almuhtada.org – Ada masa ketika kita merasa tanggung jawab datang terlalu cepat, terlalu besar, atau terlalu berat, kita takut gagal menjalankan tugas dengan baik. Takut membebani diri sendiri. Takut tidak mampu membagi waktu.
Bahkan takut kalau keputusan yang kita ambil nanti akan berdampak pada orang lain. Yang bikin lebih berat adalah kita nggak bisa lari dari tanggung jawab itu. Ia sudah ada di tangan kita. Sudah menjadi bagian dari peran, amanah, dan kepercayaan yang orang lain titipkan.
Dan di titik itu, ketakutan berubah menjadi beban yang diam-diam memakan energi.
Amanah Itu Datang Karena Ada Kemampuan di Baliknya
Terkadang rasa takut dalam memikul amanah muncul bukan karena kamu tidak sanggup, tapi karena kamu terlalu peduli.
Kamu ingin amanah ini berjalan baik. Kamu ingin melakukan sesuatu dengan benar. Dan ini tanda kamu manusia yang sadar akan konsekuensi.
Salah satu hal paling menenangkan dalam hidup seorang muslim adalah keyakinan bahwa amanah tidak pernah salah alamat.
Kita tidak selalu merasa mampu, tapi Tuhan selalu tahu kapasitas kita lebih baik dari diri kita sendiri.
Allah Swt. mengingatkan kita dalam Al-Qur’an.
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan. Ini penegasan: kalau suatu amanah sampai ke kamu, itu berarti kamu memang mampu, meski belum melihat kemampuan itu sekarang.
Kadang kita baru sadar kekuatan kita justru setelah amanah itu selesai.
Self-Love di Tengah Beratnya Beban
Banyak orang mengira menerima amanah berarti harus menyelesaikannya dengan sempurna.
Padahal, amanah hanya meminta kita berusaha dengan jujur, bukan menyiksa diri untuk sempurna.
Kita memerlukan self-love di tengah semua beban yang datang tanpa aba-aba ke diri kita.
Self-love bukan berarti menghindari tanggung jawab. Self-love adalah menerima tanggung jawab sambil menjaga diri tetap waras.
Cara menerima amanah tanpa mengorbankan diri:
- Akui bahwa kamu takut, tapi tetap jalan.
- Bagi tugas menjadi langkah kecil yang bisa dilakukan.
- Jangan memikul seluruh tekanan sendirian, komunikasikan jika butuh bantuan.
- Izinkan diri untuk salah, belajar, dan bangkit.
- Sisihkan waktu untuk istirahat, walau sebentar.
- Apresiasi diri untuk setiap langkah baru yang sudah berhasil kamu lewati, nggak harus besar.
Kamu bukan robot. Kamu manusia yang sedang mencoba menjalankan sesuatu sebaik mungkin. Itu sudah cukup.
Amanah memang berat. Kadang menyesakkan. Kadang membuat kita ingin berhenti.
Tapi justru dari amanah-amanah beginilah Allah membentuk kamu jadi seseorang yang lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih kuat.
Pelan-pelan saja. Napas dulu. Lalu lanjutkan.
Sampai satu hari nanti kamu menoleh ke belakang dan bilang:
“Ternyata aku sanggup, ya. Aku kuat lebih dari yang kukira.”
Wallahu a’lam bishawab. [] Rezza Salsabella Putri











