Almuhtada.org – Sebagai manusia, kita pasti punya rancangan masa depan yang ingin kita wujudkan. Oleh karenanya, kita menempuh sebuah jalan untuk sampai kesana. Jalan itu ada kalanya berbentuk peluh yang kita perjuangkan, ada kalanya berbentuk materi yang harus kita rogoh dari saku terdalam, dan ada kalanya berbentuk doa yang kita panjatkan lewat sujud akhir yang panjang. Semuanya berkesinambungan, tinggal Allah yang menentukan.
Tanpa kita sadari, harapan yang kita miliki telah menjadi sumber kekuatan bagi diri kita. Kita tidak pernah tahu apa yang Allah tetapkan dan tuliskan sebagai takdir kita. Kita tidak pernah tahu, resiko apa yang akan kita dapatkan dari harapan yang kita inginkan.
Namun, kita tetap berusaha, bekerja, dan berdoa. Mengesampingkan probabilitas buruk yang bisa terjadi. Karena begitulah eksistensi cara kerja manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.
Bekerja dulu baru menikmati hasilnya. Kecewa dulu akan harapan yang tidak terkabul, baru kemudian tahu bahwa tidak selamanya harapan yang kita inginkan baik untuk diri kita. Sejatinya hanya Allah yang benar-benar tahu tentang hamba-Nya.
Dari yang tadi disampaikan, kita bisa menggaris bawahi, bahwa ketidaktahuan manusia akan masa depannya adalah salah satu karunia yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana, tidak? Dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian masa depan, ada harapan yang tumbuh dalam hati. Ada langkah yang tetap maju. Dan ada mimpi yang dirajut ulang.
Seseorang tetap bangun pagi dan pulang malam untuk bekerja. Seseorang tetap membuka kedai hari ini walaupun ia tahu omsetnya tidak pernah naik. Seseorang tetap berbuat baik kepada orang lain, walaupun tidak tahu balasan apa yang akan ia dapatkan. Semua itu karena mereka punya harapan akan kehidupan dan ketidaktahuannya pada masa depan.
Coba seandainya manusia mengetahui masa depannya, mungkin ada banyak hal yang akan ditinggalkan tanpa dicoba terlebih dahulu. Siapa yang mau mencoba ketika tahu dia akan gagal? Siapa yang mau terus mengejar mimpi ketika tahu mimpinya akan kandas di tengah jalan? Dan siapa yang akan terus berdoa ketika tahu Allah punya rencana lain untuknya Justru, pengetahuan akan masa depan akan melumpuhkan indahnya harapan yang membentuk seseorang.
Barangkali memang hasil akhir bukanlah harapan yang kita inginkan. Akan tetapi, meskipun demikian, manusia tetap harus punya sebuah harapan. Karena harapan bukan berarti menutup mata dari kenyataan pahit, melainkan keberanian untuk terus melangkah maju, walaupun ada ketidakpastian di depan sana. Selama masa depan masih bisa diharapkan, selalu ada ruang bagi sesuatu untuk berubah. [] Nihayatur Rif’ah











