Memperhatikan dalam ayat tersebut dapat dimaknai sebagai berusaha merenung, menghayati makna dari ayat yang didengarkan.
2. Menghormati pembacanya
“Dan hendaknya orang-orang yang mendengarkan Al-Qur’an mengagungkan para pembacanya, memuliakannya, mengurus keperluannya, dan menjaga etika kepada mereka sebagaimana menjaga etika di hadapan Nabi SAW andaikan ia hadir.
Karena para ahli Al-Qur’an telah mewarisinya sebagaimana Al-Qur’an telah diwaris langsung dari Nabi saw.” (Fathul Mannan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hlm. 6)
Berdasarkan penjelasan kitab tersebut, maka memberikan penghormatan kepada pembacanya dapat dilakukan dengan mengurus keperluannya, memberikan hadiah yang pantas dan mendoakan kebaikan untuknya.
Memberikan hadiah yang pantas juga perlu diperhatikan cara memberinya yang beradab, tidak seperti yang sempat viral mengenai seorang Qari yang disawer acara hiburan pada umumnya termasuk cara yang salah karena kurang pantas.
3. Tidak membuat kegaduhan
Surat Fusillat ayat 26, “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”.
Banyak dari masyarakat Indonesia dalam pembacaan ayat tersebut memberikan jawaban “Allah” atau kalimat thayibah untuk menunjukkan pujian.
Walaupun kalimat thayibah baik untuk diucapkan, tetapi jika diucapkan tidak pada waktunya seperti saat ada orang yang membaca Al-Quran dapat menjadi sebuah kegaduhan yang dapat mengganggu orang lain yang sedang mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
4. Tidak menganggap enteng ayat yang dibacakan
“Di antara maksiat hati adalah menganggap enteng atau biasa terhadap sesuatu yang diagungkan oleh Allah, dan menganggap kecil pada hal-hal yang diagungkan oleh Allah, seperti ketaatan, maksiat, Al-Qur’an, ilmu syariat, surga atau neraka.
Semua hal itu termasuk maksiat yang membinasakan dan menghancurkan.
Bahkan sebagiannya ketika dilakukan dengan tujuan menertawakan atau menghinanya maka bisa menyeret pelakunya kepada kekufuran.
Kita memohon perlindungan kepada Allah dari semua itu.” (Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil As-Syafi’i, Is’adur Rafiq wa Bughyatut Tashdiq, [Al-Haramain], juz II, halaman 56).
Jadi, dalam mendengarkan ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Qari kita harus mendengarkannya, memperhatikan, tidak membuat kegaduhan dan menganggap enteng ayat yang dibacakan oleh Qari tersebut.
Memberikan pujian juga tidak sepatutnya kita lakukan dengan memberikan pujian di pertengahan saat dia membaca atau memberikan tepuk tangan setelah pembacaan karena salah satu adabnya juga dengan menghormati pembacanya seakan-akan menjaga etika di hadapan Nabi (jika hadir).
Demikian sedikit pembahasan mengenai etika mendengar Qari membaca ayat Al-Quran dalam acara. Semoga bermanfaat. Walllahu A’lam. []Shofiyatul Afiyah